
" Nanti bunda marah, katanya.. Tia tidak boleh main kesini lagi.." ujar tia setelah sampai di villa,
" siapa yang tidak memperbolehkan? bundamu?" tanya Hangga duduk di hadapan Tiara,
" iya om.." Tiara mengangguk.
" Dengarkan Tia.. Panggil Ayah mulai sekarang.. ya??" pinta Hangga pelan pelan,
" Ayah? Kenapa?" tanya tiara kebingungan,
" om Hangga, adalah ayah tia.. Ayah kandung Tia.." Hangga memegang kedua tangan putrinya,
" Jadi mulai sekarang panggil Ayah ya??"
Tiara menggeleng pelan sembari berkata,
" bunda bilang ayah Tiara kerja jauh..",
mendengar itu Hangga langsung tertunduk, dadanya serasa sesak, bisa bisanya Kirani berbohong sampai seperti ini, Hangga tidak habis pikir.
" Tia.. Ayah tia ada di depan tia sekarang, tidak kerja jauh.. tidak kemana mana.. akan ada bersama tia mulai sekarang ya??" laki laki laki itu benar benar merasa pilu, ia di tolak secara tidak langsung oleh putrinya sendiri, dan itu di sebabkan oleh kata kata Rani.
Tiara tetap menggeleng,
" Bunda tidak bilang begitu.."
" jadi kalau bunda yang bilang tia baru percaya??" tanya Hangga pelan,
Tiara mengangguk,
Habis sudah kesabaran Hangga, ia marah sekali terhadap perempuan yang sudah melahirkan putrinya itu.
Sementara Rani yang baru saja pulang dari sekolah terduduk lemas, jantungnya berdetak tak karuan, takut, bingung, sampai sampai ia bingung mana yang harus ia rasakan terlebih dahulu.
" Mas putra tidak bisa di cegah, dia kelihatan marah.." ucap mak Dar hati hati, ia sungguh kasihan melihat Rani.
Perempuan itu bahkan masih sedikit pincang, tapi ia nekat mengajar, dan setelah pulang mengajar, ia malah tidak menemukan putrinya dirumah.
" Dia bilang apa mak?" tanya Rani setelah lama tenggelam dalam pikirannya sendiri.
" Hanya bilang mau membawa Tiara, terserah mbak setuju atau tidak.." jawab mak Dar.
Rani tertunduk dalam,
" Habis sudah.. " batinnya,
ketahuan.. Ia ketahuan..
di pejamkan matanya, sembari menggigit bibirnya demi menahan kecemasan di hatinya.
" Biar aku kesana menjemput Tiara mak.." ujarnya kemudian setelah menguatkan hatinya.
__ADS_1
" Tapi jalannya menanjak, kaki sampean belum sembuh benar mbak??"
" Tidak apa apa mak, saya bisa.." ujar Rani menaruh tasnya, masih menggunakan seragam khakinya.
Perempuan itu menaiki motornya pelan pelan menuju villa.
Sesampainya di depan villa, pintu gerbang hanya terbuka setengah, ia menekan klaksonnya karena kesulitan menanjak, rupanya Sunar mendengar bunyi klakson itu dan langsung berjalan keluar.
" Owalah?! Biar saya bantu bu?!" seru Sunar lalu berjalan mendekat, mengambil alih motor Rani, sehingga Rani berjalan perlahan lahan dengan kakinya yang belum sembuh benar.
Sesampainya di teras Rani melihat Hangga yang sedang duduk sembari merokok.
Melihat Rani berjalan mendekat laki laki itu membuang rokoknya dan bangkit.
Hangga berjalan masuk, seakan tidak senang dengan kedatangan Rani.
" Aku tidak ingin bicara apapun denganmu," ujar Hangga setelah keduanya berhadapan.
" dimana Tiara?" tanya Rani,
Hangga diam, tidak menjawab.
" Biarkan aku membawanya pulang?" suara Rani lirih,
keduanya saling menatap, tapi tatapan Hangga yang biasanya lembut itu kini berbeda, ada amarah dalam sorot matanya.
" Dia sedang tidur, jangan ganggu dia."
" Tidak." jawab Hangga cepat,
" Apa maksudmu tidak? Kau jangan seenaknya??"
" lalu kau?" Hangga menatap Rani tajam,
" aku tidak ingin ribut denganmu," jawab Rani pelan namun tegas,
" baguslah, kalau begitu pulanglah,
dan jangan lupa antarkan seragam sekolah Tiara besok." Hangga berbalik memunggungi Rani dan berjalan menjauh.
" Tidak bisa begitu Hangga?!" Rani mengejar langkah Hangga setengah mati,
di tariknya lengan laki laki itu hingga langkah Hangga terhenti.
" kenapa tidak bisa begitu? Jadi kau saja yang bisa begitu?" Hangga kembali menatap perempuan yang tingginya hanya sebahunya itu.
" Kumohon, kembalikan Tiara.. Kasihani dia, dia pasti bingung??"
" bingung? Bingung kenapa? aku tidak pernah membuatnya bingung, kukira kau yang selama ini membuatnya kebingungan!" hangga sinis.
Rani tertunduk, ia tidak sanggup menjawab,
__ADS_1
" kau membodohiku begitu lama, senang?" tanya Hangga,
" kau ingat kan, saat kau jatuh kapan hari, aku bertanya padamu baik baik, apa ada yang kau sembunyikan setelah kita bercerai?"
Rani masih tertunduk diam,
" aku sungguh tidak tau harus memperlakukanmu bagaimana sekarang,
aku sungguh sungguh sakit hati,
kau dengan sengaja membiarkanku hidup dalam ketidaktahuan,
dan sekarang..
kau membuatku menjadi orang yang penuh akan penyesalan,
Semenjak tau.. setiap detik rasanya aku di cabik cabik olehnya, tubuhku sampai gemetar membayangkan bagaimana kau membohongiku..
apa kau bilang?
dia anak mas Yudi?
hebat sekali karanganmu.." Hangga tersenyum pahit,
" Bahkan mamaku pun bisa menyadari kalau Tiara adalah cucunya,
hanya aku saja yang paling bodoh diantra orang orang dengan mempercayai kata katamu?!" nada Hangga masih tajam meski lebih pelan.
" Aku tau dengan benar, kau terpaksa menikah denganku,
aku tau benar,
kau tidak pernah mencintaiku,
aku tau benar,
kau terpaksa tidur denganku,
tapi aku tidak pernah tau, sebegitu bencinya kau padaku hingga tega memisahkan ku dari anakku?!" air mata Hangga jatuh bersama amarahnya.
Rani tercengang, tubuhnya kaku, ia memang sudah berbohong, tapi kebohongan itu ia lakukan bukan karena ia benci pada hangga,
sungguh, semua tiba tiba berada di luar kendalinya.
" aku tidak akan memaksamu menikah denganku lagi, jika kau memang tidak pernah sudi untuk hidup denganku,
tapi jangan sampai kau memisahkan aku dengan Tiara lagi,
aku tidak akan diam seperti sebelumnya,
meski harus mati matian akan kurebut tiara darimu." Hangga menatap Rani dengan air matanya, tajam tanpa celah.
__ADS_1
Sedangkan Yang di tatap tubuhnya gemetar menerima ancaman dan sikap dingin dari Hangga.