Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
pamer?


__ADS_3

Siang itu Hangga dan sunar sedang sibuk di kebun belakang villa, sudah beberapa hari ini panas agak terik, kaos yang di kenakan Hangga basah kuyup karena keringat.


Sedangkan Hanum, santi dan anak anak sedang menggelar tikar dan duduk di bawah pohon durian dekat dengan kolam ikan.


" Bunda?!" seru Tiara dari samping kolam ikan karena melihat motor bundanya di parkir di depan villa.


Rani baru saja pulang dari sekolah, ia masih menggenakan seragam khakinya.


" Baru pulang mbak?" tanya Hanum saat rani mendekat.


" Iya, ini rujak buah Num, aku beli di sebelah sekolah, enak siang siang begini makan rujak buah.." Rani menyerahkan beberapa bungkus rujak,


" wah, pengertian sekali mbak Ran?!" Hanum tersenyum senang, lalu bangkit.


" Aku ambil piring dulu ya di dapur mbak," Hanum segera berjalan pergi ke dalam villa.


" Bunda!" panggil Tiara,


" iya sayang, awas jangan masuk ke dalam kolam?"


mendengar itu Tiara mengangguk dan melanjutkan bermainnya bersama Gio.


" Baru pulang mengajar mbak..?" sapa Santi,


" iya, panggil aku Rani saja mbak, toh usiaku lebih muda.." ujar Rani,


" baiklah.." santi tersenyum,


" Kau mencari Hangga?" tanya santi,


" ah tidak mbak, aku melihat Tiara.. Dia kalau sudah sama ayahnya sampai lupa padaku.." jawab Rani,


" Hangga memang sosok yang menyenangkan, dia penyayang.." ujar Santi sembari melihat hangga yang sedang sibuk dengan pekerjaannya itu.

__ADS_1


Dari kejauhan tiba tiba saja Hangga melepas kaosnya, hingga terlihatlah dada dan perut yang berotot itu, apalagi hanya tersisa celana pendek selutut saja.


" Dia orang yang kreatif dan pekerja keras, dilihat dari manapun, ia lebih baik dari kakaknya, postur tubuhnya tinggi dan gagah.." ucap Santi jujur.


Tapi entah kenapa Rani tidak senang dengan ucapan santi itu, Rani merasa penilaian santi terlalu berlebihan, apalagi caranya memandang hangga yang sedang bertelanjang dada itu, mungkin itu hanyalah sebatas rasa kagum, tapi tetap saja, Rani tidak senang, senyumnya hilang seketika.


" Bagaimana rasanya di cintai oleh seorang laki laki seperti hangga Ran?" tanya Santi menoleh ke arah Rani yang masih tenggelam dalam ketidaksenangannya.


" Ran?" tanya Santi lagi,


" oh, iya mbak.. Maaf aku sedang memikirkan hal lain.." jawab Rani mencoba tersenyum sealami mungkin.


" Kau sedang banyak pekerjaan?" tanya santi tidak tau dengan apa yang di pikirkan Rani.


" Bukankah mas Genta juga gagah dan tampan mbak?"


" yah, sampai sekarangpun dia masih banyak di kejar perempuan,"


" beda sekali bukan?"


" yah.. Hangga tidak akan mewarisi perusahaan, dia akan hidup dengan apa adanya disini.."


" bukankah itu justru menyenangkan Ran.. Suami yang penyayang dan sederhana pola pikirnya?"


Deg,


makin kesal saja Rani,


" Tentu saja tetap tidak bisa di bandingkan dengan mas genta yang terawat dan selalu menggenakan jas dan dasi.." ujar Rani.


" Ada kalanya aku bosan melihatnya menggenakan jas terus menerus,


lihatlah Hangga, bukankan seru melihatnya bekerja keras begitu, kulitnya coklat tertimpa sinar matahari, laki laki sekali.." Santi tersenyum lalu kembali memandang Rani setelah sesaat memandangi Hangga.

__ADS_1


Ada yang bergemuruh di hati Rani, entah itu apa, yang jelas ia tidak senang, benar benar tidak senang, senyumnya bahkan hilang.


Dan di saat senyumnya hilang Hangga malah menyadari kedatangannya, hingga laki laki yang sedang bertelanjang dada itu berjalan ke arah Rani dan santi.


Melihat itu tentu saja Rani segera bangkit, ia menarik roknya agar bisa berjalan lebih cepat ke arah Hangga.


Ia tidak mau, dada bidang dan perut berotot itu di perhatikan Santi lebih lama lagi, apalagi lebih dekat.


Setelah keduanya berhadapan, Rani menghadang langkah Hangga.


" Dasar!" tegas Rani kesal namun dengan suara yang cukup terkendali agar tidak terdengar orang lain.


" Hemm?" jawab Hangga tidak mengerti, laki laki itu mengerutkan dahinya,


" Sengaja?" tanya Rani melotot,


Hangga tertawa,


" lho lho??" hangga tidak mengerti,


" Sengaja memperlihatkan tubuhmu pada wanita lain?!"


" ha?!" laki laki yang sedang bertelanjang dada itu nyengir, ia tidak faham kemana arah pembicaraan Rani.


" Mau pamer?"


" apa sih Ran?"


" mau di bilang gagah?, senang di puji dan di perhatikan? Jangan jangan selama belum bertemu aku kelakuanmu begini?!"


" lho lho lho? Opo tho iki moro moro muring muring? ( apa sih ini tiba tiba marah marah?)" tanya Hangga.


" pakai bajumu!" tegas Rani sembari menarik tangan hangga agar menjauh dari santi.

__ADS_1


Hangga yang tidak peka hanya menurut saja, ia mengikuti langkah rani masuk ke dalam villa melalui pintu belakang.


" Coba kalau aku yang pamer!" sepanjang jalan masuk ke dalam villa rani masih mengomel.


__ADS_2