
Keduanya mendapatkan tamparan yang keras dari Hermawan.
Hermawan tidak lagi perduli mana yang wajahnya terluka lebih banyak, baginya memberi pelajaran untuk keduanya adalah yang terbaik.
" Apa keluhan kalian ha?!!" suara Hermawan lantang, ia berdiri di depan kedua putranya, mendengar suara sekeras itu hanum sengaja menyalakan suara film lebih keras di kamarnya agar anak anak tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Sementara si mama dan santi berdiri jauh dari ketiganya, tak ada seorangpun dari mereka yang berani mendekat.
" Kelakuan kalian seperti bukan saudara!!" tegas papanya lagi.
" Memalukan!" imbuh papanya sudah di ubun ubun, tangannya bahkan masih panas bekas menampar wajah kedua putranya.
Hangga tertunduk, dengan luka di ujung bibirnya,
gentapun begitu, ia tertunduk dengan bibir dan tulang pipi yang mulai terlihat bengkak, namun bedanya masih ad rasa tidak terima di hati genta.
" Sekarang katakan padaku, kenapa kalian saling memukul?" tanya papa mereka dengan nada lebih rendah.
Tak ada yang menjawab, keduanya membisu, tidak lucu jika papanya tau mereka sedang memperebutkan Kirani.
" Tidak ada yang mau membuka mulut?" tanya papanya kesal,
" baiklah.." papa mereka mengambil nafas panjang, lalu duduk di sofa panjang di depan mereka berdua.
" Kenapa kau memukul adikmu?" tanya papa pada genta,
awalnya genta diam, tapi lama lama ia membuka mulutnya,
" Hangga yang menyinggungku pa,"
" menyinggungmu? Perihal apa?" tanya papanya mengerutkan dahi,
" dia.. dia.." genta tidak sanggup melanjutkan kalimatnya,
" dia kenapa?!" tegas papanya.
" Dia mempertanyakan kelahiran Tiara pa." sahut Hangga cepat, membuat papanya memandangnya sejenak, lalu kembali memandang genta.
" Mempertanyakan kelahiran tiara bagaimana?" tanya papanya,
__ADS_1
" dia menyalahkanku karena menghamili rani," jawab Hangga, membuat suasana seketika senyap.
Mamanya dan santi bahkan bisa mendengar pembicaraan itu dengan jelas.
Hermawan sontak menatap putra tertuanya,
" kau masih saja tidak rela?" tanya papanya, namun genta tak menjawab, meski diam, terlihat sekali matanya yang sangat tidak terima itu.
" Bukankah kau seharusnya bersyukur? Adikmu yang usianya sudah tidak muda lagi ini ternyata memiliki seorang anak?"
" aku kesal," ucap Genta tiba tiba,
" apa yang membuatmu kesal sampai sampai sebagai seorang kakak kau bertindak memalukan begini?"
" di mata papa hanya aku saja yang selalu memalukan??"
" kau harusnya mengayomi adikmu, bukan menekan atau mengintimidasinya?"
" aku tidak bisa terima pa, aku memang meninggalkan rani saat itu, tapi Hangga hany bertugas menggantikan ku menikah?"
" jadi maksudmu pernikahan yang di lakukan adikmu itu palsu? Pura pura? Main main?"
" tidak, tapi bagaimana bisa dia memaksa perempuan yang tidak mencintainya untuk melayaninya di tempat tidur pa?"
" Kau itu tidak sadar ya?" tanya papanya kemudian,
" kau lihat istrimu itu? yang duduk disana?" papany menunjuk santi yang duduk tertunduk, perempuan itu tampak sedih.
" kau meninggalkan rani dan lari demi santi, sekarang kau sudah berumahtangga dengan santi, kami tidak pernah mempermasalahkannya, tapi kenapa kau sekarang mempermasalahkan hubungan adikmu,
dia sudah banyak berkorban untukmu,
dia bahkan sampai menceraikan Rani yang sedang dalam kondisi hamil tujuh tahun yang lalu..
bagaimana caranya supaya kau sadar?
apa yang sudah kau lakukan telah menyakiti banyak pihak..
apa yang kau lakukan tidak bisa kau ulang atau kau perbaiki,
__ADS_1
apa yang dulu milikmu, sekarang bukan lagi milikmu,
dan kau harus menerima itu?" nasehat papanya sembari menghela nafas berkali kali, laki laki tua itu terlihat letih dengan apa yang terjadi.
" kau tidak malu? Lihat istrimu? Disini ada istrimu, tapi kau berkelahi dengan adikmu demi perempuan lain,
dan perempuan itu adalah ibu dari anak adikmu.." ucap papanya.
" Apakah sulit bagimu untuk hidup dengan tenang?
setelah membuat masalah di kantor sekarang kau merecoki hidup adikmu?"
" papa selalu memandangku sebelah mata," protes Genta,
" apa kau bilang? Sebelah mata? Kau saj yang tidak bisa menempatkan dirimu dengan baik,
adikmu sudah mengalah, dia bergelut di dunia pertanian, hanum juga masuk pendidikan keguruan,
justru harapanku satu satunya adalah dirimu?
apakah aku harus mati dulu baru kau sadar?"
genta tak menjawab,
" sekarang hangga, kenapa kau memukuk kakakmu? Kau seharusnya menghormatinya?"
" sudah pah, itu terbukti dengan aku tidak pernah menentangnya selama ini, tapi dia terus saja bertindak semaunya kepadaku?" jawab Hangga pelan masih tertunduk.
" tapi tidak dengan memukulnya?"
" mas genta yang memukul wajahku terlebih dahulu, aku hanya membela diri.." jawab Hangga,
" membela diri apa?! Kau memukulku bertubi tubi?!" sanggah genta.
" itu karena mas tidak mau diam dan terus berusaha menyerangku?" jawab Hangga acuh.
Dari kejauhan terlihat santi yang sedang menangis, dari pembicaraan tadi, ia sekarang tau, bahwa rani adalah perempuan yang hampir di nikahi suaminya dulu.
Betapa kecewanya hati santi saat tau suaminya masih saja menyimpan perasaan pada perempuan itu, bahkan sampai berkelahi dengan adiknya.
__ADS_1
Melihat air mata santi bu hermawan tentu saja merasa kasihan, tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengelus pundak santi dan berkata,
" sabar ya nduk..".