
Hangga mengikuti langkah Rani menuju dapur,
" Kau ini kenapa sih?! Pulanglah sana?!" usir Rani menyalakan kompor, tapi Hangga malah mematikan kompor itu.
" Hangga?!" tegas Rani,
" Mas!" tegas hangga juga,
" belajar memanggilku mas! Aku lebih tua empat tahun darimu!" Hangga menatap serius, itu membuat Rani sedikit takut.
" Siapa yang kau panggil Hangga? Aku ini ayah putrimu, usiaku juga lebih tua, kita ini orang jawa!" ujar Hangga lagi menegaskan.
" Aku tau!"
" Baguslah kalau bu guru tau!" keduanya sengit, entah apa yang membuat keduanya tiba tiba kembali seperti kucing dan anjing.
" Pulanglah!"
" tidak!"
" kenapa?!"
" karena aku tidak mau pulang!"
mendengar itu Ranu kesal, ia berjalan kembali ke ruang tengah, dan Hangga mengikutinya.
" Aku akan tidur di mak Dar! Silahkan kalau kau tidak mau pulang!"
Mendengar itu Hangga mendahului Rani, ia buru buru mengunci pintu dan menyembunyikan kunci pintu di sakunya.
" Iki opo seh?! ( ini apa sih?!)" tanya Rani tidak mengerti dengan sikap hangga.
" Kembalikan kuncinya?" pinta Rani baik baik,
" tidak,"
__ADS_1
" kenapa?"
" aku tidak mau saja," jawab Hangga mengesalkan.
" kau itu kenapa sih?!"
" mas!"
" oke! Mas?! Mas Hangga?! Ada apa ini?" akhirnya Rani memanggil Hangga dengar sebutan mas setelah sekian lama.
" Lho? Harusnya aku yang bertanya?" hangga tersenyum sinis,
" tidak datang ke villa, tidak menjenguk anak, malah duduk mesra di pinggir sawah dengan si pak guru itu?!"
Rani tertawa mendengar itu, seperti mengejek,
" mesra? aku? dengan pak Ruri?"
" yah! Itu yang kulihat!" hangga menatap perempuan yang tingginya hanya di sebahunya itu.
" Kau tidak lihat ibu bapaknya?"
" aneh!"
" kau yang aneh!"
" kenapa aku yang aneh?!" tanya Rani sontak mengerutkan dahinya.
" Kau sengaja duduk dengan mereka seperti calon menantu yang pas!"
Mulut Rani menganga sejenak, tak percaya dengan pemikiran hangga.
" kau mengada ngada, aku hanya menerima ajakan mereka, kau tau kan yang namanya sungkan? aku sungkan menolak?"
" sungkan menolak makan lama lama sungkan menolak lamaran dari kedua orang tuanya?" Hangga makin kesal.
__ADS_1
" kau ini!" Rani membuang muka dan duduk di ruang tamu, ia lelah dengan perdebatan ini.
" Aku tidak mau ribut, tolong pulanglah.." ujar Rani lebih tenang,
" enak sekali?" ucap Hangga,
" apalagi maksudmu??"
" kemarin lusa kau marah marah padaku, bahkan mengomel sepanjang sore hanya karena aku tidak memakai baju di hadapan mbak santi,
kau bicara beginilah begitu lah, kau marah sesukamu,
berasumsi sesukamu,
dan sekarang, kau dengan mudahnya menyuruhku pulang dan jangan berdebat denganmu? Padahal kau sudah duduk dan bersenda gurau dengan laki laki lain?
kau kira hatiku terbuat dari apa?"
Hangga berdiri di hadapan Rani.
Laki laki itu benar benar marah, membayangkan Rani yang duduk disamping Ruri tadi siang hatinya kesal sekali.
" Di ajak menikah, tidak mau! Tapi melihatku membuka baju di hadapan perempuan lain marah?!" omel Hangga,
" itu tidak pantas! Dia istri kakakmu?" jawab Rani,
" aku sedang bekerja di kebun, bukan sedang peragaan busana atau sengaja memperlihatkan tubuhku?!"
" tetap saja itu tidak pantas! Coba kalau itu aku?!"
" coba saja kalau kau bisa! berpakaian lah terbuka di hadapan laki laki lain jika kau berani?!" ancam Hangga,
" kalau harus mengurungmu aku akan menggurungmu! Kalau harus mencongkel mata orang akan kulakukan itu! Jangan main main denganku Kirani?! meski kita belum menikah tapi kau ibu dari anakku! tidak seorang pun boleh menyentuhmu!"
" kau menakutkan!"
__ADS_1
" biar!" tegas Hangga,
" kau yang mulai!" lanjut hangga lebih tegas.