THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
SANGAT SIBUK


__ADS_3

1 minggu lagi telah berlalu, hari ini Alexa dan Michael memutuskan untuk berangkat ke New York. Mereka sudah pamit pada Keluarga Thomas dan juga Keluarga Williams.


Sebenarnya Keluarga Thomas sangat berat untuk melepaskan mereka, karena Lynn pun tak ada bersama mereka. Dad Stanley dan Mom Jane pasti akan merasa sangat kesepian.


"Kami akan pulang jika sedang tidak banyak pekerjaan, Dad, Mom," ucap Alexa sambil memeluk keduanya.


Alexa sangat disayangi oleh keduanya. Mereka merasa beruntung karena Alexa mau menjadi menantu mereka, terlebih Michael hanyalah seorang dokter, bukan seorang pengusaha.


Zero datang ke kediaman Keluarga Thomas untuk menjemput Alexa dan Michael. Zero bahagia saat melihat Alexa bahagia.


"Al."


"Kamu sudah datang, Kak?"


"Kita harus segera berangkat," ucap Zero.


Mereka pun berangkat menuju ke bandara. Di perjalanan, Alexa meminta tolong pada Zero.


"Kak, sesekali datanglah ke Perusahaan Thomas. Mereka juga membutuhkan pengawasan," pinta Alexa.


"Baiklah," Zero sudah tahu bahwa Neo mengundurkan diri dari sana. Hanya saja ia belum tahu mengapa. Yang ia tahu, pekerjaan Neo di sana sangat bagus, rasanya agak aneh ketika Neo mengajukan pengunduran diri. Ia ingin mencarinya, namun belum sempat karena pekerjaannya sedang banyak. Apalagi Axton sedang sering pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnis.


Zero mengantarkan keduanya sampai ke pintu keberangkatan, karena ia harus segera kembali ke Perusahaan Williams. Di perjalanan pulang, Zero masih berpikir tentang kepergian Neo. Ia akhirnya membelokkan mobilnya menuju ke panti.


"Cari siapa, Kak?" tanya salah seorang anak panti.

__ADS_1


"Bu Ani nya ada?" tanya Zero. Anak itu pun berlari ke dalam dan berteriak memanggil Ibu pemilik panti.


"Siapa yang da ....," Bu Ani sangat terkejut dengan kedatangan Zero.


Zero tersenyum melihat Bu Ani. Ibu pemilik panti itu kini terlihat lebih tua. Rambutnya yang sudah memutih dan kerutan di wajahnya, membuatnya terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bu Ani dengan antusias.


"Baik, Bu. Sangat baik, terima kasih. Bagaimana keadaan Ibu sendiri?"


"Ibu baik."


"Sebenarnya kedatanganku ke sini ingin mencari Neo," ucap Zero.


"Neo? Dia sedang keluar kota. Ada pekerjaan yang harus ia selesaikan katanya."


"Dulu ia selalu datang seminggu sekali ke sini, tapi sejak ia keluar kota ... Ia belum menghubungi lagi. Mungkin ia sangat sibuk."


"Apa ada yang Ibu butuhkan?" tanya Zero sambil memindai ke sekeliling.


"Tidak. Neo selalu memberikan kami uang setiap bulan. Tak pernah sekalipun ia lupa, anak anak juga sudah sangat merindukannya," ucap Bu Ani.


"Bu, aku ada sedikit uang untuk keperluan panti. Belilah apapun yang kalian butuhkan. Untuk selanjutnya, aku akan menjadi donatur di sini."


Bu Ani tersenyum. Ia sangat bersyukur, anak anaknya bisa menjadi orang yang sukses dan kembali untuk membantu adik adik mereka.

__ADS_1


"Terima kasih."


"Aku yang seharusnya berterima kasih dan maaf karena aku baru kembali," ucap Zero.


Setelahnya, Zero menuju ke markas Black Alpha. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Neo. Di panti tak ada masalah, lalu apa yang sedang menimpa Neo hingga ia mengundurkan diri dari Perusahaan Thomas. Hal itu terus saja berputar di kepalanya.


*****


Malam ini, cafe tempat Neo bekerja akan mengadakan sebuah acara ulang tahun. Pukul 5 tepat ia sudah langsung pulang dari Perusahaan keuangan tempatnya bekerja, dan langsung mengendarai mobilnya menuju cafe yang tak jauh dari tempat tinggalnya.


Acara hari ini akan sangat membantu keuangannya karena pemilik Cafe menjanjikan bonus untuk seluruh pegawainya.


"Malam, Neo," sapa salah seorang pegawai.


"Malam," balan Neo dengan tersenyum.


Kini hidupnya hanya fokus pada kerja kerja, dan kerja. Ia tak memikirkan hal lain lagi. Ia terus memasak untuk membantu koki utama. Ya, di sana Neo bukan sebagai koki utama, tapi asisten koki. Ia juga memasak dan kadang menyiapkan semua bahan.


Malam semakin larut dan acara ulang tahun pun sudah berakhir. Para pelayan membersihkan area eepan, sementara Neo kini kebagian membersihkan dapur. Ia tak sendiri, ada bagian yang mencuci piring dan ia merapikan peralatan memasak dan mengelap meja meja persediaan.


Neo melihat ke arah jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ia memang tak mengenakan jam tangannya jika sedang berada di dapur.


Neo membuka apron miliknya dan memasukkannya ke keranjang cucian. Nanti akan ada bagian khusus yang membawa seragam dan apron mereka ke laundry. Ia berjalan menuju ke area loker untuk mengganti pakaiannya. Setelahnya ia keluar dari area dapur.


Matanya memindai ke seluruh area cafe yang sudah sepi itu, namun ia menangkap sosok yang tak asing sedang duduk melihat ke arahnya.

__ADS_1


Zero?


🧡 🧡 🧡


__ADS_2