Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
perkedel


__ADS_3

Rani tentu saja kesal, apalagi mendengar Hanum sudah pulang terlebih dahulu di karenakan ada kepentingan mendadak, sementara Santi masih berada di villa dengan Hangga.


Ia sengaja tidak datang ke villa untuk menjenguk Tiara meski ia sudah pulang mengajar.


Karena hari sabtu ia pulang sedikit lebih pagi, dan sengaja mencari buku dan alat tulisnya yang sudah habis toko ATK dekat jalan raya.


disamping jalan ia tidak sengaja bertemu dengan Ruri.


Laki laki itu sudah mengganti bajunya dan sedang merokok di pinggir jalan, tepat di sebelah kebun orang tuanya.


" Waduh, sudah santai saja.." sapa Rani menghentikan motornya disamping ruri.


" Ngirim ibu sama bapak, nasi jagung.." jawab ruri tersenyum,


" Wenak itu pak.." Rani tersenyum,


" Lho?! Monggo?!" suara ibu ruri mendekat,


" sini nduk? Makan dengan kami?!" ajak ibu ruri berjalan mendekat ke arah motor rani dan memaksa Rani turun dari motor.


" Sampun bu, sampun..? ( sudah bu, sudah..?)" ujar Rani,


" sedikit saja, coba perkedel buatan Ruri..?!" ujar ibu ruri membuat Rani menoleh ke arah ruri,


" iya, saya yang buat tadi.." jawab ruri tersenyum malu.


" Di coba saja lho, kapan lagi.." ujar Ruri menyiapkan koran untuk rani duduk disampingnya dan ibu bapaknya.


Mau tidak mau akhirnya rani duduk juga meski dengan rasa sungkan, tidak makan nasi, namun hanya mencoba dua perkedel saja sembari berbincang ringan.

__ADS_1


Namun siapa sangka, setelah setengah jam Rani duduk dan berbincang ia malah melihat Sunar sedang membonceng Hangga.


Sepertinya keduanya baru saja dari kebun jeruk mereka.


Motor sunar sengaja di pelankan, karena Hangga ingin memastikan apakah yang sedang berbincang dan duduk disamping pak guru itu adalah ibu dari anaknya.


Rani yang menyadari kehadiran Hangga itu hanya menatap sepintas, lalu kembali berbincang dengan ibu Ruri.


Hangga yang melihat itu hanya diam, ia menyuruh sunar untuk segera pergi, karena hangga diam diam juga kesal melihat betapa santainya rani duduk disamping pak guru itu, sementara dari kemarin ia tidak datang ke villa sama sekali untuk melihat putrinya.


Malam sudah naik, Rani tidak juga datang ke villa.


Hangga membuang rokoknya dengan kesal.


ia berjalan ke dapur, mencari bu Woyo.


Hangga berjalan keluar,


" mau kemana Ngga?" tanya santi yang duduk di ruang tengah dengan anak anak,


" ke rumah bundanya Tiara mbak,"


" kenapa? Dia sakit? Kok tidak kesini sejak kemarin?"


" karena itu aku akan kesana, jaga anak anak mbak!" Hangga berjalan melewati Santi.


Santi sadar ada kemarahan di wajah Hangga, entah kenapa, yang jelas perempuan itu merasa tidak nyaman dan bersalah, apa keduanya ribut gara gara ucapan santi saat itu?.


Motor Sunar di bawa hangga, ia sengaja membawa motor sunar karena tidak ingin menarik perhatian.

__ADS_1


Setelah sampai di depan rumah Rani, pagar itu di buka oleh hangga, dan motor itu di masukkan begitu saja.


" Tok tok tok!" pintu di ketuk.


Tak lama Rani membuka pintu,


" mengantar Tiara?" tanya Rani,


" tidak," jawab Hangga langsung masuk melewati Rani.


" lalu? Mengambil bajunya?"


" banyak baju disana." Hangga masuk ke dalam ruang tengah dan langsung duduk kursi panjang di depan TV.


" lalu mau apa kesini?" tanya Rani berdiri menatap Hangga.


" Jadi aku tidak boleh kesini?" Hangga lebih ketus,


" kau kan ada tamu?"


" lalu kenapa?"


" harusnya kau temani tamu mu?" ujar rani kesal.


" Pulanglah!" usir Rani,


" oh, sekarang kau mengusirku?"


" tentu saja, kan ada tamu dirumahmu? Ya masa kau disini?" Rani terlihat sinis.

__ADS_1


__ADS_2