Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
Iri


__ADS_3

" Bagaimana kabarmu?" Genta berjalan mendekat,


Rani terlihat terkejut, ia membeku di tempatnya, risih, bingung, campur aduk.


" katakan sesuatu Ran..?" genta semakin mendekat,


" aku baik," jawab Rani akhirnya.


" Syukurlah.." genta mengulas senyum,


" kau semakin cantik.. berapa tahun ya kita tidak bertemu?"


rani tidak menjawab, ia hanya tersenyum seadanya.


" Benar itu anak kalian?" tanya genta kemudian wajahnya tampak lebih serius.


Mendengar itu tentu saja Rani merasa tidak senang, bagaimana bisa genta meragukannya, genta bahkan bisa melihat sorot mata Rani yang tidak nyaman.


" maksudku... Kukira.." ucap genta terhenti,


" kau kan tidak mencintai adikku sama sekali, bagaimana bisa..." lagi lagi genta menghentikan ucapannya, dan hal itu membuat rani semakin kesal.


" Memangnya ada yang salah?" tanya Rani berani,


" maksudku...?"


" apa ada larangan suami menyentuh istrinya?" rani semakin kesal.


Genta tercengang dengan jawaban itu, karena sampai detik ini ia masih yakin bahwa Rani sama sekali tidak memiliki perasaan pada Hangga, dan mungkin masih sangat mencintai dirinya.


" Kalian bahkan tidak saling mencintai?" genta masih saja menganggu rani dengan pertanyaan itu.


" apakah cinta itu penting?" tanya Rani,


" kurasa tidak, karena cinta tidak bisa membuatmu setia kepadaku saat itu." tegas Rani ketus membuat genta langsung tertunduk malu.


" Aku sudah bilang berkali kali kalau aku menyesalinya?" ujarnya pelan, setelah lama tertunduk.


" Itu bukan urusanku, jadi lebih baik kau kembali ke tempatmu, kasihan istrimu yang tidak tau apa apa itu," ujar Rani lebih ketus.


" Ta, papamu memanggilmu?!" tiba tiba saja terdengar suara mamanya menengahi,


" sebentar ma?" ujar genta,


" cepat! kau itu?!" tegas mamanya mendekat dan menarik lengan putra tertuanya, sepertinya perempuan tua itu tau, jika genta terus berada disana, akan ada masalah besar yang terjadi.


Dengan langkah berat genta meninggalkan kirani dan mengikuti mamanya.


Sekitar beberapa menit kemudian Hangga datang dengan teh hangatnya, tapi melihat wajah rani yang kesal ia menjadi heran,


" apa yang menganggumu?" tanya Hangga duduk disamping rani,


" tidak ada," jawab Rani pelan, namun wajahnya masih menyiratkan ketidak senangan.


" mas genta kesini?" tanya hangga menoleh ke arah ruang tengah, ia melihat genta duduk dengan papanya,


Rani diam, ia meminum teh hangat yang di berikan oleh hangga.

__ADS_1


" kuenya?"


" tidak, acara sudah berakhirkan? tolong antar aku pulang?" ujar Rani,


" kenapa?"


" aku tidak nyaman, besok kita kembali ke malang kan?"


" iya, besok sore.. akan kujemput.."


" ya sudah, aku mau pulang,"


" kau tidak pamit dengan Tiara?"


" biarkan, dia sedang main, toh dia sudah terbiasa tidur tanpaku sekarang,"


Hangga mengangguk, ia bangkit.


Setelah mengantar Rani kembali ke kediaman Yudi, Hangga langsung kembali kerumah orang tuanya.


Ia tak menyangka kalau Genta masih berada disana, rupanya ia sengaja menunggu putranya yang sedang sibuk bermain dengan Tiara dan sulit untuk di ajak pulang.


laki laki berkemeja biru tua dengan lengan panjang itu berjalan begitu saja melewati kakaknya, ia tak berkata sepatahpun sejak acara di mulai sampai acara berakhir, hal itu benar benar membuat Genta merasa tidak di hargai.


Setelah mengganti bajunya dengan kaos oblong dan celana pendek, hangga mengintip putrinya yang sedang bermain dikamar hanum dengan asik.


laki laki itu tersenyum senang melihat betapa ceria putrinya, setelah itu hangga berjalan menuju halaman belakang, Hangga duduk di halaman belakang itu dengan santai, membakar sebatang rokoknya, karena sedari tadi ia tidak merokok.


Baru beberapa hisapan, terlihat genta berdiri disampingnya tiba tiba.


Hangga cukup kaget, namun setelahnya ia kembali acuh, menganggap tidak ada satupun manusia yang berdiri disampingnya.


Hangga masih diam,


melihat hangga diam, genta beralih ke hadapan Hangga.


" Apa sih maumu mas? Kau menghalangi pandanganku," ujar hangga akhirnya karena ia memang terganggu, padahal ia sedang asik memandangi ikan yang berenang kesana kemari.


" Aku ini kakakmu?"


" siapa bilang bukan?" jawab Hangga acuh, masih menghisap rokoknya.


" bagaimana bisa kau melakukan itu padaku?" tuntut genta,


" melakukan apa?" hangga tidak mengerti,


" bagaimana bisa kau memiliki anak dengan Rani?" tanya genta,


dahi Hangga langsung berkerut,


" maksudmu mas?" raut wajah genta sudah berbeda.


" kalian kan menikah karena terpaksa, kau juga menikah karena menggantikan ku?"


" lalu?" suara Hangga dalam dan tegas,


" tidak seharusnya??!"

__ADS_1


" tidak seharusnya apa maksudmu mas?"


" tidak seharusnya kau menyentuhnya? Kukira kau cukup tau diri dengan tidak menyentuhnya, karena itu kau segera menceraikannya?!"


mendengar itu hangga tersenyum kecut,


" terpaksa atau tidak dia tetap istriku, perduli apa mas aku menyentuhnya atau tidak?" jawab hangga membuat Genta semakin panas.


" kau mengkhianati kepercayaanku?!"


" kepercayaan yang mana?"


" dia kekasihku saat itu?!"


" kau meninggalkannya,"


" kau hanya pengganti?"


" lalu kenapa jika aku hanya pengganti?" tantang hangga,


" beraninya kau menidurinya?! Aku bahkan selalu berhati hati saat menyentuhnya?!" genta merasa iri dan sakit hati,


" aku memang lari, tapi bukan berarti kau boleh menyentuhnya seenakmu? Dia tidak mencintaimu? Dia mencintaiku?!"


" omong kosong, kau narsistik.. Sejak pacaran kulihat hanya kau yang mendominasi, dia harus selalu menuruti kemauanmu dan dia harus selalu mengalah," ujar hangga membuang rokoknya.


" kau memperhatikan hubungan kami sampai sedalam itu? Padahal kau jarang bicara?"


" siapa yang tidak melihat wajah tertekannya setiap datang kerumah ini, kau selalu memaksakan kehendakmu kesana dan kemari, bahkan sering meninggalkannya sendiri disini?"


" oh, jadi kau selama itu memperhatikannya? atau..


jangan jangan kau sejak dulu sudah menaruh hati pada kekasih kakakmu?"


Hangga tersenyum getir,


" kalau iya kenapa?" hangga mendongak, menatap kakaknya tanpa rasa takut.


Mendengar itu sontak wajah genta memerah, ia menarik baju hangga yang sedang duduk itu hingga berdiri.


" Jadi kau sejak dulu menyukai kekasihku diam diam?!" tanya Genta tegas.


" iya, kenapa? Kau tidak terima? Kau sendiri yang meninggalkannya dan memberikannya kepadaku!" tegas Hangga tak kalah keras.


Tanpa aba aba sebuah tinju melayang ke wajah hangga, rupanya genta tidak sanggup lagi menahan dirinya.


Merasakan wajahnya di pukul dengan keras, tentu saja hangga membalas, bahkan lebih keras sehingga genta terjerembab di atas rerumputan di halaman belakang itu.


Tidak berhenti disana, genta bangkit, berusaha memukul hangga kembali, tapi hangga menampik pukulan itu dan memukul wajah genta beberapa kali, tentu saja, postur tubuh hangga lebih gagah dan lebih tinggi.


Keduanya berkelahi dan sampai bergulat di atas rumput.


Tak seorang pun dari keluarga menyadari bahwa ada perkelahian di halaman belakang, hingga si asisten rumah tangga berteriak keras,


" Tolongg! Tolonggg!!! Mas Hangga dan mas genta berkelahi?!!!"


setelah mendengar itu semua orang berlari ke arah belakang,

__ADS_1


" apa apaan kalian ini?!!" tegas papanya memisahkan kedua putranya, tapi papanya malah ikut terjerembab ke rumput, tenaganya tidak cukup kuat untuk memisahkan kedua putranya.


__ADS_2