Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
kujemput nanti


__ADS_3

Rani sampai dirumah, air matanya tumpah, ia langsung menelfon Yudi, mengeluh pada kakaknya.


" Dia sudah tau kalau Tiara adalah putrinya mas, dan sekarang dia membawa Tiara,


sudah kuminta baik baik, tapi dia tidak menyerahkan Tiara?


bagaimana ini mas, bagaimana kalau Tiara diambil?


mereka keluarga yang berkecukupan, mereka bisa menggunakan uangnya untuk.. untuk merebut Tiara dariku??" Rani sesegukan,


" Tenangkan dulu dirimu," ujar Yudi dari balik telfon,


" bagaimana aku bisa tenang mas?? Hangga mengancam akan merebutnya??"


" itu jika kau bertindak tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan bukan?


maka berilah dia jalan untuk bersama putrinya, kau sudah harus mulai menerima itu semua,


Tiara bukan hanya anakmu saja.."


" setidaknya bantu aku mas, datanglah kesini??!" pinta Rani dengan air matanya,


" bicaralah padanya, aku takut, karena setiap melihatku amarahnya seperti naik.." imbuh Rani,


Yudi menghela nafas,


" memang aku harus kesana, tunggulah besok, setelah pulang kerja aku akan kesana untuk bicara dengan Hangga, sekarang kau tenanglah..


jangan terlalu cemas, toh Tiara ada di tangan ayah kandungnya sendiri, dia akan makan dan tidur dengan baik.." ujar Yudi menenangkan adiknya yang kacau itu.


Pagi menjelang,


Hangga sibuk membantu Tiara memakai seragamnya yang diantarkan mak Dar tadi malam,


sedangkan bu Woyo sibuk menyiapkan sarapan.


" Sarapan non Tiara sudah siap mas.." ujar bu Woyo,


" bu, bisa bantu saya ikat rambutnya?" pinta tolong hangga karena kesulitan menguncir rambut,


melihat itu bu Woyo tersenyum,


" sebentar, saya ambilkan ikat rambut di kamar saya.." pamit bu Woyo untuk mengambil ikat rambut di tempatnya.


" Sembari menunggu, Tiara dan Hangga sarapan, di lihatnya putrinya itu lekat, sejak subuh mata Hangga berbinar senang meski ia harus repot mengurusi Tiara yang kebiasaannya belum terlalu ia pahami.


Tidak rewel saja Hangga sudah senang,


meski semalam sempat terbangun beberapa kali mencari bundanya.


" Om.." panggil Tiara,


" ayah.. coba panggil ayah sayang..?" pinta Hangga pelan pelan,


Tiara diam, tak menjawab,


" ya sudah, panggil om saja tidak apa.. kenapa?" hangga sadar Bagi Tiara mungkin hal ini terlalu cepat dan membingungkan,


" kapan Tia ketemu bunda?"


" nanti di sekolah kan ketemu bunda?"


" apa bunda tidak marah tia tidur disini?"


" tidak sayang, ayah sudah bicara dengan bunda.. nanti pulang sekolah ayah jemput Tia ya?"


" kenapa? tia mau dirumah saja dengan mak Dar.."

__ADS_1


" Ayah akan panggil mak Dar nanti ya?"


" benar?"


" benar.. Tapi tia tetap disini, kalau rindu bunda, Tia boleh telfon biar bunda kesini.."


" ini kan bukan rumah Tia?"


" lho? Ini rumah Tiara.. Semua yang ada disini punya tia.."


" bunda tidak bilang begitu?"


" bunda tidak sempat bilang karena bunda sibuk.. tapi sekarang tia tau kan?"


gadis kecil itu terlihat berpikir, rautnya bingung,


" Nanti malam mau main ke batu?"


" kita naik bianglala di alun alun dan main ke BNS?"


mendengar itu wajah tia yang tadinya bingung menjadi bersemangat,


" mau?! dengan bunda?"


" dengan mbah uti dan mbah kung, ada juga tante Hanum.."


" asik! Tante hanum! Tapi.. tia mau dengan bunda juga??"


" kaki bunda masih sakit kan?"


Tiara mengangguk,


" kasihan bunda, tapi nanti coba saja Tia ajak bunda, oke?" hangga mengelus kepala putrinya,


" ya sudah, maem dulu ya?" Hangga benar benar senang melihat senyum ceria putrinya kembali.


sementara di kelas itu sudah ada Rani dan diah yang menunggu.


Melihat Rani Tiara langsung berlari ke pelukan Rani, keduanya saling memeluk seakan akan lama terpisah, padahal baru semalam saja.


" Akan kujemput jam sepuluh," ujar Hangga mundur lalu berbalik, tatapannya sungguh datar, tak akan kehangatan seperti kemarin kemarin.


" Sayang? Tidurmu nyenyak tadi malam?" tanya Rani,


" nyenyak, cuma tia cari bunda terus..?"


Rani mengulas senyum sedihnya,


" siapa yang menguncir rambut Tia?" tanya Rani melihat Rambut Tia sudah rapi dan di kuncir dua.


" ibu Woyo.." jawab Tiara polos,


" oh ya, tiara suka dengan bu Woyo?"


" bu Woyo baik bunda,"


" mak Dar juga baik.."


" sama baiknya!" jawab Tiara semangat,


" tia sarapan apa pagi ini?"


" Soto ayam.."


" enak?"


" enak bunda.." tiara mengangguk,

__ADS_1


" Tiara senang tinggal disana?"


" senang, tapi tidak ada bunda..?? dan tiara bingung.."


Rani mengerutkan dahi,


" bingung? bingung kenapa nak?"


" hek emmm! Bingung.. masa Tiara disuruh panggil ayah..?"


Rani terdiam tiba tiba, ia beradu pandang dengan Diah yang duduk tak jauh darinya, seakan tau perasaan Rani dan betapa sulitnya rani menjelaskan, akhirnya Diah ikut bicara.


" Tidak apa.. Itu memang ayah Tiara.." suara diah pelan,


Tiara memandang diah sesaat lalu tatapannya berpindah pada bundanya,


" bunda?" tiara memanggil bundanya berharap mendapatkan kalimat yang dapat menguraikan kebingungannya.


" Panggil saja ayah.. karena om Hangga memang ayah Tia.." akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Rani.


Tiara diam, mencerna kalimat bundanya,


" katanya ayah kerja jauh?"


" iya, waktu itu om hangga memang kerja jauh, tapi sekarang sudah pulang,


tiara jangan bingung ya..


itu memang ayah Tiara, Tiara boleh memanggilnya ayah mulai sekarang.."


" tidak seperti om danu?"


" om Danu itu teman baik mama sejak kecil, om danu baik seperti pak dhe, tapi bukan ayah Tiara, ayah Tiara adalah om Hangga.." jelas Rani,


" jadi Tiara boleh panggil Ayah?"


" boleh sayang, karena dia memang ayah Tiara.."


mendengar itu Tiara mengangguk pelan.


" Nanti malam, bunda ikut ya?"


" kemana??"


" Tiara mau di ajak main, ada mbah kung, uti, dan tante hanum.."


Deg..


Rani lagi lagi diam, hangga sudah memberitahu seluruh keluarganya, bagaimana ini, ia akan semakin sulit mengambil tiara kembali.


Banyak guru guru yang heran melihat Hangga mengantarkan Tiara, Hangga berpapasan dengan pak Suroto saat akan kembali ke motor yang ia pinjam dari sunar.


" Pagi mas putra?!" pak Suroto ceria,


" pagi pak," jawab Hangga bersalaman,


" mengantar Tiara?"


" nggih pak.." Senyum Hangga terkembang,


" alhamdulillah, ya begitu, yang akur.." ujar pak Suroto tersenyum cerah sekali.


Hangga hanya mengangguk,


" mari pak, saya duluan, mau tanam bibit.." pamit Hangga tidak ingin berlama lama bicara,


" oh, nggih nggih monggo..!" persilahkan pak Suroto.

__ADS_1


__ADS_2