
Secara resmi, Michael telah berhenti bekerja di rumah sakit di Berlin. Dokter Gemma sebenarnya sangat menyayangkan keputusan Michael, namun ia menghargai semuanya. Bagi Dokter Gemma, saat janji pernikahan sudah terucap, keputusan yang dibuat adalah untuk kelangsungan dan kebahagiaan sebuah rumah tangga.
Dokter Holly yang mendengar berita resign nya Dokter Lee, serta kabar pernikahannya, membuatnya meradang. Ia menjadi tidak fokus dan selalu salah dalam melakukan diagnosa hingga ia di skors untuk sementara waktu.
Alexa dan Michael berangkat bersama menuju Perusahaan Thomas. Sebelum mereka berangkat ke New York, Alexa ingin memeriksa beberapa hal di sana.
"Kak, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alexa pada Neo. Ia tak mengerti sama sekali mengapa pekerjaan yang dilakukan Neo menjadi berantakan.
"Maaf, Al. Aku hanya sedang tidak fokus saja," jawab Neo. Pria itu menghela nafasnya kasar, seakan beban berat tengah ia pikul saat ini.
"Kalau seperti ini caranya, aku tak bisa langsung pergi ke New York, sayang," ucap Alexa pada Michael.
Michael telah menyewa sebuah tempat di salah satu sudut Kota New York yang akan ia jadikan klinik. Sebenarnya Alexa menawarkan pada Michael agar ia bisa berpraktek di salah satu rumah sakit di sana namun dengan halus Michael menolak.
Ia ingin berhasil dan berkembang dengan kemampuannya sendiri. Ia tak ingin memanfaatkan nama keluarga Williams ataupun nama Alexa sebagai pemimpin Alpenze Coorp untuk mendapatkan itu semua.
Bagi Michael, keberadaan Alexa di sisinya, sudah menjadi kekuatan dan semangat untuknya.
"Tidak apa. Aku bisa belajar lebih banyak di sini sambil menunggumu menyelesaikan semuanya. Aku juga akan membantumu," ujar Michael.
"Terima kasih, sayang," Alexa mengecup bibir Michael dan tersenyum.
"Jangan menggodaku di sini. Kamu kan tahu kalau aku tak bisa menahannya jika kamu melakukan itu," bisik Michael, membuat Alexa baru tersadar kalau ia baru saja membangunkan anaconda yang baru saja terlelap tadi pagi.
Alexa terkekeh kemudian kembali fokus pada pekerjaannya. Michael juga mengambil beberapa berkas dan ikut memeriksanya. Meskipun ia tidak terlalu ahli, tapi ia cukup mengerti tentang perusahaan milik Dad Stanley itu.
__ADS_1
"Bri, bawakan laporan keuangan minggu lalu," pinta Michael.
Sabrina pun masuk dan memberikan laporan keuangan yang diminta oleh Michael. Bahkan tak hanya minggu lalu, beberapa minggu lalu pun ia bawakan. Sabrina juga merasakan ada sesuatu yang berbeda pada Neo, hanya saja ia tak bertanya.
"Sebaiknya aku meminta bantuan Keekan. Ia sangat ahli dalam hal hal seperti ini," ucap Alexa.
Keekan memang berencana akan kembali ke Kota New York bersama Alexa. Sementara menunggu, ia membantu Zero di Perusahaan Williams.
Alexa pun menghubungi Keekan dan memintanya datang ke Perusahaan Thomas. Keekan yang tak ingin bertemu dengan Neo pun menolak secara halus. Namun, bukan Alexa jika ia tak mendapatkan keinginannya. Alexa langsung menghubungi Zero dan Axton untuk meminjam Keekan.
Dengan sangat terpaksa, Keekan akhirnya mendatangi Perusahaan Thomas. Kedatangan Keekan disambut oleh Alexa. Di dalam ruangan itu, ternyata ada Neo juga yang tengah memeriksa laporannya sendiri. Namun, sedari tadi yang ia lakukan hanya mengacak acak dan menjambak rambutnya sendiri.
"Akhirnya kamu datang juga, Kee. Bantu aku mencari kesalahan laporan ini. Kurasa kesalahannya bukan dari laporan yang sebelumnya, tapi yang sebelumnya lagi, hingga terus merembet ke laporan saat ini," jelas Alexa.
"Baiklah, aku akan membantumu, Nona."
Keekan duduk di sebuah sofa panjang yang ada di ruangan itu, sementara Neo duduk di sebuah kursi single. Mata Neo melihat ke arah Keekan sejak wanita itu masuk ke dalam ruangan. Kalau bisa, ia ingin menarik wanita itu pergi dari sana dan meminta maaf sekali lagi, bahkan berulang kali. Namun, kini ia hanya bisa melihat saja.
Tak sekalipun mata Keekan melihat ke arah Neo. Neo sangat yakin bahwa Keekan tak menganggap dirinya ada di sana.
Apa kamu menganggapku tidak ada? Apa kamu begitu benci padaku? Mungkin memang sebaiknya aku tidak ada di dunia ini. Kamu tentu tak akan menderita karenaku. - batin Neo bergejolak saat ini. Pikirannya benar benar kacau dan ia tidak fokus. Matanya terus saja mencuri pandang ke arah Keekan, hingga kertas yang ia pegang tak bergerak sama sekali.
*****
Neo mengemudikan mobilnya dengan ugal ugalan. Hatinya gelisah setelah tadi ia kembali gagal untuk berbicara berdua dengan Keekan.
__ADS_1
Beberapa kali ia hampir menerobos lampu merah,dan bahkan beberapa kali ia hampir membuat tabrakan beruntun. Neo memarkirkan mobilnya di tepi jalan, pandangannya mulai kabur, kepalanya terasa sangat pusing.
Tokk tokk tokk ...
Sebuah pukulan yang cukup keras ia rasakan tengah mengenai kaca jendela mobilnya. Ia membuka matanya dan melihat ke samping. Beberapa orang berpakaian preman kini sudah berdiri di samping kanan kiri mobilnya.
"Cepat keluar atau aku akan pecahkan kaca ini!" teriak preman itu.
Neo hanya berdecih. Ia tak ingin keliar dari mobil bukan karena ia takut, tapi karena jumlah antara dirinya dengan para preman yang tidak sepadan.
Ketika ia akan menyalakan mesin mobilnya,sebuah hentakkan terjadi persis di kaca mobilnya bagian depan.
Prangggg
Neo kaget bukan kepalang. Ia tak menyangka bahwa para preman akan menghancurkan kaca mobilnya yang bagian depan, ia kira bagian samping.
Emosi seketika menghampiri Neo. Pada akhirnya ia keluar dari mobil karena menganggap bahwa para preman itu sudah bertindak terlalu jauh.
"Kalian mau apa, hah?!" teriak Neo.
"Berikan uangmu, cepat!!" teriak salah seorang preman.
"Kita ambil saja mobilnya!" teriak yang lain.
"Aku tak akan memberikannya! Lawan aku saja sini," Neo mulai memasang kuda kuda.
__ADS_1
Bughhh!!! Bughhh!!