THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
PERNAH MENYUKAINYA


__ADS_3

Tes DNA dilakukan secara khusus oleh dokter dan perawat khusus, dengan dibantu oleh dokter kandungan yang ditunjuk. Setelah mereka berhasil mengambil sampel, mereka pun langsung membawanya ke bagian laboratorium.


"Kalian menyakitiku," ucap Sisca dengan lirih.


Sisca memegang perutnya yang terasa sakit. Ia sudah mengalami sakit ini sejak beberapa hari yang lalu, dan ia selalu membawanya tidur agar tak merasakan sakit. Ketika keesokan paginya membaik, ia langsung menemui Dimas ataupun pria lainnya untuk memuaskan hasrattnya yang selalu menggebu setiap hari.


"Prosesnya memerlukan waktu 14 hari," ucap Dokter Freddy pada Darren.


"Percepat! Aku memerlukannya segera."


"Paling cepat adalah 7 hari, tapi untuk itu aku tak bisa menjamin."


"Bagaimanapun caranya, lakukanlah. Aku harus segera menceraikan wanita itu dengan bukti tes DNA."


"Dok, Nyonya Sisca terus merasa kesakitan," seorang perawat keluar dari ruangan dan menghampiri Dokter Freddy.


"Tidak mungkin. Kita sudah melakukannya dengan sangat mulus tadi," ucap Dokter Freddy.


Terdengar teriakan dari dalam ruangan tempat Sisca berada. Sisca terus memegangi perutnya dan meringis. Darren yang melihat itu pun hanya diam saja karena ia tak terlalu peduli lagi. Ia telah menganggap bahwa anak yang ada dalam kandungan Sisca adalah anak hasil perselingkuhan, hasil pengkhianatan.


Dokter Freddy melakukan pemeriksaan dan tiba tiba dari pangkal paha Sisca keluar cairan berwarna merah.


"Ahhhh!!" teriak Sisca yang semakin merasakan mulas pada perutnya.


"Cepat siapkan ruang tindakan!" perintah Dokter Freddy.


"Ada apa?" tanya Darren yang melihat wajah Freddy yang kini terlihat sangat gusar.


"Aku pasti akan melakukan yang terbaik," ujar Dokter Freddy.


*****


Millie yang datang ke perusahaan Thomas, tanpa menghiraukan keberadaan Sabrina ataupun Neo di luar ruangan Michael, langsung saja masuk ke ruang kerja Michael.


Michael yang sedang melamun sambil memandangi ponselnya, sama sekali tak menyadari bahwa Millie telah masuk dan berjalan mendekatinya.


Millie berdiri di sebelah Michael dan melihat foto seirang wanita di layar ponsel milik Michael yang terus saja pria itu pandangi. Seketika kekesalan terbit di dalam diri Millie. Ia mengepalkan tangannya dan menghela nafasnya.


"Kamu menyukainya?" tanya millie tiba tiba, membuat Michael yang sedang melamun pada akhirnya tersadar.

__ADS_1


"ya, aku menyukainya, karena itu pergilah dari sini."


"Siapa namanya? Aku ingin tahu."


"Alexa Williams," jawab Michael. Mendengar nama Williams, membuat Millie tiba tiba merasa ciut. Jika dibandingkan dengan putri keluarga Williams, tentu ia bukanlah apa apa. Namun, ia tetap tak akan membiarkan Michael lari darinya.


"Putri keluarga Williams hmm ... Ia sangat cantik ... Tapi, ku rasa kamu tidak cocok dengannya, sayang. Dibandingkan dengan keluarga Williams, kamu tidak ada apa apanya. Apa kamu tidak takut dicemooh? Sebaiknya kamu berhenti sebelum terlanjur sakit hati," ujar Millie.


Michael tampak berpikir dengan semua perkataan Millie, memang benar bahwa ia tak ada apa apanya jika dibandingkan dengan Alexa. Apakah cintanya kini terhalang oleh status? Ia juga putra seorang pengusaha, tapi ... bukan pengusaha besar.


"Sebaiknya kamu pergi, aku tidak membutuhkan nasihatmu."


"Bagaimana kalau kita makan malam bersama?" ajak Millie.


"Aku tidak bisa, banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan," ujar Michael.


"Baiklah, selamat bekerja keras! Carilah uang sebanyak banyaknya ya. Semangat semangat!" Millie pun tersenyum dan melangkah pergi.


Michael melihat ke arah Millie dan mencebik, "Aku tahu bahwa bagimu yang terpenting hanyalah uang, uang, dan uang. Aku bukan pria yang akan tergoda lagi dengan wanita yang tak menghargai cinta dan pengorbananku. Cukup sekali kamu masuk dalam hidupku. Saat kamu memilihnya, itulah saat aku membuangmu dari hidupku," gumam Michael.


Michael menyadari bahwa dirinya tak mungkin seperti ini terus. Ia tak bisa terus mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Namun, apa yang bisa ia lakukan?


*****


"Al, nanti istriku cemburu," bisik Giovan pada Alexa.


"Ahhh maafkan aku," ucap Alexa sambil tersenyum. Ia pun langsung menghampiri Lynn yang kini tengah hamil.


"Bolehkah aku memegang perutmu?" tanya Alexa.


"Tentu saja," jawab Lynn dengan tersenyum. Lynn masih ingat bahwa suaminya, Giovan, pernah menyukai bahkan mungkin mencintai wanita di hadapannya ini. Namun, kini ia percaya bahwa Giovan hanya mencintai dirinya. Ia tak perlu merasa cemburu dengan kedekatan keduanya.


"Menikahlah, Al. Kamu juga bisa memiliki anak sendiri," ucap Giovan.


"Kakak sama saja seperti Mommy. Menikah itu mudah kak, mencari yang benar benar tulus yang sulit," balas Alexa.


"Kamu benar. Jangan memaksa menikah hanya karena menginginkan anak. Di dunia ini banyak juga anak anak yang memerlukan perhatian kita bukan?" ucap Lynn.


"Hnm!" Alexa mengangguk bahagia karena ada yang begitu mengerti dirinya. Ia teringat akan panti di mana Bu Listy berada. Sejak ia ke New York, ia belum mengunjungi mereka lagi.

__ADS_1


"Alexa ku sayang," sapa Giorgio yang melihat kedatangan Alexa.


"Haishhh kenapa aku harus bertemu denganmu lagi?"


"Apa kamu tidak merindukanku, Al?" goda Giorgio.


"Tidak! Tidak sama sekali!"


"Ishh kamu ini. Aku mencarimu di acara ulang tahun Perusahaan Williams, tapi kamu tidak ada."


Alexa langsung mengelus dadanya, "untung aku tidak datang. Kalau tidak, berarti aku harus bertemu denganmu."


"Aku ini makhluk Tuhan yang paling seksi tahu!" ucap Giorgio dan membuat Alexa tertawa terbahak bahak. Giorgio selalu menganggap Alexa sebagai sepupunya, meskipun mereka tak terikat hubungan darah secara langsung, berbeda dengan Giovan yang memang menaruh hati pada adik perempuan Axton Williams itu.


Mereka makan malam bersama dengan keluarga besar Sebastian dan Williams. Suasana yang begitu ramai dan hangat dengan mudahnya tercipta. Light dan Star yang kembali ke Indonesia untuk berlibur, membawa serta anak anak mereka.


"Hallo Ella," sapa Alexa pada putri Light dan Star.


"Hallo Aunty cantik!" Alexa langsung tersenyum saat Ella memanggilnya dengan Aunty cantik.


""Mau bermain denganku?"


"Hmm ...," Ella yang awalnya bersama dengan pengasuhnya, kini berjalan bergandengan dengan Alexa. Mereka menuju taman belakang kediaman keluarga Sebastian.


Giorgio yang menyukai fotografi, mengambil beberapa gambar tentang pertemuan keluarga besar mereka. Tak ketinggalan ia mengambil foto Alexa bersama Ella di taman belakang. Setelahnya, mereka juga mengambil foto bersama.


Lynn yang memang penggiat media sosial karena ia menggunakannya untuk melakukan hobbynya yakni menyanyi, memposting foto kebersamaannya dengan keluarga Sebastian dan keluarga Williams.


Lynn melihat bagaimana Alexa yang sebenarnya. Wanita itu sangat baik, cantik, ceria, penyuka anak anak. Mungkin karena kesederhanaannya itulah, suaminya dulu pernah menyukainya.


"Maukah berfoto bersamaku?" tanya Lynn pada Alexa.


"Tentu saja," mereka pun tersenyum dan berfoto bersama.


Lynn memposting foto tersebut di halaman media sosialnya, yang tentu saja langsung mendapatkan 'like' yang begitu banyak.


Michael yang mendapatkan notifikasi di ponselnya, akhirnya membuka karena ingin melihat aktivitas adiknya itu. Matanya membulat saat melihat foto yang diposting oleh Lynn.


"Dia benar benar putri keluarga Williams," gumam Michael. Kini, tekad Michael semakin besar untuk menjalankan rencananya.

__ADS_1


🧡 🧡 🧡


__ADS_2