
"Ya, masuklah. Aku akan mengenalkannya padamu."
Alexa masuk ke dalam bersama dengan Carmel. Seorang anak berlarian dan melihat kehadiran Alexa.
"Kakak!" teriaknya yang membuat anak anak yang lain melihat ke arah Alexa.
Mereka semua langsung berlari menghampiri Alexa. Hingga dokter yang tengah memeriksa mereka pun turut mengedarkan pandangannya.
Matanya tertumpu pada seorang wanita yang tengah berdiri dengan anak anak di sekelilingnya. Wajah bahagia yang dipancarkan wanita itu seakan mengobati rasa rindunya yang tersimpan.
Alexa meminta anak anak untuk mengambil bingkisan untuk masing masing mereka di luar panti. Mereka pun segera berlari sambil berteriak. Setelah itu, Alexa melihat ke taman samping dan menemukan sosok yang justru membuatnya pergi dari Indonesia untuk menenangkan diri.
Michael?
"Kenalkan, ini adalah Dokter Michael. Dokter, ini Nona Alexa," Carmel memperkenalkan keduanya yang diam dan hanya bisa menatap satu sama lain.
"Michael," Michael menyodorkan tangannya pada Alexa.
"Alexa."
"Aku ke depan sebentar melihat anak anak ya, Nona. Permisi," Carmel meninggalkan Alexa bersama dengan Michael untuk melihat keadaan anak anak yang sudah berteriak karena mulai saling berebut bingkisan.
Sadarlah, kamu tidak pantas untuknya, Mic. Lihatlah siapa dirinya dan siapa dirimu. Kamu belum ada apa apanya jika dibandingkan dengan dirinya. Kamu ingin membuatnya bertekuk lutut di hadapanmu karena dirimu putra seorang pengusaha, tapi lihatlah ... Dirimu mungkin tak ada seujung kukunya. - Michael bermonolog sendiri dengan melihat ke arah Alexa.
"Senang bertemu denganmu lagi. Aku minta maaf atas semua yang pernah kulakukan padamu. Aku tak akan mengganggumu, aku permisi," Michael pun mengambil keputusan untuk segera pergi dari hadapan Alexa.
Sementara Alexa terdiam ketika melihat perubahan sikap Michael. Pria itu bahkan kini seakan menghindarinya dan Alexa kembali merasa kehilangan.
__ADS_1
*****
"Darren! Mengapa kamu memblokir kartu kredit Mama?!" tanya Mama Dara. Ia sangat malu ketika sedang pergi bersama teman teman sosialitanya dan gagal melakukan pembayaran di sebuah toko tas bermerk.
"Ma! Saat ini kita sedang berada dalam masa sulit. Aku baru saja harus membayar penalty yang sangat besar karena proyekku gagal. Bahkan saat ini proyek itu terbengkalai tak terurus karena para pekerja meninggalkannya karena tak mendapat bayaran," ujar Darren.
"Lagian kamu kenapa menceraikan Sisca? Dia itu wanita pembawa keberuntungan untuk keluarga kita. Lihat, gara gara hal itu, perusahaanmu langsung terseok seok seperti ini. Mama tidak mau hidup miskin, Dar!"
"Apa Mama tidak bisa tenang sedikit? Aku sedang pusing dan banyak pikiran. Ocehan Mama semakin membuatku sakit kepala saja!" teriak Darren. Saar ini perasaan sedang kacau. Setelah ia mengetahui bahwa anak yang dikandung Sisca adalah putranya dan kini telah meninggal, ia menjadi tidak fokus dalam bekerja. Belum lagi masalah perusahaan yang rasanya tidak ada habisnya.
"Kalau begitu Mama minta uang, Dar," ucap Mama Dara.
"Minta uang? Untuk apa?" tanya Darren.
"Hari ini Mama ada arisan bersama teman teman Mama. Masa arisan 50 juta saja Mama ngutang? Nanti mereka akan ngomong apa tentang Mama," ujar Mama Dara yang sudah siap dengan tas kecil di pergelangan tangannya dan memoles kembali make up di wajahnya.
"Nggak bisa! Mama sudah dapat arisan itu paling pertama."
"Lalu, di mana uangnya sekarang?"
"Uangnya? Nih lihat gaun yang Mama kenakan, bagus kan? Ini Mama beli dari uang arisan itu, 500 juta loh harganya," Mama Dara berputar di hadapan Darren sambil memamerkan gaun yang ia kenakan.
Darren menghela nafasnya kasar. Ia tak pernah tahu bahwa ternyata Mama Dara sangat boros sekalu menggunakan uang. Bahkan Darren terpaksa memblokir kartu kredit milik Mama Dara karena setiap bulan selalu overlimit.
"Sebaiknya Mama tidak pergi. Mama alasan saja sedang pergi ke luar negeri."
"Bagaimana bisa begitu, Dar. Hari ini Mama ingin memamerkan gaun Mama ini. Masa kamu 50 juta saja tidak punya? Mama pinjam dulu, nanti baru Mama kembalikan."
__ADS_1
"Kembalikan? Bagaimana cara Mama mengembalikannya?" tanya Darren dengan suara keras, membuat Mama Dara terdiam.
"Dar, bagaimana kalau Mama menjodohkanmu dengan putri dari teman Mama? Ia anak seorang konglomerat. Mama yakin kalau kamu menikah lagi dengannya, kamu tidak akan kesulitan lagi menghadapi masalah perusahaanmu," Mama Dara menaik turunkan alisnya.
Darren yang mendengar perkataan Mama Dara, tiba tiba saja merasa bahwa ide Mamanya itu adalah sebuah ide yang luar biasa. Ia bisa menikah dan menyalurkan hassratnya. Selain itu, ia bisa memanfaatkan kekayaan keluarga mertuanya untuk kemajuan perusahaan.
Ia juga akan menyusun sebuah rencana untuk menjatuhkan Alpenze Coorp, tepatnya menjatuhkan seorang Alexa, yang telah mengacaukan hidupnya. Wanita itu telah membuat ia kehilangan putra yang selama ini ia nantikan.
*****
Alexa membuka tempat penyimpanan yang ada di belakang jok motornya. Saat ini ia sudah berada di Kota Pawling, tepatnya di kaki Pegunungan Berkshire.
Dulu, Alexa sering melakukan pendakian bersama dengan teman teman kuliahnya. Semua itu tentu saja tidak pernah disetujui oleh Darren sebagai kekasih Alexa. Ia selalu kesal dan memarahi kekasihnya itu karena dianggap tidak bisa menjaga dirinya.
Bagi Darren, wanita yang menjadi kekasihnya haruslah wanita yang anggun dan elegan. Ia tidak suka wanita yang suka dengan aktivitas laki-laki.
Dengan berbekal sebuah ransel, Alexa mendaki pegunungan Berkshire. Bagi Alexa, mendaki adalah salah satu cara baginya untuk menikmati keindahan alam dan kenyaman di hatinya.
Ia tak mendaki terlalu jauh. Saat melihat sebuah tempat datar dengan pemandangan langsung ke arah timur, ia pun melepaskan ranselnya. Alexa mengeluarkan sebuah kantong tidur yang bisa dipompa. Ia masuk ke dalam hutan untuk mencari beberapa kayu bakar yang akan ia gunakan sebagai penghangat dan juga pencahayaan.
Alexa membuka ponselnya, memeriksa sebentar jika ada e-mail yang masuk. Setelahnya, Alexa meletakkan ponsel itu dan duduk di pinggir bebatuan. Ia menatap hamparan bukit yang sudah tak terlalu terlihat lagi karena malam mulai menjelang.
"Kamu datang dan berusaha masuk ke dalam hatiku. Ketika aku mulai merindukanmu, kamu seakan menjauh. Memang sudah seharusnya aku tak pernah mengharapkan apa apa dari yang namanya cinta," gumam Alexa berucap sendiri.
Srekk srekkk
Alexa yang mendengar sesuatu dari balik pepohonan, langsung membuat dirinya sigap. Ia berjalan keluar dari bebatuan dan mengambil senjata, yakni sebuah pisau, yang ia sembunyikan di dalam ranselnya. Seseorang keluar dari balik semak dan menampakkan dirinya. Seorang pria yang sedari tadi memenuhi pikirannya. Alexa tak mengira bahwa ia akan kembali bertemu dengannya di tempat itu.
__ADS_1
🧡 🧡 🧡