THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
TANDA KEMERAHAN


__ADS_3

Darren datang kembali ke Alpenze Coorp. Ia mencari berbagai alasan untuk kembali bertemu dengan Alexa, seraya meyakinkan wanita itu bahwa ia akan berubah dan ia masih mencintai Alexa.


"Biarkan dia masuk," ucap Alexa pada Keekan.


"Al," sapa Darren ketika ia dipersilakan masuk ke dalam ruang kerja milik Alexa.


Darren sudah berandai andai, kalau ia menikahi Alexa, maka ruangan itu akan menjadi miliknya dan ia akan menjadi CEO dari Alpenze Coorp. Suatu pencapaian yang sangat luar biasa.


"Hmm, duduklah. Aku akan menyelesaikan beberapa berkas lagi. Setelah itu kita akan membicarakan rencana proyek baru kita," ucap Alexa.


Darren duduk di sofa dan matanya terus memperhatikan ruangan itu. Pikirannya terus menerawang dan bibirnya seakan berkata kalau saja, kalau saja ....


Sementara itu di tempat lain, Sisca yang baru saja mendapatkan kartu akses dari Darren, tak ingin membuang waktunya. Ia langsung pergi dari hotel dan menaiki taksi untuk mencari pusat perbelanjaan. Ia akan menikmati uang Darren sepuasnya.


Sesampainya ia di pusat perbelanjaan, ia langsung menyambangi outlet tas bermerk. Matanya seakan dimanjakan dengan begitu banyak tipe tas yang ia inginkan.


Ia mengambil salah satu dari tas itu dan membawanya ke kasir, "Aku mau yang ini."


Sisca memberikan kartu kredit miliknya, yang tentu saja adalah pemberian Darren. Oleh karena itulah ia tak mungkin menjauh dari Darren karena hidupnya sangat bergantung pada pria itu.


"Aduhh, di mana matamu hah!" teriak Sisca dengan ketus saat tak sengaja ia menabrak seseorang.


"Fransisca?"


"Dimas?" ucap Sisca balik bertanya. Hanya Dimas yang memanggilnya dengan Fransisca.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini? K-kamu sedang hamil?" tanya Dimas saat melihat perut Sisca yang sudah membuncit.


"Ya, aku sudah menikah," ucap Sisca sambil memperlihatkan cincin di jari manisnya.


"Lalu di mana suamimu?"


"Ahhh dia sedang bertemu dengan klien."

__ADS_1


"Ooo, kalau begitu, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ajak Dimas. Sisca mengangguk, ia tak akan menolak ajakan Dimas, yang tentu saja akan membuatnya tak perlu mengeluarkan uang untuk makan siang.


*****


"Kamu bisa memulai proyek itu minggu depan," ucap Alexa.


"Apa kamu akan kembali ke Jakarta?" tanya Darren penuh harap.


"Tentu saja aku akan kembali. Bukankah proyek ini juga memerlukan perhatianku."


Binar bahagia kembali muncul di wajah Darren. Satu demi satu, kepingan impiannya mulai muncul, yakni menjadi salah satu pengusaha paling disegani.


"Kamu bisa pulang, istrimu pasti menunggu," ujar Alexa.


"Aku lebih senang berada di dekatmu, Al. Aku merasa lebih nyaman. Ntah mengapa aku baru menyadarinya saat kamu berada jauh dariku. Berikan aku kesempatan dan aku akan meyakinkanmu kalau aku pantas dan terbaik untukmu."


"Pulanglah. Aku akan menemuimu lagi di Jakarta."


Selepas kepergian Darren, Alexa mengambil ponsel dan menghubungi seseorang, "Bersiaplah."


Darren baru teringat pada ponselnya. Ia melihat banyak sekali notifikasi di ponselnya dan itu semua akibat dari pemakaian kartu kreditnya. Ia menghela nafasnya kasar dan membanting ponselnya. Ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.


*****


"Ahhh .... Ahhh ...," des sah Sisca yang kini tengah berada di dalam kamar hotel sambil bermandikan peluh.


"Kamu masih sama seperti dulu, begitu menggair rahkan," bisik Dimas di telinga Sisca.


"Dan kamu masih hebat sama seperti dulu," Sisca terus menger ang dan mendes sah ketika Dimas teeus menghentakkan tubuhnya dan memainkan kedua aset kembarnya dengan lidah, membuatnya semakin melayang.


"Kamu terlihat sangat seksi dan ahh ... Sangat padat dan berisi, aku sangat menyukainya," Dimas kembali memainkan kedua aset kembar milik Sisca dan mengurangi hentakkannya agar pencapaian puncak menjadi lebih lama. Ia ingin menikmati sesuaty yang dulu sering ia nikmati.


"Lebih cepat, Dim. Ayolah! Aku sudah tidak kuat lagi."

__ADS_1


"Tunggu sebentar, aku masih ingin menikmati dan merasakan kenikmatan tubuhmu. Kamu sangat indah dan luar biasa," Sisca merasa sangat tersanjung dengan pujian yang keluar dari bibir Dimas, membuatnya ingin terus merasakan kehangatan dan kenikmatan yang berbeda, yang tidak ia dapatkan dari Darren.


Mereka pun bergelut hingga menjelang petang. Sisca bahkan tak memikirkan kehamilannya. Baginya, kepuasan dan kenikmatan adalah yang utama. Anak dalam kandungannya hanyalah sebagai pengikat dirinya pada Darren ... Tidak, tidak, tapi pada harta kekayaan Darren.


*****


Pintu kamar hotel terbuka dan menampakkan Sisca yang baru saja pulang, sambil membawa beberapa kantong belanja. Ia sedikit kerepotan karena banyaknya bawaannya dan juga perutnya yang mulai membuncit.


"Tolong aku, sayang," ucap Sisca saat melihat Darren sudah berada di dalam kamar.


"Jika kamu bisa berbelanja, maka kamu harus bisa membawanya sendiri," ucap Darren dengan nada kesal.


Pada akhirnya Sisca membawa sendiri barang belanjaannya dan meletakkannya di atas sofa. Ia juga langsung duduk dan melihat isi semua kantong belanjanya.


"Kita akan kembali ke Jakarta besok," ucap Darren tiba tiba.


"Apa? Mengapa cepat sekali? Aku belum menikmati suasana Kota New York di malam hari," ucap Sisca dengan kecewa. Ia sebenarnya masih ingin bertemu kembali dengan Dimas dan mengulangi pergelutan panas mereka. Jujur ia sangat menikmatinya.


"Pekerjaanku banyak dan aku harus segera memulai," Darren ingin segera memulai proyeknya bersama Alexa, agar wanita itu segera kembali ke Jakarta, jadi ia bisa segera bertemu lagi. Ia tak akan membiarkan 1 hari pun terlewat nantinya tanpa usahanya untuk meyakinkan Alexa.


Sisca menghela nafasnya dengan kecewa, tapi ia tak mungkin menentang atau membantah Darren. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada Dimas.


"Jam berapa besok kita akan kembali?" tanya Sisca.


"Siang, setelah jam makan siang. Aku sudah meminta Lala membeli tiketnya."


"Baiklah. Tapi bolehkah aku berjalan jalan di pagi hari, sebelum kita pulang?"


"Terserah padamu," jawab Darren dengan rasa tidak terlalu peduli.


Sisca kembali fokus pada ponselnya. Ia mengabari Dimas bahwa ia akan menemui pria itu besok pagi, di tempat yang sama seperti tadi. Tentu saja Dimas menyambut ajakan Sisca.


Setelah itu, ia segera masuk ke kamar mandi. Sisca berdiri di depan cermin sambil tersenyum dan melihat tubuhnya yang masih penuh dengan tanda kemerahan hasil karya dari Dimas. Ia tak takut dengan Darren karena pria itu kini bisa dikatakan tak pernah menyentuhnya.

__ADS_1


Ia pun pergi berendam di dalam bathtub, sambil bermain dengan ponselnya. Ia melakukan video call dengan Dimas dalam keadaan berendam, dan kadangkala ia melakukan pemuasan kembali pada dirinya sambil mendengar suara Dimas.


🧡 🧡 🧡


__ADS_2