Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
berjanji


__ADS_3

Malam itu Santi pulang begitu saja, ia berusaha tegar dan tidak terpengaruh dengan air mata Genta.


Keesokan harinya saat sarapan genta membeku di meja makannya, ia sungguh tidak berselera untuk makan.


Ia mengingat jelas bagaimana semalam ia menangis dan memohon pada istrinya, namun istrinya itu tetap pergi meninggalkannya dengan membawa dua tas besar berisi baju putranya.


" Bapak mau teh hangat manis pak? supaya perut bapak enakan?" si asisten rumah tangga menawarkan.


" Tidak usah bu," jawab genta tanpa menatap asisten rumah tangganya itu.


Pandangannya kosong sejenak, pikirannya entah kemana.


" Pak.." suara si asisten rumah tangga berhati hati,


" apa boleh saya bicara?"


Genta langsung menatap si asisten,


" bicara saja," jawab laki laki itu.


" semalam saya sempat bicara dengan ibu sebelum bapak datang.." ujar si asisten,


genta yang sedari tadi sayu seperti terbangun, sorot matanya tiba tiba serius.


" ibu bicara apa?" tanyanya,


" tidak banyak ibu bicara pak.. Saya memohon ibu untuk kembali.."


" apa katanya?"


" ibu diam pak.. Katanya ibu sudah memutuskan untuk bercerai.."


genta lagi lagi membisu mendengar itu.


" Pak.. Kalau ibu masih bisa di usahakan untuk kembali, tolong usahakan pak.." ujar si asisten lagi,


" dia sudah nekat.. aku bisa apa.." kata genta seperti lelah.


" Tolong berubah pak.. Kasihan mas Gio.."


mendengar nama Gio, Genta langsung tertunduk,


" Mas Gio masih kecil pak, selama ini bapak juga terlalu sibuk, lupa dengan mas Gio dan bu Santi.. Wajar jika bu santi marah pak.. Jadi saya mohon.."


" memang aku yang salah.." potong Genta,


" aku terlalu egois selama ini, hanya menuruti keinginanku sendiri tanpa perduli anak dan istriku..


sekarang semuanya berantakan, bahkan hubunganku dengan keluargaku.." ujar Genta,


" mungkin belum terlambat pak.. Jika bapak menyusul ibu sekarang.."


" dia sudah tidak mau denganku bu, mungkin hatinya sudah terlalu sakit dengan kelakuanku.."


" tidak ada kata terlambat selama bapak tulus untuk meminta maaf dan berjanji dengan benar kalau bapak akan berubah..

__ADS_1


saya masih melihat cinta di mata ibu pak..


semalam ibu bergetar menahan tangis.."


Mendengar itu Genta terdiam cukup lama, memandang sang asisten sesaat.


" belum terlambat pak.." ujar si asisten lagi membuat genta bangkit dari duduknya, mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar.


Hermawan kaget, ia bahkan hampir tersedak melihat putra pertamanya itu datang pagi pagi.


Genta yang hanya menggenakan celana panjang dan kaos itu tiba tiba saja duduk bersimpuh di hadapan papanya yang sedang sarapan.


" Apa yang kau lakukan?!" tanya hermawan kebingungan dengan kelakuan putranya yang mendadak aneh baginya itu.


" Kutanya apa yang sedang kau lakukan?!" bentak Hermawan menaruh sendoknya.


Mendengar suara sekeras itu Hanum dan mamanya yang sedang sibuk di halaman belakang berjalan terburu buru ke ruang makan, keduanya sama sama terkejut melihat Genta yang terduduk di lantai itu.


" Ada apa ini le??" tanya mamanya sama tidak mengertinya dengan kelakuan putranya, sementara Hanum tertegun.


" Maafkan aku pa.." genta baru membuka suara,


mata Hermawan melotot tak percaya, di pandangi istrinya, sama sama berpandangan kebingungan.


" Aku sudah banyak bersalah pada keluarga ini.." ucap genta,


" kau habis terbentur pintu atau ujung meja?" tanya hermawan serius, ia sungguh penasaran.


" atau.. kau salah makan pagi ini?!" tanya hermawan lagi.


" aku sudah cukup mengerti.."


" tentang?!"


" tentang seberapa besar kesalahan dan kekacauan yang sudah kulakukan..


semenjak santi dan gio pergi tidak ada yang benar..


semua yang ku kerjakan selalu kacau..


papa benar, aku kurang dewasa, kurang bersyukur..


dan..


kurang bertanggung jawab.." genta tertunduk dalam,


" kau serius??!" tanya papanya masih tidak percaya.


" Pa.. tolong suruh istriku kembali kerumah pa? tolong pa??"


mendengar itu rasanya ingin hermawan tak percaya, tapi mendengar suara genta yang bergetar itu, dan seumur umur putra pertamanya itu baru pertama kali ini bersimpuh, ia bimbang..


di tatap istrinya,


" berdirilah lee.." ujar mamanya,

__ADS_1


" tidak ma, aku sungguh sungguh meminta maaf dan memohon pada papa, pada mama.. bantulah aku untuk sekali ini saja..


jika kelak aku berbuat buruk lagi, aku siap untuk menerima hukuman apapun dari papa, termasuk di usir dan si keluarkan dari daftar waris.."


Hermawan tersentak,


" aku salah pa.. aku salah.. Aku banyak bersalah pada papa mama.. bahkan kepada Hangga..


aku yang salah pa..


benar genta,


benar..


harusnya aku ikhlas, harusnya aku menerima konsekuensi dari perbuatanku..


bukan malah mengecamnya..


aku juga sudah sepantasnya merelakan Rani, karena aku yang meninggalkannya dulu..


dan karena ketidak relaanku..


istriku terluka,


aku kurang bersyukur memilikinya.."


Hanum tercekat, ia tidak menyangka kata kata itu keluar dari mulut kakak pertamanya.


" Aku tidak sanggup bercerai dengannya pa.. tidak sanggup..??" air mata yang di tahan sedari tadi, akhirnya turun.


" Ampun pa.. Ampun..." ujarnya berkali kali.


Hermawan menghela nafas dalam, di elus dadanya sendiri, semarah apapun, ia mana sanggup melihat putranya bersimpuh sembari menangis begitu.


" Istrimu sudah pulang kerumah orang tuanya semalam,


sopir yang mengantarnya, jadi dia tidak disini," ujar papanya lebih tenang.


" Susul dia kalau kau memang masih menginginkan rumah tangga yang baik dengannya, tapi berjanjilah..


dengan janji yang sama, yang kau ucapkan padaku,


jika kau melakukan kesalahan lagi di kemudian hari,


kau siap di usir dari keluarga ini tanpa uang sepeserpun.." ujar hermawan,


Genta mengangguk,


" pah?" panggil istrinya merasa janji itu berlebihan,


" sudah ma, biarkan! Dia sudah berjanji, kalau perlu kita buat janji itu di atas kertas supaya dia selalu ingat dengan jalurnya di masa depan,


aku tidak mau di kecewakan lagi olehnya!" tegas Hermawan.


" Baik pa, baik.. Genta akan meyakinkan papa, kalau genta ingin dan akan berusaha menjadi lebih baik.." laki laki itu masih bersimpuh.

__ADS_1


__ADS_2