Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
putriku


__ADS_3

Setelah dua hari terbaring di atas tempat tidur, laki laki itu memutuskan untuk bangun.


Meski wajahnya masih terlihat pucat.


Setelah mandi dan mengganti bajunya Hangga mengambil kunci mobilnya, dan menuju ke garasi.


" Mau kemana mas?!" tanya bu Woyo buru buru,


" sampean belum sehat benar, jangan bekerja dulu??" pinta bu Woyo khawatir.


" Aku mau mengambil anakku bu," jawab Hangga menatap bu woyo tidak seperti biasanya, di matanya banyak kepiluan.


Bu Woyo terhenyak, sungguh selama setahun ini dirinya bekerja pada Hangga, tak pernah ia melihat ekspresi menyedihkan ini dari sosok laki laki yang gagah dan mandiri itu.


" Tiara anakku.. anak kandungku, ibunya selama ini menyembunyikannya dariku.." imbuh Hangga dengan suara bergetar.


" Pantas saja, anak itu mirip sekali dengan sampean.." ujar bu Woyo terharu, namun di kuasai dirinya agar tidak lama lama hanyut dalam kesedihan majikannya itu, dengan langkah cepat bu Woyo memanggil Sunar yang sedang memanjat mencangkul jalan air di samping villa.


" Sini Nar?!" panggil bu Woyo, dengan sigap Sunar meletakkan cangkulnya dan berjalan ke arah garasi.


" Wonten nopo bu? ( ada apa bu?)" tanya Sunar,


" terno mas Putra, wonge durung sehat temenan Nar, aku wedi..( antarkan mas Putra, orangnya belum sehat betul Nar, aku khawatir..)"


Sunar menatap majikannya yang sedang memegang kunci mobil itu, wajahnya memang masih pucat,


" Loro loro arep nangdi tho mas? ( sakit sakit mau kemana mas?)" tanya Sunar,


" Wes tho Nar, ojo kakean takok, terno mas putra nang omah e bu guru saiki..! ( sudahlah Nar, jangan banyak tanya, antarkan mas Putra kerumah bu guru sekarang..!)" tegas bu Woyo.

__ADS_1


Sunar langsung mengangguk, ia meminta kunci mobil yang berada di tangan Hangga.


Melihat kecemasan bu Woyo mau tidak mau hangga memberikan kunci mobil pada Sunar.


Sesampainya di depan rumah Rani, laki laki itu turun dari mobil, berjalan memasuki halaman.


Ia tau ini jam mengajar, tapi ia tidak tau Rani sudah masuk mengajar atau tidak, jika tiara Tidak ada, ia akan menjemputnya di sekolah pikir Hangga.


" Tok tok tok..!" Hangga mengetuk pintu,


lama pintu itu tidak terbuka,


" Tok tok tok..!" ketuk Hangga lagi.


Seorang gadis kecil membuka pintu,


" bunda sedang tidak ada dirumah om.. Ada pesan?


Hangga menatapnya, dengan tatapan yang tidak seperti biasanya, rasa bahagia dan bersalah menyeruak menjadi satu, mendesak desak dari dalam dadanya,


" Ayah tidak mencari bunda, ayah mencari Tiara.." ujarnya dengan suara bergetar, tak sanggup lagi ia bertahan, air matanya tumpah, di peluknya gadis kecil di hadapannya itu, erat.


" Maafkan Ayah Tiara, maafkan ayah..?!" laki laki itu menangis, tangis yang cukup membuat Sunar terpaku menatap majikannya itu dari dalam mobil.


Bahu Hangga berguncang hebat, sementara yang di peluk dengan polosnya menepuk punggung Hangga


" om kenapa sedih? cup.. cup.." katanya menenangkan sang ayah yang sedang tidak berdaya di serang rasa bersalah.


Tak lama mak Dar keluar,

__ADS_1


betapa terkejutnya mak Dar melihat Hangga sedang terduduk di lantai sembari memeluk Tiara,


" Lho mas?" semakin terkejut mak Dar melihat air mata Hangga yang tumpah.


Mak Dar terdiam, tanpa harus di beri tau, mak Dar mengerti apa yang sudah terjadi, di elus dadanya, ia bersyukur dalam hati, akhirnya laki laki itu menyadari keberadaan putri kandungnya.


Tanpa bisa berkata apapun lagi, di biarkannya laki laki itu menyelesaikan tangisnya, menyampaikan rindunya pada Tiara melalui pelukannya.


" Biar kubawa Tiara," ujar Hangga setelah lebih tenang,


" jangan mas, tunggu mbak Rani pulang dulu, nanti saya kena marah mas?!"cegah mak Dar,


tapi Hangga sudah tidak mau tau, ia tidak mau berkompromi lagi dengan siapapun termasuk rani.


Ia merasa berhak bersama Tiara, apalagi selama enam tahun ini ia tidak pernah berada disamping Tiara.


" Terserah saja mak, pokoknya saya bawa Tiara, tolong bawakan beberapa bajunya,"


" jangan mas? aduh.. saya tau, sampaian ingin bersama Tiara, tapi tunggu mbak Rani?"


" aku tidak butuh persetujuannya mak, Tiara adalah putriku, aku berhak membawanya, enam tahun ini Rani sudah bersikap seenaknya sendiri dengan membesarkan nya tanpa sepengetahuanku, mak tau betapa hancurnya perasaan saya saat tau Tiara adalah putri saya?


rasa bersalah mencabik cabik saya?" ujar Hangga dengan mata yang kembali penuh, di genggam erat tangan Tiara, tidak di lepasnya.


" Mas.. mbak Rani juga menderita..?" ujar Mak Dar,


" Saya tau mak, tapi tidak seharusnya dia memisahkan saya dan Tiara?!" entah kenapa rasa sedih itu berubah menjadi sebuah emosi.


" baiklah jika mak tidak mau menyiapkan baju Tiara, saya bisa membelikan keperluannya." Hangga bangkit, menggendong Tiara, lalu berjalan keluar.

__ADS_1


" mas?! Saya mohon tunggu mbak Rani?! Bicara baik baik dengan mbak Rani?! Kasihan Tiara kalau langsung di bawa begini?!" mohon mak dar mengejar langkah hangga yang sudah keluar dari halaman, tapi Hangga tidak menghiraukan, ia segera masuk ke dalam mobil bersama Tiara.


__ADS_2