
Kabar pertunangan antara Michael dan Alexa, mulai menjadi perbincangan di media. Keduanya dianggap sangat serasi dan sepadan karena berasal dari keluarga pengusaha. Mungkin saat ini kedua keluarga itulah yang menjadi trending topik hampir setiap hari.
Darren yang duduk di belakang meja kerjanya, membanting ponselnya ke atas meja. Ia mendengus kasar melihat kebahagiaan Alexa.
"Ia akan bertunangan? Semudah itu dia bertunangan? Tak mungkin! 6 tahun kami menjalin hubungan, tak mungkin semudah itu ia melupakanku," gumam Darren.
Ia bangkit dari duduknya. Ruang kerjanya terlihat sangat berantakan. Kini ia tinggal dan bekerja di tempat yang sama karena rumah Keluarga Evans telah ia jual untuk menambah modal, yang pada akhirnya berakhir sia sia.
"Apa jangan jangan kamu dijodohkan? Ya, keduanya adalah keluarga pengusaha, sudah pasti ia dijodohkan. Aku harus menemuinya. Aku akan membuatnya kembali mengingat momen kebersamaan kami."
Darren meraih kunci mobilnya, satu satunya aset miliknya yang kini tersisa, karena ruko yang ia tempati pun hanya berstatus sewa. Ia menyalakan mobilnya dan langsung menuju ke kediaman Keluarga Williams.
Ia memarkirkan mobilnya agak sedikit jauh dari pintu utama. Ia ingin melihat situasi terlebih dahulu. Tak berapa lama, Darren melihat sebuah mobil keluar dari kediaman Keluarga Williams dan ia sangat yakin itu adalah mobil milik Alexa.
Darren segera menyalakan mobilnya dan mengikuti. Bukankah suatu kesempatan baginya menemui Alexa di luar kediaman Keluarga Williams. Bahkan tanpa ia minta, seakan Tuhan mengijinkannya.
Mobil Alexa berhenti di sebuah klinik yang tak terlalu besar. Di depannya terdapat plang bertuliskan Klinik Kebidanan dan Kandungan.
"Sudah kuduga, tak mungkin ia akan menikah secepat itu. Ternyata kesucian yang kamu agung agungkan selama ini hanya omong kosong. Ternyata kamu sudah hamil terlebih dulu, karena itu kalian akan melangsungkan semuanya dengan cepat," ucap Darren.
Alexa keluar dari klinik itu bersama dengan Michael. Darren menyipitkan matanya, "Ah ternyata pria pilihanmu tak setampan diriku, Al. Seleramu semakin rendah saja."
Darren kembali berkaca melalui spion dan memperhatikan wajahnya sendiri. Rambut yang berantakan, wajah yang semakin tirus tak terurus, kumis yang mulai bermuncul karena tak dibabat selama beberapa hari, juga kantung mata yang mulai menebal dan berwarna hitam.
Ia mengambil sisir di dalam laci dashboard mobilnya dan mulai merapikan penampilannya. Ia akan berusaha tampil setampan dan segagah biasanya. Ia tak mau Alexa menilainya buruk.
Mobil Darren yang mengikuti Mobil Alexa, berhenti di sebuah restoran cepat saji. Ia melihat Michael dan Alexa turun bersama dan masuk ke dalam restoran itu.
"Ya ampun, Al. Aku tak menyangka bahwa kelas restoranmu pun kini sudah turun. Kamu seharusnya tetap bersamaku karena aku tak akan pernah mengijinkanmu makan di restoran cepat saji seperti ini," ucap Darren di dalam mobil sambil memperhatikan.
*****
Michael dan Alexa memilih restoran cepat saji karena setelah ini, mereka akan langsung pergi mengunjungi panti asuhan di mana Bu Listy berada.
"Kamu tahu, Mic. Sejak dulu aku ingin makan di sini bersama kekasihku, tapi tak pernah bisa."
__ADS_1
"Jadi kamu tidak pernah makan di restoran cepat saji?" tanya Michael penasaran.
"Tentu saja pernah. Aku makan diam diam seorang diri," jawab Alexa tersenyum kecil.
"Mengapa tidak bersama?"
"Karena ia tak pernah mau makan di tempat seperti ini, katanya bukan levelnya," Alexa sedikit menghela nafasnya pelan.
"Sekarang kamu punya diriku. Katakan padaku apa yang kamu inginkan, apa yang mau kamu lakukan, apa yang mau kamu makan, selama itu tidak berbahaya, aku akan mengijinkan dan menemanimu."
"Hi Al! Ternyata level makanmu sudah menurun sekarang setelah berpisah denganku," ucap Darren sambil menatap keduanya dengan kacamata hitam yang bertengger di wajahnya.
"Lalu, apa bedanya denganmu yang sekarang berada di sini?" tanya Alexa.
"Aku datang ke sini karena ingin bicara denganmu," jawab Darren.
"Bicara denganku? Apa tidak salah?"
Michael diam dan melihat interaksi antara Darren dan Alexa. Ia ingin melihat sejauh apa keduanya berbincang.
Michael tersenyum seakan menertawakan keberanian Darren. Ia tak menyangka pria di hadapannya ini sama seperti mantan kekasihnya yang tidak punya malu. Ia sangat tahu dan mengerti apa arti tatapan yang diberikan Darren pada Alexa dan ia tak akan membiarkan Alexa hanya berdua dengannya.
"Aku tak mengijinkan," ucap Michael.
"Ini bukan urusanmu. Ini urusanku bersama Alexa dan tak ada sangkut pautnya sama sekali denganmu."
"Alexa adalah calon istriku. Urusannya adalah urusanku dan aku tak mengijinkan ia berbicara denganmu berdua. Jika memang ingin berbicara, silakan bicara di sini," ucap Michael lagi menegaskan.
Darren yang tak suka dengan Michael yang mulai ikut campur dengan urusannya dengan Alexa, langsung menarik kerah kemeja Michael dan mengangkatnya. Darren memberikan tatapan penuh amarah dan kekesalan pada Michael.
"Sudah kukatakan jangan mencampuri urusanku!"
Michael tak melawan, ia tak ingin membuat keributan di restoran cepat saji tersebut. Selain banyak anak anak, itu juga akan mengganggu kelangsungan restoran tersebut.
"Kita pulang saja, Al," ajak Michael menggenggam tangan Alexa.
__ADS_1
Darren yang melihat itu langsung ingin menarik Alexa, namun Michael langsung menarik Alexa ke belakang tubuhnya.
"Sudah kukatakan jangan mencampuri urusanku dengan Alexa. Aku ingin bicara berdua dengannya!" semakin lama suara Darren semakin meninggi dan Michael sangat yakin pria itu akan membuat keributan di sana jika ia tak segera keluar.
"Sebaiknya kita keluar sekarang, Al," bisik Michael dan diangguki Alexa.
Dengan cepat keduanya menuju ke pintu keluar dan Darren segera menyusul mereka. Ia tak mau melihat Michael menang dengan bisa membawa Alexa. Ia tak terima kekalahan apapun. Ia yang akan menikah dengan Alexa dan ia juga yang akan menjadi pimpinan tertinggi dari Alpenze Coorp. Ia tak perlu lagi mengurus perusahaan kecilnya yang tak menghasilkan keuntungan sama sekali.
Di area parkir mobil,
"Berhenti, Al! Atau aku akan membunuhnya!" ucapan Darren sontak membuat Michael dan Alexa menoleh.
Mereka tak menyangka bahwa Darren mengambil salah satu anak dari pengunjung restoran cepat saji itu dan menjadikannya sandera. Darren bahkan memegang sebuah pisau di tangannya.
"Lepaskan dia, Dar!"
"Tidak akan kulepaskan sebelum kamu ikut denganku, Al!" teriak Darren, sementara anak yang dipegang Darren terus menangis.
Kurang ajar! Berani sekali dia menggunakan anak anak untuk mendapatkan keinginannya. - Michael.
"Berikan anak itu padaku. Ia tidak bersalah apapun," ucap Michael.
"Kamu mau sok pahlawan, hah?! Kemarilah, lawan aku! Aku tahu siapa kamu dan dirimu tak akan pernah sebanding denganku," ucap Darren.
Michael menghela nafasnya, "Baiklah, aku lawanmu. Tapi lepaskan anak itu."
Darren melonggarkan pegangannya dan anak itu langsung berlari ke arah Michael. Saat itu, tanpa Michael sadari, Darren juga berlari mendekat. Tujuannya bukan untuk menyerahkan sanderanya tapi membuat Michael lengah dan menghabisinya.
Ssettttt ....
🧡 🧡 🧡
Tuh kan Mas Mic, aku dah bilang sama aku aja, aman damai tentrem. Coba Mas Mic pilih Cherry, Cherry ga bakalan dendem kaya gini ampe bawa2 Telor Dadar.
Cherry tuh cuma butuh Mas Mic loh, tenang Cherry kasi kesempatan kedua buat Mas Mic nih.
__ADS_1
Cherry tunggu ya di pengkolan depan warung gorengan, ntar aku traktir deh.