Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
cucu


__ADS_3

" Mas Putra kenapa bu? Kok tidak keluar sejak kemarin," tanya sunar pada bu Woyo,


" Sepertinya kurang sehat Nar,"


" sudah di panggilkan dokter bu?"


" tidak mau, katanya minum vitamin saja sudah cukup.."


" saya lihat kemarin memang wajahnya pucat, jalan saja tidak semangat.."


" lha iya itu, katanya tidak mau di ganggu dulu, dan bibitnya jangan si tanam dulu Nar, tunggu mas Putra enakan saja.."


" iyalah bu, saya juga ndak berani, takut salah.." ujar Sunar.


Sementara Hangga sejak pulang dari sekolah kemarin ia memang hanya diam di kamar, badannya lemas, kepalanya berkunang kunang.


Ia memang sempat mengira kalau Tiara mungkin saja putri kandungnya, tapi mengetahuinya langsung seperti ini benar benar membuatnya shock.


Di kepalanya muncul bayangan bayangan masa lalu, bayangan bayangan bagaimana Rani melahirkan Tiara dan menjalani kesedihannya sendiri.


" Ya Tuhan..." keluhnya berkali kali, sungguh berdosa di rasa dirinya, menceraikan istri yang sedang dalam kondisi hamil.


Waktu tak dapat di putar, jika kemarin ia menyesal, sekarang ia justru lebih menyesal lagi.


" Aku laki laki brengsek.." keluhnya,


banyak yang ia sesali, termasuk alasan kenap Rani merahasiakan kehamilannya, kenapa ia bersikeras membesarkan anak itu sendiri?.


Hangga benar benar tidak habis pikir, andai saja Kirani mengatakan jika ia sedang hamil, maka hal semacam ini tidak perlu terjadi,


anaknya tidak perlu hidup tanpa kasih sayang seorang ayah sampai di usia yang sekarang.


" Mas.." bu Woyo mengetuk pintu,


" masuk bu,"


mendengar itu bu Woyo masuk dengan hati hati,


" Makan dulu mas.. apa saya panggilkan dokter mas?" ujar bu Woyo menaruh sepiring bubur ayam yang ia buat.


" Tidak usah, saya hanya butuh tidur, besok juga enakan bu," jawab Hangga tidak bangkit dari posisi berbaringnya.


Tumben sekali, batin bu Woyo, laki laki yang biasanya meskipun capek tapi tetap ke kebun ini benar benar tidak bangkit dari tempat tidurnya sekarang,


wajahnya pun terlihat pucat dan lesu.


Pak Guru Ruri datang berkunjung kerumah Rani sore ini dengan bu Diah.


Selain ingin menjenguk, Ruri rupanya ingin menyampaikan satu hal.


" Kapan rencana masuk bu?" tanya Ruri,


" mungkin sekitar dua atau tiga hari lagi, saya sudah minta ijin ke kepsek pak,"

__ADS_1


Ruri mengangguk, lalu memandang Diah sesaat.


" Saya bertemu dengan pak Putra bu, dia datang ke sekolah kita kemarin,"


" Oh ya?" Rani agak canggung,


" apa masalah kunjungan ke kebun lagi?" tanya Rani,


" saya tidak tau, tapi yang jelas dia sedang tidak sehat, hampir saja dia jatuh di depan kantor kepala sekolah.."


" oh.." Rani semakin canggung, ia bingung harus berkomentar apa.


" Ran...boleh aku bicara, bukan sebagai rekan kerja, tapi sebagai mbak mu.." suara Diah tenang,


mendengar Diah berkata seperti itu tentu saja Rani kaget, ada Ruri disini,


" Pak Ruri sudah tau Ran.. Kalau pemilik perkebunan itu adalah mantan suamimu.." imbuh Diah menatap Ruri sesaat.


Rani tertunduk seketika,


" mbak Diah yang bilang?" tanya Rani lirih,


" pak Suroto, mantan suamimu dari sekolah, kau lupa tadi Ruri memberitahumu?"


" Dia membuat masalah?"


" justru dia membersihkan nama baikmu,"


" Kabarmu yang tak karu karuan sudah menyebar kemana mana Ran,"


" kabar?? Kabar apa mbak??"


" kabar bahwa kau mempunyai hubungan gelap dengan si Putra itu,"


Rani mematung, saking kagetnya.


" Sebenarnya setelah kau masuk nanti, kami sudah bersiap siap merapatkan mu,


tapi karena pak Putra itu datang terlebih dahulu ke sekolah dan menjelaskan, pak Suroto mengurungkan niatnya," jelas Diah.


" bu Rani jangan khawatir, kami semua memahami posisi bu Rani, tidak ada yang menyalahkan bu Rani dalam hal ini..


tapi jujur saja, saya kaget sekali..


ternyata dialah ayah dari Tiara..


lalu kenapa selama ini pak Putra tidak menampakkan dirinya? Seakan akan tiara tidak di akui?" tanya Ruri yang tidak bisa menahan rasa penasarannya,


Rani yang sedari tadi diam itu akhirnya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya,


sedih, malu, tidak tau harus bicara apa.


" Kau tidak harus menjawabnya jika kau tidak mau Ran.." Diah menyentuh bahu Rani.

__ADS_1


" Tidak, ini memang salahku mba Diah.." ucap Rani lirih,


" aku yang salah, harusnya tidak kupisahkan Tiara dengan ayahnya.."


" tidak ada yang salah diantara kau dan mantan suamimu, keadaan lah yang membuat semua ini terjadi pada kalian..?" hibur Diah.


Melihat itu Ruri yang sedari dulu menyimpan perasaan pada Rani sungguh tak tega, harusnya ia tidak bertanya.


Hanum membaca chat dari Hangga,


" Tiara memang anakku, num.. "


Hanya satu kalimat, tapi mampu membuat wajah Hanum panas seketika, terkejut dan senang menjadi satu.


Gadis itu segera berlari keluar kamar, ia lari sekencang mungkin menuju teras dimana papa dan mamanya sedang minum teh dengan kawan lama mereka.


" Pa! Ma!" seru Hanum di depan tamu, sungguh tidak sopan, tapi ia tak perduli, apalagi ia hanya menggenakan celana pendek dan kaos yang tipis.


" Hanum?!" mata mamanya melotot,


" apa papa pernah mengajarimu bersikap tidak sopan seperti ini num?" sekarang papanya yang memandang Hanum tajam.


" Tiara!" ujar Hanum,


" kenapa Tiara?" tanya mamanya,


" Tiara memang cucu mama dan papa?!" suara Hanun lantang, membuat si tamu kebingungan, sementara kedua orang tuanya terdiam seketika, saling memandang.


" Maaf mas, saya masuk dulu.." pamit mama Hanum seketika, ia menarik putrinya masuk kedalam rumah.


" Apa kau bilang tadi num?" tanya mamanya lagi,


" Tiara memang cucu mama, dia benar anak mas Hangga..!" mata Hanum berbinar saat mengatakannya.


" siapa yang memeriksa kebenarannya?"


" mas Hangga, dia sudah memeriksa berkas di sekolah tiara,


sudah di pastikan oleh mas Hangga, kalau mbak Rani sedang hamil saat di ceraikan mas Hangga..?!"


Sama seperti Hangga, kaki mamanya lemas seketika, perempuan berusia limapuluh tahun lebih itu terkulai di lantai.


" lho ma?! ma?!" Hanum memegangi mamanya yang lemas.


mendengar suara Hanum Hermawan buru buru masuk,


" ma?! kenapa ma?!" Hermawan bergegas membantu istrinya berdiri dan mendudukkannya di sofa.


" Pa.." panggil Bu Hermawan pada suaminya, tubuhnya memang lemas, tapi di bibirnya tersungging senyuman,


" Anak Hangga pa.. anak Hangga.. Itu anak Hangga.. cucu kita.." kata nya dengan air mata yang tiba tiba turun, air mata bahagia tentunya,


" Iya ma.. Iya, dia cucu kita.. mari kita jemput dia.." Hermawan memeluk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2