Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
bagaimana jika?


__ADS_3

Rani mendorong dada Hangga, ia merasa ciuman itu sudah cukup, tubuhnya pun sudah mulai menggigil karena kabut sudah menyerang turun.


" Ya sudah, ayo masuk.." ajak Hangga tak melepas tangannya dari pinggang Rani.


" Bagaimana aku mau bergerak, sementara tanganmu masih disitu?" ujar Rani,


" oh, iya ya?" Hangga tersenyum kecil.


Di tariknya tangan rani dan berjalan masuk ke dalam,


" aku pulang saja, sebentar lagi sudah gelap.."


" tidur disini saja.."


" tidak!" jawab rani cepat, ia tidak mau kejadian waktu itu terulang lagi, dan mungkin saja keduanya bisa lepas kendali.


" tegas sekali kau menjawab?" lagi lagi hangga tersenyum kecil,


" tentu saja, aku faham kemauanmu,"


" oh ya? memangnya kemauanku apa?" hangga malah menggoda membuat Rani kebingungan menjawab.


" Ya kemauanmu yang.. yang aneh aneh itu!" jawab Rani ketus,


" jangan ketus ketus ah pada ayah putrimu.." Hangga menarik Rani agar duduk, sementara hangga duduk agak jauh, karena ia berniat merokok.


" Hentikan kebiasaan merokokmu itu? Kulihat kau intens sekali merokok?"


" ah tidak," jawab Hangga menghisap rokok yang baru di nyalakannya.


" Kau tidak senang aku merokok kan, tapi bagaimana ini, aku sudah terlanjur..


aku menjadi perokok jug gara gara dirimu.."


" gara gara aku? bagaimana bisa?" Rani mengerutkan dahinya,


" sebulan setelah bercerai aku mulai merokok.."


mendengar itu Rani terdiam,


" kau benar benar tidak suka bau tembakau? bukankah selalu terasa setiap aku menciummu.." Hangga menatap Rani hangat sembari mengulum senyum, membuat Rani terlihat malu.


" Kau ini?!"


" memang iya kan? kau sempat mengiraku tidak suka wanita kan dulu?" Hangga memicingkan matanya, dan mencondongkan dirinya ke arah Rani,


" karena aku pendiam, suka membaca buku dan tidak merokok?" tanya Hangga,


" ti, tidak?" Rani menatap ke arah lain,

__ADS_1


" hei.. hahaha.." hangga tertawa,


" coba lihat aku dan bicara jujur, dulu mas genta sering bilang padamu kalau kemungkinan aku tidak suka perempuan karena tidak pernah mengenalkan pacarku sekalipun pada orang tuaku kan?"


Rani menghela nafas, ia menyerah,


" yah.. Sedikit.." akhirnya rani menjawab sembari menatap hangga kembali.


Hangga tersenyum geli mendengar itu,


" orang orang juga sempat berpikir begitu, setelah menceraikanmu aku tidak dekat dengan satupun perempuan, bahkan menolak perjodohan.." ujar Hangga,


" tapi tidak sia sia ternyata aku begitu, pada akhirnya Tuhan mempertemukan kita kembali.. Bahkan memberiku hadiah.. yaitu tiara.." Hangga menatap Rani lekat.


Tak lama HP hangga berbunyi,


" aku angkat telfon sebentar.." laki laki iyu berdiri mengambil HPnya yang tergeletak di meja depan kamarnya.


" Hallo pa?" jawabnya, hanya itu saja yang bisa Rani dengar, selebihnya Hangga diam, laki laki itu terlihat hanya memperhatikan saja.


Setelah menerima telfon, laki laki itu kembali duduk, tapi bedanya ia duduk disamping Rani sekarang.


" Papa.." ujar Hangga dengan raut wajah berbeda,


" ada masalah?" tanya Rani,


" aku belum cerita, kalau.. Mas Genta memukul istrinya.."


" Genta? Memukul istrinya?" tanya Rani tidak percaya,


Hangga mengangguk,


" masa? Dulu dia tidak kasar begitu??" ujar Rani,


Hangga menatapnya,


" dulu?"


" iya dulu sewaktu kami masih pacaran.."


" hemm.. dulu, kau bahkan masih mengingatnya.."


" itu sudah berlalu, aku heran saja kenapa dia berubah menjadi kasar??"


" banyak hal yang sudah berubah, kau lihat, bahkan akupun berubah.."


Rani berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan, yang Hangga katakan ada benarnya, bahkan dirinya sendiripun banyak berubah.


" lalu apa kata papamu?"

__ADS_1


" mbak Santi tidak mau pulang, di juga meminta cerai.."


Rani terdiam, ia bingung harus berkomentar bagaimana.


" Dia masih menginginkanmu? Bagaimana?" tanya Hangga menyandarkan kepalanya di bahu Rani, laki laki itu terlihat lelah dengan apa yang terjadi.


" Bagaimana apa sih maksudmu? Kau kira aku mau kembali padanya?" jawab Rani tegas,


" kalau padaku?"


" kau tidak serius?!"


" aku serius, tapi aku tidak akan tenang selama mas genta belum menyadari kekeliruannya.."


" kalau sampai mereka cerai bagaimana??"


" dia akan mengejarmu kembali pastinya,"


" kau akan diam saja? Tidak menolongku?"


" menolongmu? Untuk apa? Kau menikah denganku saja tidak mau.." jawab Hangga masih dengan kepala bersandar di bahu Rani.


" Teganya kau?!"


mendengar itu hangga tertawa,


" aku mencintaimu ran.. Kenapa kau masih mempertanyakan hal semacam itu?


karena itu aku menyuruhmu tinggallah disini, itu akan mempermudah diriku melindungimu.."


" dia jauh ngga?"


" tapi kapan saja bisa mencarimu,"


" kukira dia tidak segila itu.." gumam Rani, perempuan itu membiarkan Hangga bersandar di bahunya.


" Yang jelas kau harus melindungi tiara.." ujar Rani,


" tentu saja, apapun akan kulakukan untuknya, jika perlu aku tidak akan menerima warisan papa demi kedamaian.." ujar Hangga tenang.


" Tapi Ran.."


" hemm.. apa?"


" tidakkah kau memikirkan ucapan papa saat itu?" Hangga mengangkat kepalanya menatap Rani,


" ucapan yang mana?" tanya Rani,


" perkara adik Tiara.. usia tiara sudah enam tahun, sudah pas untuk punya adik lagi.."

__ADS_1


Rani tidak menjawab, ia hanya menghela nafas kesal, sedari tadi hangga menggodanya.


__ADS_2