THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
BE MY GIRL


__ADS_3

Alexa mendapatkan banyak tamu, baik dari sahabat Keluarga Williams, maupun dari Keluarga Sebastian. Namun, mereka membatasi dengan meletakkan kedua bayi kembar mereka di dalam box kaca. Jadi, para tamu bisa melihat tapi tidak menyentuh ataupun menggendong.


Para tamu yang datang ikut tertular kebahagiaan Keluarga Williams dan Sebastian. Begitu banyak hadiah yang dibawa oleh mereka untuk baby Nala dan Nathan.


Setelah beberapa hari di rumah sakit, Michael dan Alexa pulang ke rumah Keluarga Williams. Untuk 1 bulan ke depan, Alexa akan meminta Mom Mia untuk membantunya mengasuh kedua bayi kembarnya.


Malam pertama keduanya membawa pulang Nala dan Nathan, mereka berdua sama sekali tak bisa tidur. Beberapa kali Alexa harus memberikan asi, terutama untuk Nathan. Nala lebih banyak tidur, sementara Nathan terus meminta asi.


Alexa sangat bersyukur karena Michael selalu sigap membantunya. Bahkan pria itu selalu meminta Alexa untuk beristirahat setelah memberikan asi, sementara ia akan menggantikan popok ataupun sekedar menimang kedua buah hatinya.


Keesokan paginya, Mom Mia melihat keduanya sambil tersenyum kecil. Ia telah melewati masa masa itu, namun ia cukup merindukannya.


"Apa kalian tak ingin mempekerjakan babysitter?" tanya Mom Mia.


"Iya, Snow. Akan lebih baik jika ada yang membantumu," ucap Dad Azka.


"Aku tidak mau, Dad. Aku tahu ini akan sangat melelahkan, tapi aku merasa akan merindukan masa masa ini jika aku melewatkannya. Lagipula saat ini sangat sulit mencari babysitter yang baik dan cekatan," ucap Alexa.


"Kami akan mempekerjakan babysitter jika memang nanti kami sangat memerlukannya, Dad. Saat ini kami masih bisa menanganinya," ucap Michael.


"Baiklah."


Kalian tidak tahu saja. Kalian pasti hanya akan mampu bertahan sebentar, aku sudah pengalaman. Dua kali ... Ya dua kali aku harus begadang selama hampir 3 bulan. Selebihnya memang mendingan, tapi tetap saja ... - Dad Azka menghela nafasnya. Mom Mia yang menyadari itu hanya teetawa kecil karena ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya.


*****


"Makan siang bersama, Kee?" ajak Neo.


"Ayo!" kini sudah tak terlihat kecanggungan lagi di antara keduanya. Mereka sudah bisa saling bekerja sama dan kini Perusahaan Thomas sudah lebih baik dan lebih kuat.


Dad Stanley pun sangat berterima kasih pada Neo karena telah membantunya mengurus perusahaan, sementara kedua anaknya malah kabur dan tidak mau mengurus perusahaan keluarga.


"Bri, makan siang?" tanya Keekan.


"Tidak. Aku membawa bekal," jawab Sabrina sambil membuka tas yang berisi bekal makan siangnya.


Neo dan Keekan pun keluar dari Perusahaan Thomas. Mereka langsung menuju ke sebuah restoran yang tak jauh dari sana.

__ADS_1


Lala kini telah dipindahkan kembali ke posisinya semula karena Neo telah kembali. Semua sudah kembali berjalan sebagaimana mestinya.


"Kamu mau makan apa, Kee?" tanya Neo.


"Samakan saja denganmu," jawab Keekan.


"Baiklah," Neo memanggil seorang pelayan dan menyebutkan pesanannya. Setelahnya, ia kembali fokus melihat ke arah Keekan yang tengah melihat ke arah layar ponselnya.


"Kee ...," panggil Neo lagi.


"Ya," Keekan meletakkan ponselnya di atas meja dan melihat ke arah Neo.


"Apa sabtu besok kamu ada acara? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


"Sepertinya tidak ada. Memangnya kamu mau mengajakku ke mana?"


"Kamu akan tahu nanti," ucap Neo sambil tersenyum.


*****


"Sudah lama?" tanya Keekan yang langsung naik ke dalam mobil dan mengencangkan seatbeltnya.


"Tidak," jawab Neo tersenyum.


Hubungannya dengan Keekan sudah sangat membaik, sangat jauh dari sebelumnya. Meskipun Keekan tak pernah menjawab pernyataan cintanya, tapi Neo tak pernah memaksa. Ia membiarkan semua berjalan sebagaimana adanya.


Neo menghentikan mobilnya di depan sebuah panti asuhan. Panti asuhan di mana ia tinggal sejak kecil. Keekan menautkan kedua alisnya dan menoleh ke arah Neo seakan bertanya mengapa pria itu membawanya ke sana.


"Ayo turun," ajak Neo.


Keduanya turun dan disambut oleh Bu Ani yang memang sudah menunggu kedatangan Neo setiap hari Sabtu.


"Siang Bu. Kenalkan, ini Keekan," ucap Neo.


"Keekan," Keekan menjabat tangan Bu Ani dan tersenyum.


Bu Ani mempersilakan keduanya masuk. Keekan melihat anak anak berlarian ke sana ke mari. Saat salah satu dari mereka melihat kedatangan Neo, mereka langsung menghampiri.

__ADS_1


"Kak!" teriak mereka.


"Halo, Boy!" Neo memberikan salam pada mereka dengan sebuah high-five (tos)


Keekan melihat interaksi itu dan tersenyum. Ia tidak tahu mengapa Neo membawanya ke sana. Sebenarnya ia ingin bertanya namun tak enak hati. Biasanya ia ke tempat seperti itu bersama dengan Alexa, bahkan ia akan menyiapkan bingkisan untuk para penghuni panti.


"Apa kalian sudah menyiapkannya?" bisik Neo.


"Sudah Kak. Semua sudah siap. Ada di taman belakang," ucap salah seorang dari mereka.


Neo pergi ke taman belakang dan meminta mereka memanggilkan Keekan. Keekan yang tiba tiba diajak ke taman belakang menjadi heran. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari keberadaan Neo.


Mata Keekan membulat saat melihat Neo tengah duduk di sebuah bangku tinggi yang terbuat dari kayu, sambil memegang sebuah gitar. Di kanan kirinya terdapat beberapa anak anak panti.


Well, I found a woman, stronger than anyone I know


She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home


I found a lover, to carry more than just my secrets


To carry love, to carry children of our own


We are still kids, but we're so in love


Fighting against all odds


I know we'll be alright this time


Darling, just hold my hand


Be my girl, I'll be your man


I see my future in your eyes


"Kee, be my girl. I promise to hold you this time and never let you go again."


🧡 🧡 🧡

__ADS_1


__ADS_2