Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
kangen


__ADS_3

Setelah pulang dari Surabaya Hangga belum sempat berkunjung kerumah Kirani, entah sudah tiga atau empat hari, ia bahkan hanya menelfon tiara saja.


Laki laki itu sibuk dengan pekerjaannya, mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk persiapan bulan ini.


Ia tidak ingin menganggu orang tuanya dengan biaya pernikahannya, meski itu hanyalah sebuah akad nikah, namun apa yang ingin di berikannya pada Rani tidaklah main main.


" Ayah tidak menjemputmu.. sudah berapa hari?" tanya Rani pada putrinya yang sibuk bermain HP.


" Ayah sibuk katanya, belum bisa jemput Tia.." jawab Tiara tanpa menatap bundanya, ia terus bermain HP.


" Ayah telfon?"


" he'em..!" gadis kecil itu mengangguk.


Melihat itu Rani diam, entah kenapa dia resah, biasanya sedikit sedikit hangga datang, sedikit sedikit menganggu, tapi beberapa hari ini terasa sepi tanpa gangguan dan kedatangannya.


Kemarin sore Yudi menelfonnya, dan memberitahukan bahwa hari akad nikah sudah di temukan, jaraknya pun tidak jauh, yaitu awal bulan, sementara sekarang sudah pertengahan bulan.


Tapi Rani merasa tidak perlu melakukan persiapan apapun, karena itu hanyalah akad nikah tanpa sebuah pesta.


Menurut Kirani hanyalah keluarga dan teman mengajarnya saja yang akan hadir,


untuk perlengkapan kebaya ia hanya perlu menyewanya karena hanya di pakai beberapa jam saja.


Pikiran Rani benar benar simpel, sederhana, bahkan seperti seseorang yang tidak sedang bersiap siap untuk menikah.


Hangga dan sunar sedang berjalan menyusuri tanah yang sudah mulai di tumbuhi tebu.


" Panas Nar.." keluh Hangga,


" walah tumben mas, mentang mentang mau menikah manja.."


" iya e nar, masa pas akad nanti mukaku tambah hitam.." raut Hangga serius, membuat sunar tertawa.


" Sampean itu meski hitam tetap ganteng mas, wes tho percoyo.." ujar sunar.


Sekitar tiga puluh menit mereka berdua disana, akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali.


Saat kembali ke arah villa dan di bonceng Sunar, Hangga bertemu Rani yang sedang berada di depan warung, entah ia belanja apa.


" Ran? Belanja?" tanya Hangga turun dari boncengan Sunar.


" he'em" jawab Rani pendek,


" mana Tia?"


" ya dirumah,"


melihat sikap Rani hangga heran, kenapa acuh sekali, ia ingin bertanya, tapi di warung itu ada ibu ibu yang lain.


" Ya sudah, aku kembali dulu, tadi dari lihat tebu," pamit Hangga, tapi tidak mendapat jawaban dari Rani.

__ADS_1


Hangga hanya tersenyum lalu kembali lagi ke boncengan sunar, ia pergi begitu saja.


Malam menjelang, tanpa si sangka sangka Hangga datang, ia menaiki motor sunar.


" Ayah!" Tiara berlari memeluk Hangga,


" Wah, kangen ayah ya? Ayah sibuk.. Maaf ya?" Hangga mencium kening putrinya.


" Bunda mana?"


" di dapur, buat nasi goreng.. Ayah sudah makan?"


" Wah, ayah sudah makan tadi.. Tapi ayah incip incip sedikit tidak apa apa tho?"


Tiara tertawa sembari mengangguk,


" Bunda?! Ayah datang?!!" panggil Tiara sembari berjalan cepat ke arah Dapur, dan hangga mengikuti langkah putrinya sampai menemukan Kirani sedang sibuk di dapur.


" Iya sayang, bunda sudah selesai, tia ambil piring ya?" ujar Rani pada Tiara tanpa menatap Hangga yang berada tak jauh darinya.


" Aku juga mau, meski sudah makan aku akan makan lagi.. Kelihatannya enak.." ujar Hangga, namun Rani tak menjawab, ia langsung mengambil piring, mengisinya dengan nasi goreng dan telur goreng, lalu memberikannya pada Hangga.


Ketiganya makan dengan tenang di meja makan, setelah makan hangga mengambil semua piring kotor, tanpa disuruh ia mencuci piring kotor itu.


Rani tak berkomentar, ia langsung membawa tiara ke kamar dan menemaninya belajar, tiga puluh menit berlalu, Hangga tetap menunggu tenang di ruang tamu sembari merokok.


Ia tau, kediaman Rani ada sebabnya, dn ia sadar benar, mungkin itu karena kesibukannya beberapa hari ini, atau.. mungkin karena hal lain.


" Sudah selesai belajarnya?" tanya Hangga pelan, takut suaranya menganggu Tiara.


" belum, masih mengerjakan beberapa tugas," jawab Rani.


" Tidak kau bantu?"


" dia bisa sendiri," jawab Rani masih berdiri.


Hangga menatap perempuan itu, rindu sesungguhnya, tapi yang di rindukan tampak kurang ramah.


" Kenapa masih disini? Bukankah kau sibuk sekali?" tanya Rani,


Hangga tersenyum sekilas mendengar itu, benar sudah perkiraannya, rani marah karena ia sibuk beberapa hari ini.


" duduklah.." Ujar hangga, namun Rani tidak mau juga duduk.


" Aku memang sibuk.. Sibuk menyiapkan acara pernikahan kita.." akhirnya hangga membicarakannya,


" bukannya sibuk kerja?"


" yah, kuselesaikan semua yang harus ku selesaikan.. agar aku bisa tenang saat hari pernikahan kita,


aku juga akan meliburkan orang orang semingguan setelah pernikahan kita, aku benar benar ingin hanya denganmu dan Tiara saja..".

__ADS_1


Mendengar itu Rani diam,


tapi hangga lagi lagi tersenyum,


" Kau marah?" tanya Hangga pelan,


" karena aku sibuk dan tidak menemuimu?"


" menemui Tiara," sanggah Rani,


" iya.. Iya.. Menemui tiara.." Hangga tersenyum lagi, ia tau apa yang di pikirkan Rani.


" kau pasti berpikir mentang mentang sudah mendapatkanmu aku seenaknya.. Iya kah?" Hangga berdiri, ia mendekat ke arah Rani,


" Aku tidak begitu, meski hanya akad, pernikahan kita tidak boleh di sepelehkan,


besok mama diantar sopir, dia akan kesini dengan penjahit untuk mengukur kebayamu, semua sudah bersiap siap untuk acara kita disana.. Kau kira kami diam diam saja..?"


Hangga menarik tangan Rani, ia mengajak Rani untuk duduk, tapi duduk di atas pahanya sebagai kursi, herannya Rani diam dan patuh patuh saja.


" Jadi aku saja yang diam diam disini?" akhirnya rani bertanya,


" Kau hanya perlu tenang, jaga dirimu agar sehat saat acara nanti.. Jangan keluar jauh jauh jika tidak ada yang penting.." ujar Hangga merebahkan kepalanya di bahu Rani,


" aku rindu padamu Ran.." ucap Hangga lirih, membuat rani malu akan kekesalannya sendiri.


" Besok besok kita juga tidak boleh bertemukan selama seminggu? Apa aku bisa tahan ya?"


Rani diam, tak menjawab, pipinya bersemu merah, keduanya seperti sepasang bujang saja, padahal sudah ada anak diantara mereka.


" Kau mau rumah atau tanah Ran?" tanya Hangga tiba tiba menatap Rani, ia bertanya dengan begitu entengnya,


" maksudmu?" tanya Rani mengerutkan dahi,


" untuk hadian pernikahan kita.. Hanya itu saja yang mampu kuberikan.." ujar Hangga,


" maaf aku belum mampu membelikanmu yang lainnya.." imbuhnya dengar sorot sayu,


" apa maksudmu? Nanti orang kira aku menikah denganmu karena hartamu??" protes Rani,


" aku ini dudamu.. Mana mungkin begitu sayang.." Hangga menggosok gosokkan pipinya gemas di bahu Rani, tentu saja itu geli.


" Apa tugas Tiara masih banyak?" tanya hangga berbisik di telinga Rani.


" Lumayan, dia harus mengerjakan matematika.." jawab Rani,


" Baguslah.. Setidaknya dia tidak lekas lekas keluar dari kamar.." ujar Hangga sembari menegakkan punggungnya, lalu menghela wajah Rani.


" Kangen Ran.." ujarnya lalu mencium perempuan yang sedang di berada pangkuannya itu.


Rani yang sesungguhnya juga rindu, mengalungkan kedua tangannya ke leher hangga, dan keduanya bertaut.

__ADS_1


__ADS_2