
Teriakan dan suara decitan mobil saling bersahutan. Sisca bergerak menjauh setelah ia mendorong kursi roda yang diduduki oleh mantan mertuanya itu. Ia langsung bersembunyi agar tak ada yang melihat keberadaannya.
Sebuah senyuman terbit di wajahnya ketika melihat salah seorang yang mendekat ke arah mantan mertuanya, menggelengkan kepalanya. Itu artinya rencana menyingkirkan mantan mertuanya itu telah berjalan sempurna. Sisca pun segera berlalu dari sana tanpa peduli lagi.
Sesampainya di kediaman Rajeev,
Plakkk
"Ke mana saja kamu, hah?!" teriak Rajeev.
"Aku hanya ke Mall sebentar. Ada sesuatu yang harus kubeli," ucap Sisca beralasan.
"Beli! Beli! Apa kurangnya isi rumah ini, tiap hari selalu ada saja yang mau kamu beli!" Rajeev yang sudah menikahi Sisca selama 2 bulan, mulai merasa jengah dengan kelakuan istri keduanya itu.
Ia terpaksa harus menikah lagi karena butuh tempat pelampiasan hassratnya dan ia tak ingin jajan di luar. Sementara ia juga terpaksa harus menceraikan istri pertamanya karena sering bepergian ke luar negeri.
Namun belakangan ia baru tahu bahwa istri pertamanya sedang sakit hingga harus berobat ke luar negeri. Ia menyesal telah menceraikan Anjali dan justru mendapatkan istri kedua yang kerjanya hanya berbelanja terus.
*****
1 minggu berlalu sejak kedatangan Sisca ke rumah sakit tempat Michael bekerja.
"Sus, apa Nyonya Fransisca Leora tidak datang lagi ke sini ataupun sekedar menghubungi?" tanya Michael sambil melihat laporan lab yang ia pegang.
"Tidak ada sama sekali, Dok."
"Kalau begitu, tolong simpan laporan ini, kalau kalau ia kembali. Sebenarnya ia harus segera mendapatkan perawatan, atau itu semua akan terlambat untuknya," ucap Michael.
Hari ini ia akan menemui anak seorang petinggi negara, seperti yang dikatakan oleh Dokter Gemma. Awalnya ia dipaksa untuk mengesampingkan jadwal prakteknya, namun hal itu ditolak mentah mentah oleh Michael.
Apa hanya karena 1 orang anak petinggi negara, lalu saya harus mengorbankan para pasien lain yang ingin melakukan pemeriksaan? Jika memang menurut Dokter anak petinggi negara itu jauh lebih penting, maka rujuk saja pada dokter yang lain, karena saya tidak akan menerimanya. - ucap Michael kala itu, ketika Dokter Gemma mengatakan padanya beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Sus, pemeriksaan bisa dimulai," ucap Michael setelah menyerahkan laporan milik Sisca pada Suster Franda.
*****
Sore itu, dilakukan pertemuan antara Michael dengan salah seorang anak petinggi negara Jerman. Michael melirik ke arah jam di pergelangan tangannya, sudah lewat 1 jam sejak waktu yang disepakati.
Michael memang merasa bahwa dirinya belakangan ini sedikit berubah. Ia tak suka dengan keterlambatan, ketidakdisiplinan, bahkan ia tak suka dengan orang orang yang merasa dirinya berkuasa dan bisa menggunakan kekuasaannya itu untuk menekan orang lain.
Ia bangkit dari duduknya dan meraih ponselnya. Baru saha ia mau keluar dari ruangannya, seorang wanita bersama seorang pria datang.
"Dokter Lee?"
"Ya, saya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kenalkan, namaku Esmeralda dan ini suami saya Fernando Luis. Kami ada janji dengan anda, Dokter," ucap Esme.
Michael melihat ke arah pria yang berdiri persis di sebelah Esme. Ia ingat dengan persis siapa pria itu.
"Kami sudah membuat janji, Dok. Dan ingatlah bahwa saya adalah putri dari Menteri di sini," ucap Esme dengan arogan.
"Bagi saya sama saja, Nyonya. Anda mau putri seorang menteri ataupun putri dari tetangga saya, sama sama manusia. Tak ada yang lebih tinggi derajatnya. Anda terlambat dan saya memiliki janji lain. Jika memang anda masih ingin berkonsultasi dengan saya, sebaiknya anda tepat waktu. Anda bisa mengatur janji lagi dengan Suster Franda," Michael sebenarnya ingin memberikan waktunya meskipun hanya 30 menit. Namun ketika mendengar Esme mulai menggunakan statusnya sebagai putri seorang menteri, Michael langsung mengurungkan niatnya.
"Anda tidak bisa memperlakukan saya seperti ini, Dok! Saya akan melaporkan anda pada Dokter Gemma!" teriak Esme.
Tanpa menoleh ke belakang, Michael pun pergi meninggalkan rumah sakit. Ia harus pergi ke pinggir Kota Berlin. Di sana ada sebuah panti jompo dengan pemandangan alam yang luar biasa. Hari ini ia menjadwalkan pemeriksaan untuk semua penghuni di sana, tanpa kecuali.
*****
"Aunty! Aku tidak terima. Dokter Lee seenaknya saja meninggalkan aku," Esme mengungkapkan kemarahannya pada Dokter Gemma.
Dokter Gemma menghela nafasnya pelan. Ia tahu dengan persis seperti apa Michael. Sebelumnya ia juga sudah memberitahu pada Esme agar datang tepat waktu.
__ADS_1
"Mengapa kamu bisa terlambat?" tanya Dokter Gemma pada keponakannya itu.
"Aku harus melakukan perawatan dulu di salon. Lihat, kuku kukuku cantik bukan?" pamer Esme pada dokter Gemma.
Dokter Gemma kembali menggelengkan kepalanya. Ia melihat ke arah suami Esme yang tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya tanpa mempedulikan sekitar.
"Apa tidak ada dokter lain, Aunty? Aku sudah kesal pada Dokter Lee dan aku tidak mau lagi memakai jasanya," ucap Esme dengan manja.
"Dokter Lee adalah satu satunya Dokter yang mendapat kesempatan untuk belajar pada Dokter Nora secara privat selama 2 bulan," ucap Dokter Gemma.
"Kalau begitu, minta saja Dokter Nora untuk membantuku. Ia pasti bisa membuatku segera hamil, bukan?"
"Saat ini Dokter Nora sudah ikut putrinya pergi berkeliling dunia. Ia sudah pensiun dari dunia kedokteran. Tak ada yang lebih pasti selain Dokter Lee. Atau mungkin lebih baik kamu mengadopsi anak saja."
"Tidak! Aku tidak mau, Aunty! Aku hanya akan mengurus anakku, tidak anak yang lain. Sayang, cepat katakan pada Aunty, bahwa kita tidak mau punya anak yang tidak jelas asal usulnya," Esme meminta bantuan Nando untuk membantunya bicara, namun suaminya itu terus saja asyik dengan ponselnya.
"Kalau begitu, buatlah janji lagi dengan Dokter Lee dan lain kali jangan terlambat."
Esme menghela nafasnya kasar. Ia sebenarnya tak ingin menggunakan jasa Michael lagi, namun hanya Michael yang bisa membantunya untuk cepat mendapatkan keturunan. Ia harus mengikat Nando, karena pria itu semakin sering bepergian ke Indonesia belakangan ini. Esme mulai menaruh curiga pada suaminya itu.
Esme akhirnya berdiri dan menarik Nando, "Ayo kita pulang! Cepat!!!"
"Iya, sabar!" Nando berkata sedikit tinggi.
"Jangan berteriak padaku!" ucap Esme dengan tinggi juga, "Aku akan mengatakan pada Dad kalau kamu berteriak padaku!"
"Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku sedang pusing karena pekerjaanku semakin banyak."
"Di Indonesia lagi?" tanya Esme.
🧡 🧡 🧡
__ADS_1