THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
SIAPA WANITA TADI?


__ADS_3

"Dokter Lee?" Suster Franda yang terbiasa membantu Michael sehari hari, melongonkan kepalanya ke ruangan Michael, setelah Michael mempersilakannya masuk.


"Ada apa?"


"Ada seseorang yang ingin bertemu."


Michael menautkan kedua alisnya. Ia tak ada janji dengan siapapun, bahkan anak petinggi itu akan datang minggu depan karena saat ini masih berada di luar kota.


"Pasien?" tanya Michael.


"Sepertinya begitu. Ia ingin bertemu meskipun saya sudah mengatakan bahwa hari ini tidak ada jadwal dokter untuk praktek."


Michael tak ingin menolak pasien manapun atau siapapun. Ia bahkan selalu mendahulukan kepentingan pasien daripada dirinya sendiri.


"Baiklah, persilakan dia masuk," ucap Michael.


Seorang wanita masuk ke dalam ruangan Michael dengan membawa sebuah amplop berwarna coklat. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruangan.


Michael merasa sedikit aneh dengan wanita yang terlihat seperti penguntit. Sebuah kacamata hitam dan syal menutupi sebagian wajahnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Michael saat wanita itu telah duduk di hadapannya.


"Dok, cepat tolong baca ini. Jelaskan pada saya apa isinya. Saya tidak mengerti semua tulisan yang ada di sana."


"Nama anda?" tanya Michael lagi.


"Fransisca ... Fransisca Leora."


Michael membuka laporan laboratorium itu dan membacanya perlahan. Ia bahkan menelisik satu persatu angka angka yang tertera di sana.


"Cepatlah, sebelum suamiku mencariku lagi," ucap Sisca.


"Mungkin anda bisa membawa suami anda ke sini juga, Nyonya. Anda berdua perlu mengetahui tentang hal ini."

__ADS_1


"Katakan saja padaku. Aku tak ingin suamiku mengetahui keadaanku. Lagipula ku rasa tak ada yang salah dengan diriku, hanya saja aku ..."


"Anda menderita kanker serviks, Nyonya," ucap Michael dan langsung membuat Sisca terlonjak kaget.


"Tidak mungkin, anda pasti salah, Dok."


"Dari laporan laboratorium yang saya lihat seperti itu. Silakan anda berbaring jika ingin saya periksa lebih lanjut," ucap Michael.


Sisca yang melihat ketampanan Michael, sebenarnya merasa sangat malu jika ia mengidap penyakit seperti itu. Namun, ia merasa tak tahu malu jika ada pria yang ingin melihat alat inti miliknya.


Suster Franda yang awalnya berada di luar ruangan, diminta untuk masuk. Michael tak ingin 1 ruangan dengan seorang wanita jika melakukan suatu tindakan. Ia hanya melakukannya jika wanita itu berkonsultasi dan tak ingin diketahui oleh siapapun.


Suster Franda meminta Sisca untuk duduk di sebuah kursi khusus. Kursi itu memiliki peyangga pada bagian kaki sehingga dokter bisa memeriksa bagian inti dengan lebih mudah. Michael meminta sebuah nampan kecil dan sebuah cotton bud berukuran agak besar.


Tentu saja Sisca melakukan semua itu dengan sukarela, malah ia berharap dokter tampan di hadapannya menjadi tertarik dengannya karena telah melihat inti miliknya yang kini sudah mulai berkedut.


Michael menggunakan sarung tangan dan mulai mengambil cotton bud besar itu. Ia memasukkannya ke dalam inti milik Sisca dan membuat Suster Franda tertawa kecil karena Sisca memejamkan matanya dan mulai mendes sah.


"Ahh, Dok ... Lagi ... Dok ... Ahh ...," des sah Sisca.


"Sudah, Nyonya," Suster Franda menyadarkan Sisca yang masih memejamkan matanya. Sustee Frabda masih tersenyum melihat Sisca.


"Hah? Sudah selesai? Aku tak merasakan apa apa," ucap Sisca.


"Hasil pemeriksaan akan dicek lagi di laboratorium kami. Anda bisa datang ke sini lagi sekitar 3 hari," kata Michael sambil menulis sebuah surat pengantar ke laboratorium.


"Sus, bawa ini ke lab," Michael memberikan selembar kertas pada Suster Franda.


Sisca yang sudah merapikan pakaiannya, kini kembali duduk di depan Michael. Ia memperhatikan Michael yang tengah serius.


"Dari hasil lab sebelumnya anda didiagnosa menderita kanker serviks seperti yang saya katakan tadi. Tapi untuk lebih pasti, saya akan melihat hasil laboratorium kami. Anda bisa datang ke sini lagi sekitar 3 hari, Nyonya."


"Apa kita bisa bertemu di luar? Maksudku kamu bisa memeriksaku di luar, jadi aku tidak perlu datang ke rumah sakit," ucap Sisca.

__ADS_1


"Bukankah suami anda sedang menunggu, Nyonya?"


"Ahhh iya," Sisca baru teringat bahwa suaminya yang tadi hanya menemui istri pertamanya, pasti sudah menunggunya lagi di lobby, "Hubungi aku ya jika kamu bisa memeriksaku di luar."


Dengan cepat Sisca meraih kertas dan bolpoin, kemudian menuliskan nomor ponselnya di sana. Ia ingin tahu bagaimana rasanya sentuhan Michael, bahkan tadi hanya dengan menggunakan alat, ia sudah mendes sah, bagaimana jika Michael benar benar berbagi peluh dengannya. Ahh dia rasanya tak bisa membayangkannya. Sisca pun akhirnya keluar.


Michael langsung mengambil kertas yang ditulis oleh Sisca, meremasnya, dan memasukkannya ke dalam tong sampah. Michael bisa menilai siapa Sisca hanya dari caranya memperlakukan seorang pria.


"Dokter Lee!" pintu ruang prakteknya kembali terbuka dan menampakkan sosok seorang wanita. Hal itu membuat Michael kembali menghela nafasnya.


"Kita makan malam bersama?"


"Makanlah sendiri, aku akan makan malam bersama istriku," ucap Michael yang langsung bangkit. Ia membuka jas putih dan menggantungnya di tiang kayu di sudut ruangan, kemudian keluar dari ruangan itu.


"Saya pulang dulu, Sus. Oya, besok saya akan mulai praktek lebih awal ya."


"Baik, Dok. Selamat malam."


"Selamat malam," Michael pun bergegas pergi dari rumah sakit dengan menggunakan mobil. Ia mendapatkan fasilitas mobil dari rumah sakit sehingga membuatnya mudah untuk mobilisasi.


Dokter Holly yang diacuhkan oleh Michael merasa sedikit kesal, namun bagaimana? Ia sangat menyukai Michael, bahkan sejak hari pertama pria itu ada di rumah sakit itu.


"Fran, tadi siapa wanita yang menemuinya? Apa dia istrinya? Aku lihat caranya berpakaian sangat seksi sekali," tanya Dokter Holly ingin tahu.


"Sepertinya bukan, Dok," Suster Franda kembali terkekeh ketika mengingat bagaimana wanita itu mendes sah saat Michael memeriksanya, bahkan wanita itu seakan menikmati dan membayangkan sesuatu dengan matanya yang terpejam.


Dokter Holly hanya bisa melihat kepergian Michael yang semakin menjauh dari posisinya berdiri.


Sesampainya ia di apartemen, Michael masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya, ia menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Michael jarang sekali membeli makanan di luar. Baginya lebih hemat dan juga lebih sehat makan di rumah. Ia duduk di meja makan dengan makanan di hadapannya. Ia membuka ponselnya di mana wajah Alexa menjadi wallpapernya.


"Apa kamu sudah makan? Kamu tahu, aku merindukanmu. Kamu akan menungguku kan? Aku pasti akan datang kembali untukmu," Michael memakan makan malamnya sambil terus menatap layar ponselnya. Setiap hari ia membuka halaman pencarian untuk melihat jika ada berita terbaru tentang Alexa, wanita yang telah mencuri semua perhatian dan hatinya.

__ADS_1


🧡 🧡 🧡


__ADS_2