THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

Sesuai perhitungan Michael, anak mereka akan lahir sekitar 1 minggu lagi. Michael bahkan semakin ketat menjaga Alexa dan tidak mengijinkan istrinya itu ke mana mana sendirian. Di mana ada Alexa, di situ pula ada Michael.


"Kamu itu ngapain sih, Mic? Nempel terus kayak cicak," ujar Mom Jane yang kesal karena Michael terus saja menempel pada Alexa, hingga ia tak bisa bergosip ria dengan menantunya itu.


"Aku itu menjaga istri dan anakku, Mom," ucap Michael.


"Menjaga sih menjaga, tapi bukan begitu caranya. Masa Mommy mau berduaan dengan menantu Mommy saja susahnya minta ampun."


Michael yang mendengar ucapan Mom Jane pun akhirnya mengalah. Ia akhirnya berdiri dan melihat ke arah Alexa, kemudian kembali berjongkok.


"Kamu benar tidak apa apa kalau aku tinggal sendiri?"


"Aku tidak sendiri, sayang. Aku bersama Mommy," jawab Alexa.


Alexa juga sangat menyadari bagaimana ketatnya Michael menjaga dirinya, seakan dirinya adalah barang pecah belah yang akan langsung pecah jika dipegang terlalu kasar. Suaminya itu juga bucin luar biasa, dan kini ia mengakui perkataan Axton dan juga Giorgio bahwa suaminya ini adalah salah satu pemenang jika ada lomba bucin tingkat RT.


"T-tapi ...," Michael masih belum rela untuk meninggalkan Alexa.


"Pergilah dulu, aku tidak apa apa."


"Dasar anak bucin!" ucap Mom Jane. Michael berdecak kesal ketika Mommynya itu juga mengatakan kalau dia bucin, padahal ia bukan bucin tapi karena ia memang sangat mencintai istrinya itu.


Michael akhirnya pergi, namun ia tetap mengawasi istri dan Mom Jane dari balik jendela kaca. Bagaimanapun juga, ia tak mau kecolongan karena waktu prediksi kelahiran anaknya tinggal 1 minggu lagi.


Dan benar saja, Alexa sedikit meringis ketika Michael sudah berlalu. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang datang tiba tiba itu. Namun, sakit itu tak berlangsung lama, ia pun kembali seperti biasa. Hal itu tak terlihat oleh Mom Jane.


"Kamu akan kembali ke New York, sayang?" tanya Mom Jane.


"Ya, Mom. Tapi akan menunggu hingga anak kami berusia 3 bulan."

__ADS_1


"Mengapa tidak tinggal di sini saja? Lagipula, bukankah sudah ada orang kepercayaanmu di sana?"


"Ya, Mom. Sudah ada Earl. Tetapi tetap aku harus ke sana untuk memastikan semuanya baik. Michael pun harus kembali membuka kliniknya. Ia bahkan menutupnya hanya untuk menemaniku di sini," jawab Alexa.


"Mommy sebenarnya curiga padanya," bisik Mom Jane.


Alexa menautkan kedua alisnya, "curiga bagaimana, Mom?"


"Mommy curiga ia mempunyai pekerjaan lain. Masa ia bisa tenang tenang begitu saat tak bekerja. Ia masih memberikanmu uang bulanan kan?" tanya Mom Jane.


"Iya, Mom. Michael selalu memberikannya. Tak pernah sekalipun ia lupa."


"Nah itu yang Mom bingung. Dari mana ia mendapatkan uang, padahal ia kan tidak bekerja. Kami juga tak pernah memberikannya uang," ucap Mom Jane penuh tanda tanya.


Alexa memang tak pernah menyelidiki apapun tentang Michael. Ia memang tak ingin tahu karena ia sangat yakin bahwa Michael selalu jujur padanya. Mungkin suaminya itu memiliki alasan tersendiri jika memang menutupi sesuatu.


"Aku percaya padanya, Mom. Apapun yang ia lakukan pasti ia melakukan untuk keluarga kami. Aku merasa sangat beruntung bisa bertemu dengannya," ucap Alexa.


Alexa kembali meringis ketika ia merasakan sakit di perutnya. Namun kali ini Mom Jane melihatnya.


"Perutmu sakit?" tanya Mom Jane.


"Ya, Mom. Tapi tidak apa apa, sebentar juga hilang," jawab Alexa menenangkan ibu mertuanya itu.


"Mom panggil Michael dulu ya," Alexa pun menganggukkan kepalanya.


Mom Jane pergi ke dalam rumah, tapi baru saja masuk, ia sudah melihat Michael yang diam di balik jendela sambil melihat ke arah ponselnya.


"Ya ampun kamu! Kenapa di sini? Kalau Mommy punya sakit jantung, sudah jantungan Mommy!" gerutu Mom Jane yang kaget akan keberadaan Michael.

__ADS_1


"Aku memperhatikan kalian."


"Cepat sana! Alexa mengatakan perutnya sakit," ucap Mom Jane.


Tanpa banyak bicara lagi, Michael langsung berlari menghampiri istrinya itu. Kini Michael yang melihat bahwa Alexa tengah meringis.


"Apa sakitnya sudah sering?" tanya Michael.


"Sekitar 10 menit sekali," jawab Alexa.


"Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang ya. Biar nanti kita tak terburu buru," Alexa pun mengangguk.


Michael mengemudikan mobil, sementara Alexa dan Mom Jane duduk di kursi belakang. Dad Stanley yang meminta ikut juga akhirnya duduk persis di sebelah Michael.


Sesekali Michael melihat ke arah spion sembari menghitung setiap berapa lama Alexa merasakan sakit.


"Tenanglah, sayang. Kita masih sempat, kamu tak akan melahirkan di sini. Tarik nafas dan buang perlahan," ucap Michael.


Mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit. Michael langsung meminta mereka untuk menyiapkan ruangan untuk bersalin.


Alexa di bawa ke dalam ruangan dan para perawat langsung menyiapkan semuanya. Bahkan, Michael pun turut berganti pakaian. Ia sendiri yang akan menangani proses kelahiran anak mereka.


Alexa kembali meringis dan menggigit bibirnya. Ia.menahan sakit yang mulai menjalar ke seluruh pinggul dan kakinya.


Michael kembali melihat jam yang berada di dinding dan menghitung. Ia mendekat ke arah Alexa kemudian mencium kening istrinya itu.


"Tenanglah, sayang. Aku mencintaimu. Kita pasti bisa melewati ini," Michael mencium Alexa di bibirnya, untuk memberi kekuatan pada wanita yang telah mengisi hatinya secara penuh.


"Dok, ketubannya pecah," ucap seorang perawat.

__ADS_1


🧡 🧡 🧡


__ADS_2