
Pagi itu rani bahkan tidak berani ke sekolah, ia meminta ijin di karenakan malu sekali.
Hasilnya adalah ia diam di dalam rumah dengan kecemasan dan kebingungannya.
" Apalagi yang di pikir.. sudah ndk ada masalah tho, segera menikah secepatnya dengan mas putra.." ujar mak Dar sembari mengupas bawang.
Rani diam, ia tidak menjawab sepatahpun, namun terlihat jelas kebingungan di wajahnya.
" Bingung apalagi tho mbak? Kenyataannya sampean berdua sama sama suka,
mau menikah saja kok tunggu di grebek dulu..
coba kalau dari kemarin kemarin setuju menikahnya.." imbuh mak Dar,
" Sudah mak, jangan membuatku semakin pusing.." ujar Rani akhirnya,
" Aku bahkan malu untuk keluar.." lanjutnya.
" Malu kenapa? Mbak Rani kan tidak terbukti berbuat aneh aneh.. Lagi pula mbak rani bersama dengan ayahnya anak, kecuali dengan laki laki lain, mungkin akan malunya setengah mati..
kepala desa kan bahkan bersedia menjadi saksi nikah, itu dukungan yang baik kan mbak..?" ucap mak Dar.
" apalagi sih yang di pikirkan? coba ngomong sing penak.." mak Dar penasaran sesungguhnya apa yang selama ini membuat Rani menolak Hangga terus.
" Aku trauma mak.. Trauma ku di ceraikan dengan alasan kakak kandungnya membuatku berpikir puluhan kali saat akan menyatakan kesediaanku.." akhirnya Rani bicara,
" aku takut mak.. Aku tidak tau sedalam mana cintanya, pokoknya aku takut di perlakukan sama seperti saat itu..
di buang tiba tiba.." ujar Rani sembari tertunduk,
" Tapi menurut mak pak putra cukup mencintai sampean.. Dia juga amat senang saat tau keberadaan Tiara, bahkan sekarang tiara lebih sering bersamanya.."
Rani mengangguk lemah,
" Benar.. sia sangat menyayangi putrinya.." suara Rani pelan,
" bukankan lebih baik memberinya keluarga yang lengkap..
apa sampean mau memberinya ayah tiri?"
__ADS_1
Rani sontak menatap mak Dar,
" tidak pernah terpikirkan mak, sebelum ataupun sesudah ada ayah kandungnya..?"
" karena itu kasihani tiara, sudah cukup lama dia disembunyikan, enam tahun yang lalu.. tebuslah itu sekarang,
mungkin sekarang sampean belum yakin pada mas Putra..
tapi seiring waktu mungkin keyakinan itu akan bertambah jika sampean kembali mengijinkannya kembali menjadi seorang suami,
tidak hanya seorang suami, tapi juga seorang ayah..".
Mendengar itu Rani lagi lagi membisu, benar.. Ia bukan tidak suka pada Hangga, tapi ia belum yakin saja pada Hangga.
Sementara Di Villa,
" Apa yang terjadi tadi malam Ngga?" tanya Santi,
" Kau ribut dengan ibu Tiara?" tanya santi mendekati Hangga yang sedang memeriksa jeruk jeruknya.
" Mbak Tau dari mana?" Hangga tersenyum tipis, lebih ke arah sinis.
" kesalahan mbak?" Hangga menghentikan kesibukannya dan menatap santi dengan serius.
" Iya ngga, kapan hari mungkin aku bicara keterlaluan.."
Hangga mengerutkan dahinya,
" aku memujimu dengan keterlaluan, membandingkan mu dengan mas Genta secara terang terangan.."
" Oh.. Jadi karena itu dia cemburu dan marah padaku.." ujar Hangga pelan,
" aku mohon lain kali jangan begitu ya mbak, meski kami mantan suami istri, tapi kami saling mencintai, sebentar lagi kami akan menikah,
jadi buatlah batasan yang jelas mbak,"
" aku tidak bermaksud ngga? Kau memang lebih lebih jika di bandingkan dengan mas Genta.." Santi tertunduk,
" lalu kalau aku lebih lebih mbak mau bagaimana?" tanya Hangga dengan suara kurang ramah, hal itu membuat santi sadar, bahwa dirinya sudah salah bicara.
__ADS_1
" Mbak mau menukarku dengan mas Genta?" Hangga sinis,
" ti tidak ngga? Bukan begitu??" santi merasa tidak enak.
" Pantas saja Rani marah besar padaku, itu bukan kecemburuan yang biasa, tapi juga di dasari dengan rasa trauma,
asal mbak tau, kejadian bertahun tahun yang lalu sudah memporak porandakan hidupnya, hidupku..
apa yang mbak dan mas genta lakukan sesungguhnya itu adalah hal yang sulit di lupakan untuknya, jadi jangan berpikir mbak sudah di maafkan dengan mudah,
meski.. dia berkata sudahlah dan lupakan masa lalu,
lain kali berhati hatilah saat bicara dengan ibu dari anakku, dan suamimu.. Jagalah dia mbak, karena setelah menikah aku tidak akan main main lagi,
aku akan menghancurkannya jika dia tetap saja tidak sadar diri" tegas hangga tenang, namun ekspresinya membuat Santi takut.
" Kehadiran mbak disini jug cukup menganggunya,
aku harap setelah papa dan mama menjemput segeralah pulang,
bukan aku tidak senang dengan kehadiranmu dan Gio,
tapi benar kata Rani, rasanya memang kurang pantas mbak berada disini, apalagi tanpa kehadiran Hanum." imbuh Hangga membuat Santi berkaca kaca.
" Jangan menangis mbak, nanti di kira orang aku menindasmu, padahal tidak, sudahlah, masuklah ke dalam bermain dengan Gio dan Tiara, sembari menunggu jemputan papa dan mama nanti sore."
Mendengar itu dari Hangga Santi tak berkata apapun lagi, ia segera pergi dari hadapan Hangga dan masuk ke dalam villa.
Tak lama setelah Santi pergi, Sunar dan Burhan datang dengan membawa dua cangkul.
" Sudah mau berangkat? Traktornya sudah di naikkan ke mobil?" tanya Hangga,
" Sudah mas,"
" ya sudah, nanti ku susul, berangkatlah dulu, ingat tepian tanahnya jangan di traktor, tapi di cangkul," hangga mengingatkan.
" Siap mas, jadi liburku jadi kapan?" tanya Sunar yang sudah di janjikan libur tapi tidak jadi karena hangga ingat ada tanah yang harus di kerjakan.
" Kalau hari ini kau selesai, besok liburlah.. Burhan juga, liburlah.. Jalan jalanlah kalian.." ucap Hangga membuat senyum kedua pemuda itu terkembang.
__ADS_1