
Alexa tidur dengan sangat nyenyak malam ini. Ia sedikit merasa aneh karena Nala dan Nathan tak terbangun semalam. Ia tersenyum dan merentangkan tangannya seakan tenaganya sudah terkumpul.
Ia menoleh ke samping tempat tidurnya, kosong!
"Ke mana Michael?" gumamnya. Alexa segera menggunakan kimononya dan berjalan ke arah pintu penghubung yang menghubungkan antara kamar tidurnya dengan kamar bayi kembarnya.
Dad Azka sengaja merancang seperti itu agar nantinya jika keduanya menginap, maka kamar itu bisa digunakan untuk mereka sekeluarga.
Alexa tersenyum saat melihat Michael sedang menggendong Nathan sementara Nala berada di dalam box tempat tidurnya. Michael terlelap sambil menggunakan GEOS atau Gendongan kaos. Gendongan tersebut memang digunakan untuk bayi yang baru lahir.
"Sayang," Alexa memegang lengan atas Michael dan sedikit berjongkok. Ia tersenyum melihat bagaimana Michael sangat memperhatikannya.
"Hmm ... Kamu sudah bangun?" tanya Michael yang mulai mengerjapkan matanya.
"Kamu menggendong Nathan semalaman?" tanya Alexa.
"Ya, ia tidur sangat nyenyak di sini. Hanya 1 kali ia terbangun dan aku sudah memberikan asi yang kamu simpan di sana," ucap Michael sambil menunjuk sebuah lemari pendingin.
"Mengapa kamu tidak membangunkanku?"
"Kamu pasti lelah, sayang. Aku tak ingin kamu lelah, lalu sakit," Michael tersenyum.
"Terima kasih, sayang. Aku sangat beruntung memilikimu sebagai suami dan sebagai Daddy putra putriku," Alexa mengecup bibir Michael.
"Kalau begitu, aku mandi sebentar ya, setelah itu aku akan kembali," lanjut Alexa.
"Aku tidak apa. Nikmati acara mandimu, sayang," ucap Michael.
Alexa segera kembali ke kamar tidur mereka dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia akan mandi dengan cepat karena ia tak ingin Michael kelelahan. Bagaimana ia tak menikmati pernikahannya jika memiliki suami yang luar biasa dan mengerti dirinya.
__ADS_1
*****
Keekan yang kini seorang diri di apartemennya mulai berpikir, apakah ia salah telah menerima ungkapan hati Neo padanya. Bagaimanapun juga, ia juga menyayangi pria itu, terlepas dari apa yang ia lakukan dulu.
Namun, ketika melihat senyum Neo dan juga anak anak di panti, ia turut senang. Setelahnya, Neo memperkenalkan Keekan sebagai kekasih pada Bu Ani.
Ting nong
Bel apartemen yang ditempati Keekan berbunyi. Ia yakin sekali itu adalah Neo karena tadi pria itu berjanji akan mengunjunginya.
Keekan melihat dari lubang intip, kemudian membuka pintu. Ia langsung melihat senyum Neo yang merekah seakan semua beban dalam dirinya kini telah hilang.
"Kamu pasti belum makan. Aku membawakanmu makan siang," ucap Neo.
Keekan meraih kantong yang dibawa Neo dan pergi ke dapur. Ia meletakkannya di piring agar mereka bisa memakannya bersama. Tak terlalu banyak pembicaraan saat mereka makan, Keekan masih sedikit canggung dengan status mereka saat ini.
"Apakah aku bisa bicara denganmu?" tanya Keekan.
"Ya. Ini serius."
Mereka berdua duduk di sofa panjang dan saling menyamping sehingga kini mereka berhadapan.
"Katakanlah, ada apa?"
Keekan menghela nafasnya pelan, "Apa kamu yakin hubungan kita akan berhasil?"
"Mengapa kamu menanyakan itu? Aku sangat yakin, apa kamu tidak yakin?"
"Bukan begitu ... Tapi kamu tahu kan apa yang ku alami. Sebuah hubungan, apalagi untuk usia kita saat ini, pasti memiliki tujuan. Apa kamu akan menerimaku yang ..."
__ADS_1
"Sssttt .... Apapun yang terjadi padamu, lupakan. Kita akan memulai sesuatu yang baru. Aku menerima dirimu apa adanya dan aku tak akan pernah mempermasalahkannya," ucap Neo.
Keekan sedikit bernafas lega. Meskipun memang tak terjadi apa apa pada dirinya, tapi ia ingin Neo tulus padanya dan tidak hanya sekedar sebuah tanggung jawab.
"Terima kasih," ucap Keekan.
"Aku yang berterima kasih karena kamu mau memaafkanku dan menerimaku kembali. Jadi ... Kapan kita menikah?" tanya Neo.
Keekan langsung membulatkan matanya dan memundurkan sedikit tubuhnya. Ia tak menyangka Neo akan menanyakan hal itu, padahal hubungan mereka sebagai kekasih saja belum genap 24 jam.
"A-akan ku-pikirkan dulu," Keekan langsung beranjak dari sana dan masuk ke dalam kamar tidurnya. Ia memegang dadanya karena tiba tiba jantungnya berdetak dengan cepat mendengar pertanyaan Neo.
๐งก ๐งก ๐งก
Terima nggak terima nggak terima nggak? Nggak usah lha ya ๐ aku iri kalian semua udah dpt jodoh.
๐๐๐
Di bawah ini aku kasih sedikit spoiler novel Axton ya. Masih di review editor sih, tp kurang lebih ini garis besarnya ๐
Jeanette, tak menyangka akan menghabiskan malam panasnya dengan seorang pria. Ia yang sudah memiliki seorang suami bernama Hansen, mengalami kejadian naas di acara ulang tahun adik kesayangannya.
Ia yang takut karena telah melakukan kesalahan, kini menuruti semua keinginan suaminya, sebagai sebuah permintaan maaf. Namun, siapa yang menyangka jika ternyata suaminya telah mengkhianatinya jauh sebelum mereka menikah.
Axton, yang tak ingin dicap sebagai pria perjaka, menerima tantangan dari para sahabatnya untuk menggunakan jasa wanita di sebuah klub. Ia yang anti menikah akhirnya berhasil melewati tantangan.
Jeanette dicerai begitu saja karena suaminya ternyata menghamili wanita lain. Selain itu, keluarga yang ia harapkan membantunya malah membantu wanita hamil itu. Ia juga mencuri dengar pembicaraan Axton yang tak akan bertanggung jawab apapun pada wanita yang menghabiskan malam dengannya, meskipun wanita itu hamil.
Jeanette pun pergi meninggalkan semuanya dan kembali pada kehidupan petualangannya di alam, bersama bayi dalam kandungannya.
__ADS_1
Ya ampun, kok jadi panjang ๐คฃ segitu dulu spoilernya. Ntar tau2nya ga diapprove editor lagi ๐