Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
satu meja


__ADS_3

" Pergilah, tidak enak di lihat orang." ujar Rani.


Tapi Mak Dar tiba tiba keluar,


" Lho mau kemana pak?" tanya mak dar,


" Saya mau pamit,"


" Lho, kami kebetulan sedang masak tadi pak, bagaimana kalau makan sama kami pak?


hitung hitung rasa terimakasih kami sudah di beri durian banyak sekali lho ini pak..?" mendengar itu Rani sontak memandang mak Dar, setengah melotot, tapi rupanya mak Dar mengacuhkan pandangan itu.


" Ya ndak apa apa tho, menyambut tamu mbak Rani.." ujar Mak Dar,


Hangga sesungguhnya ingin menolak, selain tidak lapar dia juga tau dengan jelas, bahwa Rani tidak suka dengan kehadirannya.


Tapi jika melihat kesempatan ini entah kapan bisa di dapatkan lagi, akhirnya Hangga mengangguk.


" Rasanya tidak sopan jika saya menolak.." Hangga tersenyum sembari melirik Rani.


Setelah hampir tujuh tahun, keduanya akhirnya duduk dalam satu meja lagi.


Rupanya, saat Rani dan Hangga beradu argumen tadi, mak Dar sibuk membuat lauk pauk lainnya, meski sederhana, tapi hangga cukup menikmati makanannya.


" Masakan mak Dar enak.." ujar Hangga, sayangnya mak dar tidak ikut duduk diantara mereka berdua, tapi malah makan di dapur.


Mata hangga berkeliling sembari mengunyah makanan,


ada banyak foto anak kecil yang tertempel di dinding.


Sedikit heran, tapi Hangga enggan bertanya.

__ADS_1


" Itu keponakanku, dia ikut aku mulai bayi." kata Rani yang sadar kalau mata Hangga sedang berkeliling dan memandangi foto foto di dinding.


" Keponakan? Anak mas Yudi?" tanya Hangga mengerutkan dahinya,


" iyalah, saudaraku hanya satu."


" oh ya, kenapa kau yang mengurusnya?"


" karen mb Rinta kurang sehat saat melahirkannya, jadi aku mengajukan diriku untuk merawatnya." jelas Rani, ia dengan susah payah memikirkan hal ini, bahkan sudah menelfon Yudi kemarin malam.


Begitu takutnya Rani kalau Hangga mengetahui bahwa Rani sudah melahirkan putrinya.


apalagi melihat perubahan Hangga sekarang,


laki laki pendiam itu tiba tiba saja banyak bicaranya,


laki laki acuh itu, tiba tiba saja perduli padanya dan seakan akan selalu mengganggunya sekarang.


" Lalu dimana keponakanmu sekarang?" tanya Hangga karena tidak melihatnya sedari tadi.


" Mau ke surabaya denganku? Aku ada rencana pulang?"tawar Hangga,


" Tidak, aku berencana naik kereta api atau naik bis."


Hangga mengangguk pelan, rasanya tidak akan berhasil mengajak Rani untuk satu mobil dengannya.


" apa kau bisa menangani? Mengajar sembari mengurus anak?" tanya Hangga,


" mak Dar yang membantuku mengurus Tiara." tak sengaja Rani menyebut nama Tiara.


" Namanya Tiara, cantik sekali.. Kapan kapan aku akan berkenalan dengannya.."

__ADS_1


mendengar itu Rani tak menjawab.


" Kata Pak Suroto kau akrab dengan pak Ruri,"


Rani hampir saja tersedak,


" kenapa kau membawa bawa pak kepala sekolahku? Apa yang sudah kau katakan kepadanya?!" Rani masih ketus.


" aku hanya berencana membuka kebunku untuk murid murid di sekolah,


bukankah bagus jika mereka bisa melihat langsung pohon salak, durian, jeruk, bahkan tanaman tanaman lain,


proses pembibitan, pemupukan, penyemprotan, hingga panen?"


Rani terdiam, ia tak percaya hangga sampai bersedia membuka villanya yang selalu tertutup itu.


ia bahkan memagari kebunnya begitu tinggi agar tidak terlihat oleh warga sekitar.


Tapi tawaran itu sesungguhnya memang bagus untuk anak anak, bisa menambah pengalaman dan ilmu pengetahuan.


" Apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Rani.


" Hanya mencoba menjadi orang yang baik, karena sebelumnya aku hidup kurang baik untuk seseorang.." jawab Hangga tersenyum, lalu menaruh sendoknya.


" Bukankah sudah pernah kukatakan?


kita akan sering bertemu, meski dengan alasan alasan yang tidak masuk akal.."


Rani terdiam, tak habis pikir dengan sikap Hangga yang sekarang.


" Dan.. Siapa? Pak Guru itu.. Jika ingin mencari pendamping baru, setidaknya carilah yang di atasku,

__ADS_1


jika kau terus dekat dengannya, itu akan membuatku sangat tersinggung.." hangga bangkit,


" Mak Dar, saya Pamit dulu?! Matur nuwun makanannya?!" panggil Hangga, tanpa perduli ada raut Rani yang menahan kesal.


__ADS_2