
"Apa yang kamu katakan, Fred?"
"Berdasarkan hasil tes DNA, maka aku menyatakan bahwa anak yang dikandung oleh Sisca adalah benar anakmi, darah dagingmu," jelas Dokter Freddy yang membaca hasil test tersebut di hadapan Darren.
"Tidak mungkin. Kamu pasti berbohong. Tes itu pasti salah."
"Tidak salah, Dar. Anak yang dikandung Sisca adalah putramu."
"Tidak! Tidak mungkin!" Hati Darren merasa sakit saat mengetahui bahwa anak yang ada dalam kandungan Sisca adalah putranya. Itu berarti putranya telah tiada dan dia telah memakamkannya. Ia bahkan tidak mengakuinya.
Darren mengepalkan tangannya, kekesalan tiba tiba saja masuk ke dalam hatinya.
"Ini semua adalah kesalahannya! Jika saja ia tidak memperlihatkan foto foto itu, aku tidak akan mencurigai Sisca dan putraku tidak akan meninggal. Ia harus bertanggung jawab," ucap Darren dengan amarah di dalam hatinya.
*****
1 bulan berlalu, Perusahaan Thomas kini telah berubah. Kepemimpinan Alexa membuat semuanya terasa berbeda. Neo pun memuji cara kerja Alexa dan Sabrina mengangkat jempolnya karena kagum dengan kecerdasan Alexa.
"Kak, Aku harus pergi ke New York. Ada yang harus kukerjakan di sana. Di sini juga tidak ada masalah serius, kamu bisa menggantikanku untuk sementara waktu bukan?" tanya Alexa pada Neo.
"Apa kamu tidak mau mengajakku?" goda Neo.
"Apa kakak mau ikut? Lalu siapa yang akan berada di sini?" tanya Alexa.
"Kan masih ada Sabrina," jawab Neo, membuat Sabrina mencebik kesal.
"Aku hanya sebentar saja, Kak. Akan lebih baik kalau kakak di sini, aku lebih tenang."
"Oya, Al. Tuan Stanley mengundangmu ke rumah untuk makan malam," ucap Sabrina. Neo dan Sabrina memanggil Alexa dengan namanya saja, karena memang Alexa meminta demikian.
"Aku akan ke sana malam ini, sekaligus meminta izin pada mereka untuk pergi."
"Baiklah, aku akan mengabari Nyonya Jane."
*****
"Sayang," Aunty Jane menyambut Alexa dengan senyum di wajahnya.
"Malam, Aunty," sapa Alexa yang langsung ke kediaman keluarga Thomas setelah jam pulang kantor.
"Alexa," Uncle Stanley yang kini duduk di sofa ruang keluarga, juga tersenyum melihat kedatangan Alexa.
"Halo Uncle, bagaimana kabarmu?"
"Uncle baik, bahkan sangat baik," Uncle Stanley tersenyum dan menyambut tangan Alexa saat ia duduk di sebelah pria paruh baya itu.
Uncle Stanley bahkan secara khusus telah menemui Dad Azka untuk meminta tolong agar Alexa mau membantunya. Dad Azka tentu saja menyerahkan semuanya pada Alexa.
__ADS_1
"Kita makan dulu, semua sudah siap," Aunty Jane menghampiri keduanya.
"Ayo, Uncle," Alexa membantu Uncle Stanley berdiri dan memeganginya saat berjalan. Meskipun Uncle Stanley sudah lebih baik, namun Alexa tak ingin jika tiba tiba Uncle Stanley terjatuh.
Mereka makan malam sambil membicarakan masalah perusahaan. Alexa menceritakan kepada keduanya bagaimana perkembangan perusahaan.
"Uncle, Aunty, aku minta izin untuk meninggalkan perusahaan Thomas untuk sementara waktu. Ada yang harus kukerjakan di New York. Aku sudah menyerahkan semuanya pada Kak Neo dan Sabrina," ucap Alexa.
"Pergilah, Al. Maafkan kami yang merepotkanmu di sini dengan perusahaan keluarga. Seharusnya Michael yang berada di sini dan mengurua semuanya, tapi anak itu malah pergi. Dasar tidak tahu diri!" Uncle Stanley tampak ingin meluapkan kemarahannya.
"Uncle, tenanglah. Mungkin Michael menginginkan ketenangan untuk sementara waktu. Ia pasti akan kembali," ucap Alexa.
Uncle Stanley menghela nafasnya kasar, "Lihat saja kalau dia kembali, aku tak akan mengakuinya sebagai anakku lagi."
"Sayang, tenanglah. Nanti penyakit jantungmu kambuh lagi," Aunty Jane berusaha menenangkan suaminya.
"Aku tidak peduli lagi dengan diriku. Kalau aku sampai mati, salahkan saja dia," ucap Uncle Stanley lagi.
Alexa sangat mengerti perasaan Michael, karena saat mereka berada di Kota Erskine, Michael pernah bercerita bahwa cita citanya adalah menjadi seorang dokter. Alexa kini sedikit tahu bahwa Michael juga mendapat tekanan dari keluarganya untuk keluar dari zona nyamannya.
Mereka pun akhirnya menyelesaikan makan malam mereka. Alexa pun pamit dan berjanji akan mengunjungi mereka saat ia kembali dari New York.
**
"Aku pergi dulu, Kak," Alexa memeluk Axton yang secara khusus mengantarkannya ke bandara pagi pagi.
"Ok, Kak."
"Oya, kamu masih berhutang padaku," ujar Axton.
"Hutang?" Alexa menautkan kedua alisnya.
"Hmm ... Bukankah kamu sudah berjanji untuk mengundangku ke acara pembalasan dendammu?"
Alexa langsung tertawa saat mendengarnya. Ia baru teringat bahwa ia akan memberikan kursi khusus agar Axton bisa menyaksikannya.
"Mereka tidak pantas untuk ditonton, Kak. Sebaiknya kakak nonton bollywood aja, lebih bagus," Alexa sekali lagi tertawa karena ia membayangkan kakaknya menonton film semacam itu.
Pletakkk
"Aduhh!!!" Alexa meringis saat Axton menyentil keningnya.
"Cepatlah masuk, sudah ada panggilan. Jangan memikirkan yang tidak tidak," ujar Axton.
Alexa pun masuk ke dalam area check-in, sementara Axton segera pulang karena ia harus pergi ke Perusahaan Williams.
*****
__ADS_1
"Kee, bagaimana keadaan di sini?" tanya Alexa.
"Semuanya baik dan terkendali, Nona. Tak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Keekan.
"Ahhh terima kasih."
"Apa ada sesuatu hingga Nona datang ke sini?" tanya Keekan.
Sebenarnya tak ada masalah di Alpenze Coorp, hanya saja Alexa membutuhkan waktu sendiri. Selama 1 bulan di ruang kerjanya di Perusahaan Thomas, Alexa selalu melihat wajah Michael di sana, yang terpampang dengan jelas di sebuah foto keluarga yang cukup besar.
Semakin hari, ia semakin merasa kehilangan pria itu. Oleh karena itulah ia pergi ke New York dengan alasan pekerjaan. Tak akan ada yang mencurigainya.
"Nona, apa ada sesuatu yang anda butuhkan?" tanya Keekan.
"Tidak ada, Kee. Aku hanya ingin istirahat sebentar di sini."
"Baiklah, Nona. Aku ada di luar jika anda membutuhkan sesuatu."
Sebelum Keekan keluar dari ruangan, Alexa kembali memanggilnya, "Kee, siapkan bingkisan untuk anak anak panti asuhan. Aku akan mengunjungi beberapa panti asuhan di sini."
"Siap, Nona."
Keekan sudah terbiasa dengan perintah Alexa yang satu itu. Sejak dulu nonanya itu tidak pernah berubah, selalu baik hati, terutama pada anak anak.
2 hari berlalu dan Keekan telah menyelesaikan semua bingkisannya. Ia menyimpannya di dalam sebuah truk besar dan telah bersiap untuk pergi ke panti asuhan bersama dengan Alexa.
"Semua sudah siap, Kee?"
"Sudah, Nona," seperti biasa, Alexa akan mengendarai sebuah motor sementara Keekan naik mobil bersama seorang supir. Alexa memerintahkan pada Keekan untuk memesan makanan dalam jumlah besar untuk dibagikan di setiap tempat yang akan mereka datangi nanti.
Alexa berkeliling sejak pagi dan ia sangat senang dengan aktivitasnya itu. Ia melihat jam di pergelangan tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 4.
"Kembalilah, Kee. Aku akan pergi ke satu tempat lagi, setelah itu aku ingin berkeliling sebentar," ucap Alexa.
"Baik, Nona."
Alexa tiba di sebuah panti asuhan terakhir sebelum dirinya akan pergi mendaki gunung. Ia masuk ke dalam dan mendapatkan sambutan dari pemilik panti.
"Nona Alexa, senang sekali bisa bertemu denganmu lagi."
"Aku juga senang bertemu denganmu lagi, Carmel," Alexa memeluk Carmel.
"Ada apa ramai ramai?" tanya Alexa yang merasa tidak pernah melihat anak anak berlarian di taman.
"Ooo ada dokter yang sedang memeriksa mereka."
"Dokter?"
__ADS_1
🧡 🧡 🧡