
Sampai di arena bermain, Hangga dan Hanum sibuk menemani Tiara bermain, sementara Rani yang masih merasakan sakit di kakinya hanya duduk dan memperhatikan dari jauh.
" Bagaimana kakimu nduk?" tanya mama Hangga duduk disamping Rani,
" Sudah mendingan bu," jawab Rani tertunduk sedari tadi.
" Sudah kukatakan berkali kali, panggil aku mama nduk.."
Rani diam, ia masih tertunduk, tidak berani menatap mama Hangga,
" banyak yang ingin kutanyakan padamu nduk, tapi rasanya ini bukan tempat yang tepat.." ujar mama Hangga tenang,
" saya minta maaf.." ucap Rani tiba tiba,
melihat Rani mama Hangga merasa sungguh kasihan, ingin marah.. tapi membayangkan mantan menantunya itu membesarkan Tiara sendirian, sungguh tak tega rasanya, di rangkulnya mantan menantunya itu.
" Kau pasti kesulitan membesarkan Tiara sendirian, apalagi jauh dari kota kelahiranmu.." ucap mama Hangga,
" Kami juga minta maaf, karena tidak bisa mendampingimu selama ini.." lanjut mama Hangga,
mendengar itu tentu saja Rani merasa nelangsa, tidak kuat lagi menahan air matanya, ia menangis di pelukan mantan mertuanya itu,
" terimakasih nduk.. Karena sudah membesarkan Tiara dan tidak membuangnya saat itu..
kami jadi punya harapan kembali..
kami kira, kami tidak akan pernah melihat Hangga memiliki keturunan..
tapi kau.. Kau sungguh memberi kami hadiah yang luar biasa..
meski sesungguhnya mama juga ingin marah, kenapa harus kau sembunyikan Tiara selama ini,
tapi jangankan marah, melihat mu begini saja, mama sudah nelangsa.." mama Hangga memeluk erat Rani yang menangis dalam pelukannya.
" Maafkan saya bu, maafkan saya.. saya tidak bermaksud jahat dengan menyembunyikan Tiara, saya hanya.. Hanya.." tidak sanggup lagi Rani bicara, ia terisak.
Tiara tidur di pangkuan papa Hangga, malam sudah larut saat mobil menembus jalanan menuju kota kecil lawang.
" Apa Tiara tidur?" tanya Rani melirik ke belakang,
" dia sedang tidur nduk, biarkan saja dengan kami, kami masih rindu, besok pagi saja kau villa," ujar mama Hangga,
mendengar itu Rani terlihat sedih,
" saya juga rindu tidur dengan Tiara," ucap Kirani pelan membuat Hangga meliriknya sesaat.
" Jangan mempersulit papa dan mama untuk melihat cucunya sendiri," kata Hangga membuat Rani menatapnya,
" aku tidak mempersulit?" jawab Rani pelan,
" kau menyembunyikannya selama enam tahun," jawab Hangga sibuk menyetir.
" Sudah jangan ribut!" tegas papa Hangga,
" rebutan kok anak, dari pada kalian rebutan kalian buat saja satu lagi!" tegas papanya,
__ADS_1
mendengar itu keduanya sontak terdiam, suasana tiba tiba senyap.
Hanum yang melihat Hangga dan Rani langsung terdiam, diam diam tertawa, ia tau benar, di balik keacuhan Hangga, sesungguhnya ada perasaan yang besar, hanya saja itu tertutupi oleh ego,
dan di balik sikap Rani yang diam, sesungguhnya ada pula perasaan yang belum bisa di sadari dengan baik.
Setelah sampai di depan Rumah Rani turun, ia seperti tidak rela Tiara tidak ikut turun.
" Besok kita bicara, sekarang tidurlah.." ujar mama Hangga menenangkan Rani,
Rani mengangguk, dan segera berjalan masuk ke halaman rumahnya.
Malam ini cukup menyenangkan untuk Tiara, gadis kecil itu saking senangnya sampai kelelahan.
Dibaringkannya Tiara di atas tempat Tidur hangga,
" Biar malam ini tidur dengan mama, kau tidurlah di kamar yang lain.." ujar mamanya rupanya masih belum puas bersama Tiara.
Hangga mengangguk, setelah mengganti pakaiannya laki laki itu keluar dari kamar dan duduk di teras.
Sunar terlihat mengunci pintu gerbang,
" tidurlah Nar, sudah malam.." ujar Hangga sembari membakar rokoknya,
" sampean sendiri kok tidak tidur, malah merokok," sahut Sunar mendekat,
" banyak pikiran, mana enak tidur.." Hangga menghisap rokoknya,
" banyak pikiran apalagi, anak sudah ada.. tinggal melanjutkan hidup.." Sunar tersenyum,
" lha terus piye mas, sampean sudah punya semua saya kira.."
mendengar itu Hangga diam, mana tau Sunar kalau pikirannya penuh dengan Mantan istrinya yang setengah jam lalu ia turunkan di depan rumahnya.
" Mangkannya mas.. semua itu harus di ungkapkan dengan baik..
hidup salah faham terus, ndak capek tho mas?"
" ngomong opo awakmu iki Nar? ( ngomong apa kamu ini Nar?)"
" pendiam itu ada baiknya juga ada tidaknya mas, baiknya suka mengalah ndak banyak omong, tapi jeleknya suka memendam, ndak bisa mengungkapkan ekspresinya dengan baik,
tau tau meledak,
kalau sudah meledak agak ngawur kelakuannya.."
" awakmu ngomongno sopo?" Hangga sedikit tersinggung,
" siapa sajalah mas.. namanya saja ngobrol.." Sunar meringis,
" oh nggih mas, saya sudah tau siapa yang ngomong ngomong ke orang kalau mas sering kerumah bu guru bahkan tidur disana.."
" sopo Nar?"
" sopo maneh, anak e pak carik.."
__ADS_1
" kurang ajar sekali dia?!" Hangga tiba tiba duduk tegak.
" namanya saja orang mas, rasa senengnya sama bu guru ndak pernah kesampaian dari dulu, dia pakai cara apapun supaya bisa dekat dengan bu guru, tapi bu gurunya biasa saja,
mungkin pas lihat mas dekat dengan bu guru dia kesal, di sampaikanlah kabar kabar itu untuk mencoreng nama sampean dan bu guru.."
Hangga diam, ia terlihat berpikir,
" opo tak tekani ae Nar? ( apa tak datangi saja Nar?)" ucap Hangga tak lama kemudian,
" buat apa? Mas itu lebih terhormat.. Ndak usah, pokok nanti kalau kabar semakin rame, tinggal jelaskan saja..
yo wajar nuh nolak balik ketemu bu guru, wong itu ibu dari anak sampean..
ya kalau bisa segera si resmikan kembali lebih baik, biar orang kampung bungkam.. kasian bu guru jadi bahan gosip.."
Hangga menghela nafas dalam,
" mau ku begitu Nar.. tapi cintaku bertepuk sebelah tangan sepertinya," keluh Hangga menghisap rokoknya.
" ah.. moso mas.. kelihatannya ndak begitu.." komentar Sunar yang tanpa disuruh sudah duduk tak jauh dari Hangga, laki laki itu ikut menyalakan rokoknya.
" Jangan sok tau Nar.. kau ini masih muda.."
" lho ini.. Mentang mentang saya masih muda di remehkan, saya ini memang masih muda, tapi mantan pacar saya banyak..
kalau mas, mantan pacarnya berapa? Pasti jarang pacaran? Ngomong sama orang saja jarang.." ejek Sunar, hangga diam, namun diam kesal, kenyataannya omongan sunar benar, meski usianya lebih tua, tapi pengalamannya berpacaran sedikit sekali, bisa di hitung hanya dua kali, itupun hanya sebulan dua bulan, dua duanya pun terpaksa karena ia di tembak duluan dan tidak tega untuk menolak.
Nyatanya perempuan yang pertama kali ia sukai adalah pacar kakak kandungnya pada saat itu, yaitu Kirani.
" Sok tau.." ujar Hangga setengah bergumam,
Sunar tertawa mendengarnya,
" saya bergaul dengan banyak gadis desa,
mau kota, mau desa, pada dasarnya semua perempuan kalau suka itu sama..
patuh, manut.."
" lha kalau ndak patuh atau manut?"
" berarti ada sikap yang kurang dari pihak laki laki, sekarang coba di raba mas..
ganteng iya, gagah iya, berkecukupan iya, apa yang kurang..?"
Hangga lagi lagi di buat berpikir,
" kok jadi menceramahiku kau Nar?"
" karna saya lihat mas sedang butuh ceramah.." ujar Sunar tidak ada takut takutnya pada majikannya yang memang sedang bingung akan perasaannya itu.
" coba sekali kali mas.. Mas jadi saya, saya jadi mas.. atau.. mas jadi bu guru.. bu guru jadi mas.." Sunar tersenyum penuh arti,
Sontak Hangga termenung, entah kenapa kalimat yang sunar ucapkan itu mampu membuatnya berpikir dari sudut lain.
__ADS_1