
" jadi bagaimana? Tiara mau tinggal sama ayah berapa hari? tiga hari atau empat hari?" tanya Hangga pada putrinya,
Tiara terlihat bingung, ia memandangi Hangga dan Rani bergantian,
" kenapa begitu?" tanya Tiara,
" karena ayah dan bunda tidak tinggal bersama, jadi tiara harus membagi hari untuk bersama bunda dan ayah?"
suasana hening, semua orang menunggu jawaban Tiara.
" Tapi ayah dan bunda teman tiara tinggal bersama," ujar tiara membuat hangga dan rani lagi lagi terpaku,
" lalu kenapa kalau memang om ayah tiara, om tidak tinggal bersama bunda saja? seperti ayah dan bunda teman teman tiara?" lanjut tiara membuat semua orang diam, tapi tidak dengan ayah hangga, lagi lagi laki laki tua itu tertawa kecil,
" tau rasa kalian.." ucapnya dalam hati, cucunya sungguh cerdas dan kritis pikirnya, usia masih enam tahun sudah mampu membuat kedua orang tuanya kehabisan kata kata.
Hangga masih kebingungan, ia menatap Rani sesaat, tapi rupanya yang di tatap juga kebingungan.
Danu terdengar menghela nafas,
" kalau sudah begini mau bagaimana.." keluh Danu lirih, namun semua orang bisa mendengar keluhan itu.
" Ayah dan bunda tidak bisa tinggal bersama karena sama sama sibuk bekerja sayang," akhirnya Yudi yang bicara,
" tiara boleh memilih mau dengan siapa.."
" mau dengan bunda, tapi tia ingin punya ayah juga.." ucap gadis kecil itu polos,
Hangga tertunduk sedih mendengarnya,
" Tia boleh dengan bunda, ayah akan mengalah.. Tia boleh sesukanya, jika ingin bersama ayah, ayah akan jemput tia.." entah kenapa laki laki itu tiba tiba mengalah.
" Kau sungguh sungguh dengan perkataanmu itu ngga?" tanya Yudi,
" asal saya tidak di cegah saat akan membawa tiara," ujar Hangga,
" kau bagaimana Ran?" sekarang yudi bertanya pada adiknya,
" asal tidak menganggu kegiatan belajar Tiara boleh," jawab Rani,
" nah, kalau sudah begini berarti tidak ada masalah lagi bukan?" tanya Yudi, pada keduanya, tapi keduanya diam.
" kalau masih ada masalah sebaiknya kalian bicarakan berdua, tapi perkara Tiara sudah selesai ya?
tidak ada lagi berebut anak atau apapun itu?"
Rani mengangguk,
Hangga tidak mengangguk, tapi dia diam dan tidak berkata apapun lagi.
" Kalau kami bawa ke surabaya ketika libur sekolah boleh?" sekarang mama Hangga,
" Kami harus memperkenalkan Tiara pada keluarga besar.. Itu harus..?" imbuh mamanya,
" silahkan saja, asal tiara mau dan tidak rewel.. nanti bisa gantian dengan saya juga di surabaya.." ujar Yudi,
" nah.. Begini kan enak.." jawab mama Hangga,
" lebih enak kalau ada adiknya tiara, jadi kita tidak usah rebutan.. Hahahaha.." papa Hangga lagi lagi membuat situasi kikuk.
" Perkara itu, biar takdir yang menentukan pak.." yudi mau tidak mau yudi tersenyum, di pandang adiknya yang sedari tadi diam, wajahnya tampak memerah.
Sementara Hangga tetap diam sembari menatap Danu dan Rani sesekali.
__ADS_1
Danu dan Yudi langsung pulang ke Surabaya sejam setelah pamit dari rumah Hangga.
Rani sudah bersiap untuk istirahat, hari memang belum terlalu larut, tapi ia merasa sungguh lelah hari ini.
Suara pintu yang di ketuk membuat Rani bangkit,
Ia berjalan ke depan, membuka pintu rumahnya.
" Ada apa?" tanyanya kaget melihat Hangga berdiri di depan pintu rumahnya.
Hangga tak langsung menjawab, ia menatap daster tipis yang di kenakan Rani.
melihat itu rani menutup bagian dada daster itu yang terlalu turun ke bawah.
" ada apa?" tanya Rani lagi kikuk,
Hangga menyerahkan sekotak kue,
" oleh oleh dari mama, tadi mau di bawakan kau buru buru pulang,"
" tidak perlu repot," Rani mengambil kotak kue itu,
" aku mau bicara," ujar hangga,
" aku tidak mau ribut," jawab Rani,
" aku mau bicara, bukan ribut,"
" aku takut ujung ujungnya kita ribut?"
" kali ini tidak.." ujar Hangga,
" ya sudah, masuklah.." persilahkan Rani setelah berpikir sejenak.
" Sebentar, aku ambil jaket.." ujar Rani bangkit,
" tidak usah, tidak ada bedanya, toh aku pernah melihat semuanya," kalimat Hangga membuat wajah Rani bersemu merah.
" bicaralah yang benar," protes rani,
" bagian mana yang tidak benar?" hangga membuat Rani terdiam.
" apa yang sesungguhnya ingin kau bicarakan?" tanya Rani setelah suasana senyap sesaat.
" Tentang anak kita, dan tentangmu," jawab Hangga,
" bukankan kita sudah menemukan jalan keluar untuk tiara, malam ini bahkan kubiarkan dia bersama denganmu?"
" bukan itu,"
" lalu??"
" laki laki bernama Danu itu,"
mendengar nama Danu di sebut, Rani menghela nafas,
" kenapa dengan Danu?"
" aku tidak mau Tiara punya ayah tiri,"
Rani terpaku sesaat mendengar kata kata hangga,
" aku, tidak mau anakku punya ayah tiri, kau dengar itu?" ulang Hangga,
__ADS_1
entah harus kesal atau tertawa, entah dari mana munculnya kesalahpahaman Hangga terhadap danu.
" apa urusannya dengan Danu?"
" kau di depanku saja berani bermesraan dengannya,"
" aku? Bermesraan??"
" iya, dia menyentuh kakimu disana sini seenaknya,"
" dia memijitku?!"
" apa bedanya?"
" memijit?!"
" yang kutangkap kalian sengaja bermesraan di hadapanku,"
" astaga? Sejak kapan memijit kaki berubah menjadi bermesraan?!"
" yang jelas aku tidak mau dia menjadi ayah tiri Tiara," nada bicara Hangga tetap tenang meski sedikit membara.
" kau keterlaluan,"
" kau yang keterlaluan,"
" bukankan kau bilang sudah tidak mengharapkan pernikahan lagi?"
Hangga diam sesaat,
" oh.. Jadi kau senang dengan kata kataku waktu itu? kau tau aku sedang emosi?"
" jadi kalau sedang emosi rasa cinta bisa hilang?"
" tidak hilang, justru semakin bertambah!"
" bertambah? Dimananya yang bertambah? Acuh padaku kau bilang bertambah?"
" wajar jika aku kesal, kesal bukan berarti sayangku hilang,"
Rani kesal, " lalu maumu apa?"
" aku sudah bilang, jangan memberikan Tia seorang ayah tiri?!"
Rani tersenyum kecut, ia merasa geli dengan kata kata hangga, dia kira mudah memberikan tiara seorang ayah tiri, jika mau sudah sejak dulu rani menikah lagi.
" Kau selalu berpikiran aneh, pulanglah!" usir Rani, bangkit dari duduknya,
" kita belum selesai bicara, bagaimana denganmu?" hangga ikut bangkit, ia menarik tangan Rani,
" apanya?"
" perasaanmu pada laki laki bernama Danu itu?"
" kenapa kau selalu membawa bawa danu?"
" karena kau terlalu dekat dengannya?, katakan apa perasaanmu padanya?"
" aku tidak mau menjawab," rani kesal, perempuan itu mengibaskan tangan Hangga dan berjalan masuk ke dalam.
Hangga yang tidak rela ditinggalkan menarik lengan Rani, dan mengangkat tubuh perempuan itu, menggendongnya dan melingkarkan kaki rani ke perutnya, lalu mendorong punggung Rani ke dinding.
" Aku belum selesai bicara.." bisik Hangga di telinga Rani yang terhimpit dan tidak bisa bergerak.
__ADS_1