THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
MAKAN BIAYA


__ADS_3

"Lama sekali dirimu, ke mana saja, hah?!"


"Aku hanya pergi ke toilet sebentar," ucap Sisca.


"Dasar lamban!! Luke, kita langsung ke bandara."


"Bandara? Bukankah kita masih akan di sini 1 minggu ke depan?" tanya Sisca.


"Urusanku di sini memang belum selesai, tapi ada hal yang lebih penting yang harus kuurus di Jakarta."


"Tapi Rajeev, aku belum belanja," Sisca mulai bergelayut manja di lengan pria bernama Rajeev yang berusia 60 tahun.


"Belanja ... Belanja terus! Aku menikahimu untuk melayaniku, bukan untuk menghabiskan uangku! Masih jauh lebih baik Anjali daripada kamu!!" ucap Rajeev dengan ketus dan bibir mengejek.


Sisca menjauh dari Rajeev kemudian melipat kedua tangan di depan dada. Rencana yang telah ia susun untuk berbelanja dan memamerkan semua di akun media sosialnya telah gagal.


*****


Sisca yang baru selesai melayani Rajeev di atas tempat tidur pagi ini, langsung membersihkan dirinya. Ia akan menghabiskan waktunya untuk berjalan jalan di mall hari ini. Sebenarnya ia ingin pergi menemui dokter yang menyuruhnya cek laboratorium saar di Jakarta, namun hasil lab tersebut ia tinggal di ruangan Dokter saat di Berlin.


Namun, ia tak terlalu pusing. Ia tak ingin memikirkan hasil yang terkesan buruk. Buktinya, pagi ini perutnya tidak lagi terasa sakit. Ia baik baik saja.


Sisca pun merias dirinya dan berpakaian dengan seksi. Ia akan menemui seseorang siang ini. Ia yang terbiasa melayani Rajeev di atas tempat tidur, ingin dirinya lah yang gantian dilayani. Ia akan menyewa seorang pria seperti biasanya.


Dengan menggunakan taksi online, Sisca sampai di depan sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota Jakarta. Ia masuk dan menghampiri beberapa toko, hanya sekedar untuk cuci mata, karena ia akan menggunakan uang yang diberikan Rajeev untuk membeli kenikmatan.


"Sisca?"


Sisca menoleh karena merasa namanya dipanggil.


"Kamu benar, Sisca. Kamu masih ingat dengan Mama kan? Ini Mama, Mama Dara," Mama Dara membuka sedikit wajahnya yang ia tutupi dengan syal. Sisca yang melihatnya langsung menghempaskan tangan Mama Dara.

__ADS_1


"Jangan menyentuhku! Menjijikkan!" ucap Sisca dengan ketus.


"Sisca, tolong Mama. Beri Mama uang, Mama harus pergi ke dokter untuk mengobati wajah Mama ini."


"Minta saja pada putramu itu. Mengapa kamu malah merongrong diriku yang tidak ada hubungannya denganmu!" teriak Sisca yang membuatnya menjadi perhatian orang orang di sekitarnya.


"Darren pergi meninggalkan Mama. Mama tidak tahu di mana dia sekarang. Tolong Mama Sisca. Mama berjanji akan mencoba bicara pada Darren nanti untuk kembali menikahimu," ucap Mama Dara.


"Menikah lagi dengan Darren? Jangan bermimpi! Aku tidak akan pernah sudi!" Sisca mendorong Mama Dara hingga mantan mertuanya itu jatuh terjerembab ke lantai.


"Ahhh!!!" teriak Mama Dara, membuat Sisca langsung menoleh lagi. Ia melihat Mama Dara yang terlihat sangat kesakitan.


Semua orang di sekitar yang sejak tadi menonton, mulai membicarakan Sisca yang dengan sadar mendorong Mama Dara. Sisca yang awalnya ingin makan siang, kini harus membawa Mama Dara ke klinik yang berada di Mall itu. Ia meminta bantuan dari bebetapa security di sana untuk membantu membawa Mama Dara.


*****


Alexa selalu bolak balik Jakarta - New York. Alpenze Coorp semakin besar di kota tersebut, membuat pekerjaan Keekan di sana semakin banyak. Ia mulai sedikit kesulitan, apalagi jika Alexa sedang berada di Jakarta.


Alexa menghela nafasnya sesaat, "Aku kasihan pada Keekan. Ia mengerjakan semua sendiri di sana. Apa kamu mau menyusulnya?"


Di London, Alexa memiliki James, Claudia, dan juga Earl. Bahkan Edith juga kadang menghabiskan waktunya di Alpenze jika tak ada jam kuliah. Ia mempelajari semua yang berhubungan dengan perusahaan itu karena Alexa meminta James untuk memasukkan Edith di sana saat ia sudah lulus kuliah nanti.


"Aku ingin sekali bertemu Keekan, Nona. Tapi ... Bagaimana dengan suami dan anak anakku," Lala yang sudah menikah sangat memikirkan keluargamya.


"Hmm, aku mengerti. Aku hanya tidak tahu siapa lagi yang harus kukirim ke sana untuk membantu Keekan."


"Mengapa Nona tidak mengirimkan Neo saja? Ku rasa ia memiliki kinerja yang luar biasa."


"Ia tidak tahu apapun mengenai Alpenze, La. Ia hanya tahu jika aku adalah putri Keluarga williams, sama seperti Keluarga Thomas," ucap Alexa.


"Tapi di sini juga dia tidak ada kerjaan, Nona. Aku lebih sering melihatnya berada di ruang HRD untuk menggoda beberapa gadis di sana," ujar Lala.

__ADS_1


Alexa tertawa, "Kak Neo sudah cukup umur untuk memiliki kekasih, bahkan dia sudah pas untuk menikah. Jadi biarkanlah dia menggoda gadis gadis itu."


"Tapi Nona membutuhkan tenaga seperti Neo. Ia cepat bekerja dan ia bisa dipercaya. Biar di sini aku dan Sabrina yang akan menangani," ucap Lala. Ia tahu Nona mudanya itu banyak pikiran karena banyak pekerjaan. Bahkan ia tak pernah melihat Alexa bertemu dengan pria manapun sejak perpisahannya dengan Darren.


"Baiklah, aku akan memikirkannya nanti," ucap Alexa.


*****


"Dia hanya terjatuh saja, Dok. Tidak lebih," ungkap Sisca yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dokter di klinik pusat perbelanjaan itu.


"Saya sangat yakin kalau dia itu hanya berakting saja. Tidak mungkin jatuh lalu tiba tiba lumpuh, sangat tidak masuk akal!" ucap Sisca dengan ketus.


"Kalau begitu, anda bisa membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Terutama untuk membuktikan apakah diagnosa saya salah atau benar," ucap sang dokter yang merasa direndahkan dari cara Sisca berbicara.


"Merepotkan sekali! Pinjamkan aku kursi roda. Aku akan membawanya ke rumah sakit."


"Apa tidak ingin menggunakan fasilitas ambulance dari Mall ini?" tanya sang dokter.


"Tidak perlu, makan biaya saja wanita tua ini," dengan kesal Sisca mendorong kursi roda yang dipinjamkan oleh klinik Mall itu dan membawa Mama Dara ke area luar karena ia akan memesan taksi online.


Tatapan Sisca yang terlihat licik sudah terukir di sana, membuat Mama Dara sedikit takut. Menekan beberapa tombol di ponselnya, Sisca berhasil memesan taksi.


"Kita tunggu di sana, sebentar lagi taksinya akan datang."


Mereka berdiri di tepi jalan, karena Sisca tak mau taksi online masuk ke area mall dan ia harus membayar biaya parkir lagi. Sudah ia tidak jadi makan enak, tidak jadi merasakan kenikmatan, malah harus membayar biaya klinik dari mantan mertuanya.


Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi terlihat akan melewati jalan raya yang tepat berada di depan Mall. Sisca yang melihay itu tentu saja memiliki rencana yang sedari tadi sudah ia susun di dalam pikirannya. Bahkan pesanan taksi online nya adalah bohong karena ia sedari tadi berdiri di tepi jalan hanya untuk menghabisi mantan mertuanya itu.


Brughhh!!


🧡 🧡 🧡

__ADS_1


__ADS_2