
Alexa memasuki gedung Alpenze Coorp di Kota London. Ia langsung masuk ke dalam lift dan menuju ke ruangan miliknya yang ditempati oleh James.
Di luar ruangan James, terlihat Edith yang sedang belajar di depan komputer milik Claudia. Ia juga terlihat merapikan beberapa file agar lebih rapi.
"Halo, Edith," sapa Alexa.
"Nona Alexa," Edith yang sudah lama tak melihat Alexa, langsung memutari mejanya dan memeluknya. Ia tahu dari James bahwa selama ini Alexa-lah yang telah membantunya dan James hanya sebagai perantara.
Edith sangat ingin bertemu dengan Alexa untuk mengucapkan banyak terima kasih. Ia bisa kuliah, adik adiknya bisa bersekolah dan kehidupan mereka kini jauh lebih baik.
"Bagaimana kuliahmu?" tanya Alexa.
"Baik, Nona," jawab Edith.
"Panggillah aku seperti biasa, Edith. Aku akan tetap menjadi kakakmu. Bagaimana kabar adik adikmu?"
"Mereka ingin bertemu denganmu, Kak."
"Baiklah, aturlah waktu. Aku akan makan malam bersamamu. Tapi, biar aku yang menentukan tempatnya nanti," Edith tersenyum senang.
"Apa James ada di dalam?" tanya Alexa.
"Ada, Kak. Tapi ia sedang berbicara dengan Tuan Earl."
"Baiklah, tidak apa. Kembalilah ke mejamu ... Dan jangan lupa untuk menentukan waktunya. Aku akan berada di sini selama 2 minggu."
"Baik, Kak."
Alexa mengetuk pintu kemudian membukanya. James merasa terkejut dengan kedatangan Alexa karena atasannya itu tak mengabarinya sama sekali.
"Nona?"
"Lanjutkan saja, James. Aku hanya berkunjung sebentar," ucap Alexa. Ia pun duduk di sofa sambil melihat beberapa berkas yang berada di atas meja.
Tak lama, Earl pun keluar setelah sebelumnya memberi hormat dan undur diri.
"Ada apa, Nona?"
"Tak ada apa apa. Dad dan Mom sedang berbulan madu lagi, jadi aku ke sini saja. Aku ingin bertemu dengan Claudia."
"Ikutlah denganku, Nona. Hari ini aku akan menemuinya," ucap James.
__ADS_1
Alexa pun tersenyum. Ia segera bangkit dan keluar dari ruangan diikuti oleh James. Edith yang masih ada di luar pun tersenyum.
"Edith, aku akan membawa Nona Alexa pergi. Jika kamu ingin pulang, pulanglah. Tidak terlalu banyak pekerjaan lagi," ucap James.
"Baik, Tuan James."
*****
Michael sudah mulai melakukan beberapa tahap pada rencana Esme untuk memiliki anak. Ia sudah melakukan langkah pertama dan kedua yakni stimulasi atau ovulasi super dan pengambilan telur sudah selesai dan berhasil dilakukan.
Namun, saat langkah ketiga akan dilakukan, Michael menemukan sesuatu yang tidak biasa. Speer ma milik pria terlihat lemah, bahkan seakan mati. Hal itu membuat Michael merasa curiga dan ada sesuatu yang aneh.
Michael meminta pada Esme agar dia bisa berbicara empat mata dengan suami wanita itu dengan alasan lain. Ia tak ingin membuka hal tersebut di depan esme yang sangat menginginkan kehadiran seorang anak.
"Silakan duduk, Tuan," ucap Michael.
"Ada apa, cepat katakan! Aku tak punya waktu untuk hal hal yang tak penting," ucap Nando.
Michael kini melihat Michael dengan tatapan datar dan namun tegas, "Katakan pada saya, Tuan. Apa anda tidak memginginkan anak dalam hubungan pernikahan anda?"
"Itu bukan urusanmu," ucap Nando.
Nando melihat ke arah Michael sambil memicingkan mata.
"Saya tahu anda meminum minuman keras dan juga mengkonsumsi beberapa pil untuk melemahkan sperr ma anda," ucap Michael.
Nando terkejut karena Michael mengetahui apa yang ia lakukan. Ia tak ingin terikat pada Esme, apalagi jika mereka memiliki anak. Ia hanya menginginkan uang dan kekuasaan yang dimiliki Esme sebagai putri seorang menteri.
"Tolong gagalkan proses ini. Aku tidak ingin memiliki anak dengannya!" ucap Nando dengan tegas.
"Kalau begitu anda bisa mengatakan sendiri padanya apa isi hati anda padanya. Jangan membuatnya mendapatkan harapan dengan sikap anda yang menjadi seorang penurut," ucap Michael.
"Apa anda ingin mengguruiku?"
"Saya tidak akan pernah menggurui seseorang yang berpengalaman seperti anda. Atau jika memang anda tidak keberatan, maka saya yang akan berbicara padanya dan mengatakan kebenaran bahwa anda menolak rencana ini."
"Kamu gila ya! Dia bisa menceraikanku dan melemparku ke jalan. Setidaknya kalau kamu membuat proses ini gagal, maka lama kelamaan ia akan lelah dan tak melakukannya lagi," ucap Nando.
Michael tersenyum kemudian kembali melihat ke arah Nando, "Saya rasa itu bukan urusan saya. Tugas saya di sini adalah memastikan proses ini berjalan lancar dan sukses. Saya tidak akan pernah melanjutkan ke tahap berikutnya sebelum anda siap, karena saya tidak ingin melakukan pekerjaan yang sia sia. Apalagi kini saya sudah tahu di awal bahwa saya akan gagal."
Brakkk
__ADS_1
Nando menggebrak meja di hadapan Michael. Ia tak terima Michael yang seakan ingin memastikan proses itu berhasil. Ia pun menatap tajam ke arah Michael dan meninggalkan ruangan setelah membanting pintu dengan kasar.
Esme yang berada di luar ruangan menjadi kaget karena Nando terlihat marah saat keluar dari ruangan Michael. Ia pun mengetuk pintu Michael, ingin bertanya.
"Dok, boleh saya masuk?" tanya Esme.
"Silakan."
"Ada apa dengan suami saya? Mengapa dia keluar dengan marah?" tanya Esme penasaran.
"Nyonya Esme, sebaiknya anda langsung bertanya pada suami anda karena saya tidak memiliki hak untuk menjelaskan permasalahan yang saya rasa bersifat pribadi," jawab Michael.
Setelah Esme keluar, Michael segera memakan bekal yang ia bawa. Ia akan memulai jam prakteknya setelah ini.
*****
"Aku merindukanmu," di balkon kamar tidurnya, Nando menghubungi Millie melalui video call.
"Aku juga merindukanmu. Kapan kamu akan datang lagi menemuiku?" Kini Millie hidup hanya bergantung dari penghasilan butiknya, dan juga uang yang ditransfer oleh Nando setelah mereka selesai berhubungan.
Millie rajin mengkonsumsi pil kb untuk mencegahnya hamil. Sebelumnya ia pernah hamil, namun ia terpaksa menggugurkannya karena Nando tidak menginginkannya. Millie pun menuruti senua keinginan Nando karena ia sangat mencintai pria itu.
"Aku akan segera menemuimu. Aku bosan berada di sini," ujar Nando.
"Bagaimana istrimu?"
"Aku sangat kesal dengannya. Ia akan melakukan program bayi tabung dan aku tidak suka itu. Dan aku lebih kesal lagi karena dokter itu tak mau menggagalkan rencanaku."
"Kalau begitu, datanglah padaku. Aku akan melayanimu dengan baik. Aku akan selalu menurutimu."
"Aku tahu itu, sayang. Aku sangat menginginkanmu saat ini. Ahhh, aku sudah tidak tahan ...," ucap Nando sedikit mendes sah memegang juniornya.
"Di mana istrimu?" tanya Millie.
"Ia masih di rumah sakit. Aku meninggalkannya di sana. Setauku ia harus melakukan beberapa test, biarkan saja. Tidak pulang pun aku tak peduli," ucap Nando, "Kita mulai saja ya ... Aku sudah tidak tahan."
Di layar ponsel, terlihat Millie sudah mulai membuka pakaiannya, membuat Nando semakin panas. Lalu ...
Bughhh!!
🧡 🧡 🧡
__ADS_1