THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
TURUN TANGAN


__ADS_3

Keekan kini sudah berada di dalam pesawat yang akan membawanya ke Kota New York. Di sana ia akan beralih dari sekretaris Direktur Operasional menjadi sekretaris CEO Alpenze Coorp, sungguh suatu peningkatan yang luar biasa.


* Flashback on


Kee? - Neo tak menyangka ia akan kembali bertemu dengan wanita yang pernah ia sakiti. Namun, Keekan sama sekali tak menyapanya. Wanita itu hanya melihatnya sekilas, kemudian fokus pada Zero.


"Aku tidak bisa berlama lama, berikan saja tiketnya," ujar Keekan. Awalnya ia ingin bertanya banyak hal pada Zero, tapi ia urungkan karena ia tak ingin terlalu lama berdekatan dengan Neo.


"Kamu hubungi Alexa jika kamu ingin tahu lebih lanjut mengenai semuanya. Aku akan mengirimkan One untuk menjemputmu besok pagi. Maaf aku tak bisa mengantarmu, ada sesuatu yang harus kuselesaikan," ucap Zero.


"Tidak masalah. Terima kasih," Keekan meraih tiket dan paspor miliknya, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Zero dan juga Neo.


"Itu ..."


"Ahhh dia adalah sekretaris Alexa," ucap Zero.


Alexa?


"Ooo putri Tuan Azka," ucap Neo.


"Ya."


"Apa dia tidak ada di sini?" tanya Neo mengorek informasi.


"Hmm ... Alexa sedang berada di Kota New York. Aku juga akan pergi ke sana setelah semua pekerjaan di sini selesai. Kita akan berbincang lagi setelah aku kemvali dari sana," lanjut Zero. Meskipun Axton tak memerintahkannya, tapi bagi Zero Alexa adalah adiknya juga. Ia akan membantu wanita itu, terutama untuk mencari orang yang bisa dipercaya untuk berada di dekatnya.


* Flashback off


*****


"Tuan!" tanpa mengetuk pintu lagi, Neo masuk ke dalam ruangan kerja Michael. Bukannya melihat atasannya itu sedang bekerja, tetapi malah sedang tertidur di sofa. Michael menutup kedua mata dengan sebelah lengannya.


"Ya ampun, kirain kerja ... Tau taunya malah tidur," gumam Neo.


"Apa kamu mulai mengumpatku, Neo?!" mata Neo membulat. Ia tidak mengira bahwa ternyata Michael tidak tertidur.

__ADS_1


"Ahhh tidak tidak. Aku datang ke sini karena ada informasi terbaru."


"Informasi?"


"Ya, putri Tuan Azka, Alexa Snowy Williams, saat ini sedang berada di Kota New York," ucap Neo.


New York?


Di dalam hati Neo, ia sangat berharap atasannya itu untuk segera berangkat ke Kota New York. Semua itu karena ia ingin sekali berbicara 4 mata dengan Keekan dan menjelaskan semuanya.


Michael sebenarnya ingin memastikan apakah Alexa itu sama, namun ia tidak tahu di mana ia akan menemukan Alexa di Kota New York yang bisa dikatakan kota besar.


"Apa kamu tahu di mana dia?" tanya Michael.


"Di New York."


"Aku juga tahu. Tapi apa kamu tahu persis di mana posisinya?" Neo mulai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena memang ia tidak tahu akan hal itu. Ia benar benar kekurangan informasi.


*****


Di dalam sebuah hotel, Sisca menyalurkan naf sunya yang sudah tak terkendali lagi. Terlalu lama tak disentuh oleh Darren membuatnya terpaksa mencari jalan lain. Sisca sebenarnya adalah orang yang setia pada pasangan, asalkan pasangannya itu mampu memuaskannya secara lahir maupun batin.


Keadaan Sisca yang tengah hamil, membuat tubuhnya terlihat berisi di bagian bagian yang disukai oleh pria. Ia terus menger ang dan mendes sah hingga suaranya terus memenuhi kamar yang tidak kedap suara itu. Beberapa staf hotel dan juga pengunjung yang lalu lalang di depan kamar, bisa mendengar apa yang terjadi di dalam kamar tersebut.


Dengan hentakan yang lebih cepat, pria itu pun bersiap untuk mengakhiri permainannya. Ia tak menggunakan pengaman karena kondisi Sisca yang tengah hamil membawa keuntungan tersendiri baginya. Menggunakan pengaman sangatlah tidak enak baginya karena rasa sentuhan akan kehangatan masing masing inti mereka akan terasa berbeda.


"Ahhh!!!" Keduanya berteriak ketika sama sama mencapai puncaknya. Pria itu kini berbaring persis di sebelah Sisca dengan miliknya yang masih terus berdiri dengan tegaknya.


Tubuh Sisca yang terlihat begitu berisi membuatnya ingin kembali menyentuhnya, namun ia berusaha mengurungkannya karena baginya tenaga adalah uang.


"Lakukan lagi, aku menginginkannya lagi," ujar Sisca yang merasa masih menginginkan sentuhan. Ia seakan tak peduli dengan keadaannya yang tengah hamil dan levih fokus pada naf sunya yang benar benar perlu disalurkan.


"Tidak bisa, kamu hanya membayarku untuk melakukannya sekali saja," ucap pria itu.


"Aku akan membayarmu lagi, tenang saja. Uangku banyak, jadi lakukanlah lagi," tanpa rasa malu, Sisca bahkan mulai tidur menyamping dan membelai lembut dada pria itu dan kembali memberikan rang sangan yang tentu saja disambut dengan senyuman sinis dari pria itu.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya kembali mengulangi pergulatan panas di dalam kamar hotel tersebut hingga Sisca menyatakan berhenti.


*****


"Aku berusaha menahan keinginanku, tapi ternyata mereka berdua sama saja," ucap Alexa ketika melihat beberapa foto yang dikirimkan oleh salah satu anggota Black Alpha yang ia tugaskan untuk mengawasi Sisca.


Alexa menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Keadaan Sisca yang tengah hamil dan kecintaan Alexa pada anak anak, sempat mengurungkan niatnya untuk membalas dendam. Namun, melihat apa yang dilakukan oleh Sisca, yang tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Darren, membuat niat awalnya pun kembali.


Ia mengambil ponsel dan menghubungi James, "James, lakukan rencana awal kita."


"Kamu yakin, Nona?" tanya James sekali lagi.


"Aku yakin."


Rencana mereka untuk menjatuhkan Perusahaan Evans kini akan segera dimulai kembali. Mereka akan membuat sebuah project besar yang tak akan mungkin ditolak oleh Darren.


Bukan itu saja, tapi Alexa-lah yang akan langsung turun tangan menangani proyek ini. Ia akan membuat Darren mengetahui bahwa pemilik Alpenze adalah dirinya. Bukankah Darren sangat menginginkan sebuah kekuasaan, harta, bahkan wanita. Semua keinginan pria ada dalam diri Darren, hingga akan mudah sekali menjatuhkannya.


*****


Lala masuk ke dalam ruang kerja Darren. Kali ini ia tak lagi masuk dengan penuh ketakutan, tapi justru dengan wajah yang berbinar karena ia sangat yakin kalau atasannya itu akan merasa senang luar biasa.


"Tuan."


"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?" Darren menatap Lala dengan tatapan kesal.


"Tapi Tuan, ini sangat penting sekali," ujar Lala.


"Seberapa penting? Cepat katakan! Jika sampai tidak pentinv seperti katamu, maka aku akan segera memecatmu!" ancam Darren yang memang sudah sangat kesal dengan tingkah laku Lala yang tidak sesuai dengan keinginannya.


"Tuan James dari Alpenze Coorp baru saja menghubungi. Mereka mengatakan bahwa mereka akan mulai mengadakan proyek kerjasama pertama dengan anda. Selain itu, pimpinan Alpenze sendiri yang akan bertemu dengan anda. Namun anda harus pergi ke Kota New York."


Alpenze?


🧡 🧡 🧡

__ADS_1


__ADS_2