
Pertama kalinya Tiara masuk ke dalam rumah keluarga hermawan, rumah yang besar, yang jauh berbeda dengan rumahnya yang kecil di malang.
" Ini yang namanya non Tiara??" tanya dua orang asisten rumah tangga bersamaan, mereka terlihat gemas dengan Tiara.
" jauh jauh kalian, nanti anakku takut.." ujar Hangga tidak melepaskan tangannya dari putrinya,
" yoh yoh.. mentang mentang punya anak.. Kok kemaruk tho mas..." sahut salah satu asisten rumah tangga yang sudah belasan tahun bekerja pada keluarga hangga,
" persis mas Hangga yoo.. gemes..! Jiwit sek setitik..?" si asisten berusaha mencubit pipi tiara, tapi Hangga menghalanginya,
" wes wes! kono ibu ibu masak di dapur.." ujar Hangga, menggendong Tiara agar tidak di kerumuni orang orang dirumahnya.
" Itu siapa yah?" tanya Tiara yang berada di atas lengan hangga, tangan kekar itu kuat menopang tubuh putrinya yang mungil.
" itu bik warni, sama bik suri.. mereka kerja disini, kalau tia mau sesuatu, kalau ayah tidak ada, boleh bicara pada mereka,"
" bunda kemana?" sedari tadi gadis kecil itu mencari bundanya,
" bunda nanti sore kesini, bunda masih dirumah pak Dhe yudi.."
" kok bunda dirumah pak dhe Yudi??"
" iya, bunda ada urusan, nanti ayah jemput..
sekarang tia mau apa? Mau makan kue?" Tiara menggeleng,
" tante hanum mana?" tanya Tiara,
" tante di kamar, mau ke tante hanum?"
Tiara mengangguk,
melihat anggukan itu Hangga mengantarkan putrinya ke kamar adiknya.
Rani sudah bersiap, ia sudah menunggu hangga menjemputnya, hari ini ia tampil biasa saja, tapi menurut Danu Kirani cantik sekali dengan setelah dress putih dengan bunga biru kecil itu, rambutnya yang panjang di buatkan terurai rapi begitu saja.
" Bahaya, kau cantik sekali hari ini.." ujar Danu sembari menggelengkan kepalanya,
" alah.. Lambemu dan.." balas Rani tertawa, baginya ucapan Danu itu sudah biasa, sejak kecil ia sudah sering mendengarnya.
Tak lama mobil hangga datang, laki laki itu keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke halaman.
Melihat ibu putrinya begitu cantik hari ini tentu saja ia takjub, tapi rasa takjubnya hilang saat ia melihat Danu duduk di teras bersama dengan Kirani.
" Sudah siap?" tanya Hangga dengar raut datar,
" sudah.." jawab Rani bangkit,
" mas Yudi kemana?"
" mas yudi lembur, belum pulang.. aku sudah pamit dengan mbak rinta, ayo berangkat saja.." ujar Rani,
__ADS_1
" ya sudah.." jawab Hangga kembali ke arah mobilnya tanpa menyapa Danu,
melihat itu danu nyengir,
" kelakuan bapak anakmu.." ujar Danu,
" biarkan saja.. aku berangkat dulu ya dan..?" pamit Rani,
" hemm.. Jaga dirimu disana, kalau ada apa apa telfon.." ujar Danu.
Di sepanjang jalan Hangga terus saja diam, rupanya ia masih saja kesal melihat danu.
" Tiara sudah makan?"
" sudah," jawab Hangga pendek,
" di pakai baju apa?"
" mama membelikan dia baju, cantik kok jangan khawatir," jawabnya lagi lagi datar.
Lama situasi hening, hingga akhirnya hangga berkata,
" perkataannya yang terakhir kali rupanya tidak kau hiraukan ya?"
" soal apa?" tanya Rani tidak mengerti,
" soal laki laki itu,"
" siapa lagi,"
" kau kenapa sih?"
" kau yang kenapa? Laki laki itu terus saja menempel padamu?" ujar Hangga tanpa menoleh, ia fokus menyetir.
" aku dan danu jarang bertemu, wajar saja sekalinya bertemu kami ngobrol,"
" ah, tidak masuk akan untukku."
" itu karena kau tidak punya teman baik,"
mendengar itu hangga diam, tak menjawab, ia memang tidak punya teman baik sedari dulu, karena ia cukup menjaga pergaulannya.
" Mana ada laki laki dan perempuan berteman sampai sebegitu nya?" hangga masih protes,
" buktinya ada kan?,"
" selalu berakhir dengan cinta."
" ah, pikiranmu saja,"
" bukan pikiranku saja, tapi selama aku kuliah dulu itu yang terjadi,"
__ADS_1
" jadi kau selalu pacaran dengan teman perempuanmu?"
" ngawur!"
" lalu?" Rani tertawa mengejek Hangga,
" aku selalu tulus berteman dengan mereka, tapi mereka saja yang mengubah perasaannya dari teman menjadi perhatian yang aneh dan ujung ujungnya meminta sesuatu hubungan yang lebih,
apa kau kira itu menyenangkan?"
" ah mana aku tau, aku tidak pernah begitu.." lagi lagi rani tersenyum tipis.
" Kau mengejekku?"
" tidak,"
" iya, kau mengejekku, aku melihat senyummu itu meski sepintas," ujar Hangga yang sempat melirik Rani.
" Aku hanya tersenyum, menurutku pemikiranmu itu aneh.." Rani membela diri,
" aneh?"
" tentu saja, di luar sana banyak laki laki dan perempuan yang berteman sampai kakek nenek tanpa melibatkan perasaan cinta?"
mendengar itu hangga berdecak,
" tapi tidak dengan si danu itu,"
" dia begitu karena ingin melindungiku,"
" melindungimu? Dari siapa? dariku?"
" dari siapa saja yang berniat menyakitiku.."
" aku? Menyakitimu? kita bahkan punya anak bersama?"
sekarang Rani yang diam,
" aku tau kenapa dia begitu, karena statusmu.."
" kok bawa bawa status??" Rani mengerutkan dahinya,
" karena kau sendirian, coba kau bersuami, mana berani dia?"
" dia tidak begitu,"
" itu sebabnya kau terus menolakku? Ingin bebas, dan berteman sesukamu dengan danu atau siapapun itu?"
" semakin kurasakan semakin tajam kata katamu?" Rani menatap hangga, mendengar kata kata Rani, hangga sedikit menurunkan tekanannya.
" ke depannya kita akan sering bertemu, jadi jagalah dirimu dari hal hal yang bisa membuat orang lain salah faham.. Itu saja.." suara Hangga lebih tenang,
__ADS_1
" bilang saja secara langsung kalau aku tidak boleh bertemu laki laki lain selain dirimu?" tandas Rani, membuat hangga hanya menghela nafas panjang dan diam.