Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
makan malam


__ADS_3

Tepatnya hari ketiga, Hangga sedang duduk disamping Genta yang terbaring,


laki laki itu berjuang keras menahan kantuknya mulai sore, sesekali ia tertidur lalu terbangun.


Saat ia sedang tertidur tiba tiba saja ia terbangun karena merasakan sentuhan.


Tangannya seperti di sentuh, namun sentuhan yang ringan,


di buka matanya, ingin tau apa sentuhan yang di rasakannya itu nyata.


Begitu terkejutnya ia melihat mata kakaknya yang sudah terbuka,


" Mas???" panggil Hangga,


Genta tak menjawab, ia terus menatap hangga,


" mas sudah sadar...???"


genta masih tak menjawab, di tatapnya hangga terus,


" Ini aku, adikmu mas, adikmu??" ujar hangga meraih telapak tangan Genta,


di genggamnya tangan itu dan di taruh di dahinya, dan tak lama bahu hangga berguncang hebat.


Tak ada satu suarapun yang keluar dari mulut hangga namun air matanya mengalir deras, harusnya dia memanggil perawat saat ini, tapi ia tidak bisa menahan ras harunya.


Genta masih diam tak bergerak, namun air matanya meleleh melihat hangga menangis sembari menggenggam tangannya.


Ingin rasanya bangkit, memeluk adiknya yang sudah bertahun tahun ia perlakukan seenaknya itu, tapi ia tidak berdaya, tubuhnya tidak mau menerima perintahnya, bahkan menyentuh hangga saja ia bersusah payah setelah mencoba beberapa lama.


Tiga bulan kemudian,


Gio dan Tiara seperti biasanya berlarian di dalam rumah,


" Tia, Gio?! Jangan lari lari nanti jatuh!" ujar Hanum sambil menaruh ikan yang baru saja di panggang nya ke atas meja makan.


" Gio..?" sekarang genta yang memanggil,


laki laki itu berjalan pelan pelan dengan tongkat di tangan kanannya.


" Iya pa?!" jawab Gio,


" berhenti larinya, sekarang cuci tangan, ayo.. dengan Tiara juga ya?" ucap laki laki itu sembari terus berjalan ke arah halaman belakang.


Ia ingin membantu Hangga yang sedari tadi sibuk memanggang ikan.


" rasanya tidak enak kalau aku hanya taunya makan saja.." Genta mendekat, berjalan ke kerumputan.


Hangga yang sibuk membolak balik ikan dan Rani yang sibuk membumbui menoleh ke asal suara.


" Mas duduk saja, disini bau asap..!" ujar Hangga,


" Iya, kami sudah selesai kok mas, ini panggangan terakhir.." sahut Rani,


" tetap saja, masa aku tau makannya saja?" genta mendekat mengambil piring yang berisi ikan,

__ADS_1


" Biar kubawa ke dalam.." ujarnya berbalik dan berjalan pelan pelan ke dalam.


Melihat itu Rani dan Hangga saling menatap, sedih, senang, campur aduk menjadi satu.


Sedih, itu karena keduanya harus melihat genta berjalan menggunakan tongkat.


Senang, itu karena keadaan keluarga mereka sudah membaik, semua saling menyadari dan menerima.


Setelah Genta sadar, semua keluarga bersyukur, kondisi genta yang sebelumnya parah, mulai membaik, hanya saja cidera di kakinya cukup berpengaruh, sehingga ia harus di bantu dengan tongkat ketika berjalan.


Genta juga terlihat lebih tenang setelah pulih, ia tidak marah dan mulai menerima dengan kondisinya, meski sempat beberapa kali menangis di hadapan hangga dan orang tuanya.


Meski sulit, pada akhirnya ia menerima, ia menganggap ini adalah teguran Tuhan untuknya sehingga ketegaran itu muncul dari dalam diri genta.


Tidak hanya semua orang, tapi genta pun bersyukur masih di beri nafas oleh Tuhan..


ia hanya perlu melaksanakan janjinya, untuk berubah menjadi lebih baik, bagaimanapun keadaannya.


" Bagaimana pekerjaanmu?" tanya genta saat semua keluarga telah selesai dengan makan malamnya,


" Mas tidak lihat aku semakin hitam, aku sering ke kebun sendiri sekarang,


mencangkul, mentraktor, mempupuk.." jawab Hangga,


" apa gunanya anak buahmu?"


" semakin banyak orang semakin baik hasilnya bukan?"


" bukan karena tanggung jawabmu semakin banyak sekarang?" genta tersenyum,


" tanggung jawab sebagai suami maksud sampean.."


Hangga tertawa,


" benar sekali itu.. tapi aku senang.." jawab Hangga,


mendengar jawaban adiknya Genta tersenyum, ia turut senang.


" Bagaimana terapimu mas?" tanya hangga,


" Masih terus.. meski aku tidak yakin akan bisa berjalan seperti semula.." jawab Genta dengan raut datar,


" Yakinlah, jika Tuhan saja bisa menyelamatkanmu, tentu Dia mampu menyembuhkanmu mas.."


Genta mengangguk, ia menatap istrinya yang sedang sibuk membantu asisten rumah tangga membersihkan piring.


" Kenapa?" tanya Hangga melihat Genta menatap istrinya,


" Kasihan dia.. Merawatku sedemikian rupa, pulang kesini masih sibuk membantu.."


Hangga tersenyum,


" Mbak santi mencintai suaminya, karena itu dia merawat suaminya dengan baik.."


" kau benar.. betapa beruntungnya aku memilikinya.." genta menatap Hangga sembari menghela nafas, namun setelahnya ia mengulas senyum.

__ADS_1


Hangga dan Genta sudah berpindah ke teras, mengawasi anak anak mereka bermain sembari merokok santai,


sementara para istri sedang sibuk berbincang sendiri dengan si papa dan mama.


Seperti biasa Genta protes karena Hangga terlalu banyak merokok,


" Kau merokok kan karena patah hati dengan kepergian Rani dulu,


sekarang rani sudah di sampingmu, buat apa kau masih merokok, sebanyak itu lagi?"


" Ah, sudah sulit berhenti.." jawab Hangga membakar satu batang rokok lagi, membuat genta berdecak menatapnya.


Hangga hanya tertawa,


" Mas sendiri, kalau tidak sakit, pasti masih minum.."


" huss.. Aku sudah berhenti,"


" mentang mentang sudah berhenti, aku juga di paksa berhenti merokok.."


" tidak memaksa, berusahalah.. Kau dulu orang yang hidup sehat, bahkan lebih sehat dariku.."


Hangga lagi lagi hanya tersenyum mendengarnya.


Tak lama sebuah motor berhenti di depan Pagar,


terlihat seorang laki laki yang tidak asing bagi Hangga melepas helm dan berjalan melewati pagar yang setengah terbuka.


" Selamat malam.." sapa laki laki berkemeja kotak hitam putih itu.


" Lho? Danu? masuk..!" Hangga bangkit dan menyalami Danu, setelah menyalami Hangga danu menyalami genta, Genta yang tidak mengenal Danu tentu saja hanya tersenyum.


" Anu.." danu terlihat kikuk,


" Kau mencari Rani ya? kupanggilkan, atau masuk ayo?!" ujar Hangga,


" Bukan?" jawab Danu cepat,


" bukan?" Hangga mengerutkan dahi,


" Hanum.." kata Danu pelan,


mendengar itu Hangga dan Genta saling menatap,


" oh.. Hanum.." Hangga mengangguk, ia baru saja ingin masuk, tapi hanum sudah keluar,


" Kok tidak langsung masuk saja?" Hanum mendekat dan langsung memegang tangan Danu,


melihat adiknya agresif begitu hangga dan genta merasa heran, seumur umur baru mereka berdua melihat hanum begitu,


" Sudah kenal dengan mas mas ku kan? Sekarang ayo masuk, mumpung papa mama masih santai..?" Hanum menarik tangan Danu agar masuk ke dalam, dengan kikuk Danu mengikuti Hanum masuk, keduanya masuk begitu saja melewati Hangga dan genta yang masih setengah tercengang dengan kelakuan Hanum.


" Itu adikmu?" ujar Hangga pada genta,


" adikmu juga.." kata genta menghela nafas,

__ADS_1


" Aku jarang memperhatikannya, tau tau sudah bisa menarik tangan laki laki untuk masuk ke dalam rumah.. Dengan santainya melewati kita lagi.." Genta setengah mengeluh,


" dia tidak takut sama sekali dengan kita.." timpali Hangga sambil tersenyum.


__ADS_2