
Keekan yang kini bekerja bersama dengan Sabrina untuk menggantikan Alexa, mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Saat ini ia menggunakan ruangan yang dulu digunakan oleh Neo. Hal itu membuatnya selalu teringat akan pria itu, kekasih pertamanya.
"Ke mana dia pergi?" gumam Keekan.
Keekan melamun hingga tak menyadari kalau Zero masuk ke dalam ruangan. Zero memperhatikan Keekan yang melamun sambil sesekali bergumam tak jelas.
"Kee ... Kee," beberapa kali Zero memanggilnya, namun Keekan tidak sadar juga. Hingga akhirnya ia mendekat dan menyentil kening Keekan.
"Kee!"
"Ahh! Kamu mengagetkanku!" Keekan mengusap dadanya karena kaget, "Aku kira siapa."
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Mengapa kamu melamun?" tanya Zero.
"Ah tidak, aku hanya sedang diam saja, jadi terlihat seperti melamun," jawab Keekan.
"Apa kamu datang untuk memeriksa laporan?" tanya Keekan lebih lanjut.
"Ya, tapi aku hanya sebentar. Aku harus pergi ke luar kota ... Lagi ...," tiba tiba saja Zero mengerutu, baru kali ini Keekan mendengarnya.
"Kamu lelah?"
"Sangat. Seharusnya memang Neo yang di sini. Untuk apa dia pergi ke sana hanya untuk bekerja serabutan, bahkan ia bisa mendapatkan gaji lebih besar di sini," tanpa sadar Zero mulai berkata kata.
"Serabutan?" tanya Keekan.
"Hmm ... Pagi hingga sore dia bekerja di perusahaan jasa keuangan, sore hingga malam ia bekerja di cafe menjadi koki. Apa dia tidak lelah? Gaji yang ia dapat juga sangat jauh berbeda jika ia bekerja di Perusahaan Thomas kan?"
"Hanya gara gara seorang wanita memintanya demikian, ia langsung melakukannya. Aku tahu apa yang ia lakukan salah, tapi tidak seperti ini caranya," lanjut Zero.
__ADS_1
"Banyak kebutuhan yang harus ia penuhi, tapi dia malah memilih jalan seperti ini. Dia sepertinya sudah gila!"
Di dalam hati, Keekan sangat tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Neo saat ini adalah karena permintaannya. Ada terbersit rasa bersalah karena Neo sampai harus pergi meninggalkan pekerjaannya. Bahkan kini ia membuat semua repot karena kepergian Neo.
*****
1 hari ... 2 hari ... Rasa pusing dan mual itu terus terulang. Michael kini duduk melamun di dalam ruang prakteknya. Ia tidak akan bisa bekerja dengan fokus jika ini terus berulang setiap hari. Ia mulai terus berpikir apa penyebabnya.
Jangan jangan?
Tanpa banyak bicara, Michael langsung bangkit dan keluar dari klinik. Sebelumnya ia mengambil tas yang berisi alat alat dokternya dan berpesan pada perawat di sana untuk menutup klinik sementara waktu.
Michael langsung melajukan kendaraannya menuju ke tempat di mana wanita yang selalu ia rindukan berada, Alpenze Coorp. Intuisinya sebagai seorang dokter spesialis kandungan mengatakan bahwa apa yang ia pikirkan adalah benar.
Semua mata memandang Michael ketika ia masuk ke dalam perusahaan. Meskipun ia bukan seorang pengusaha, namun penampilannya yang gagah membuat orang orang kagum padanya.
"Sayang," Michael membuka pintu ruang kerja Alexa dan langsung mendapati wanitanya itu tersenyum.
"Apa kamu merasakan sesuatu? Pusing, mual, atau rasa yang berbeda, yang lain dari biasanya?" tanya Michael.
"Tidak, sayang. Aku baik baik saja."
"Periksa dengan ini," Michael menyerahkan sebuah testpack dan meminta Alexa untuk memeriksa urine nya
"Apa kamu mengira aku ...?" Alexa mulai berpikir, ia baru sadar kalau ia belum mendapatkan tamu bulanannya. Pekerjaannya yang sangat padat, membuatnya melupakan hal itu.
Alexa pun langsung berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi. Jika memang ia sedang hamil, ia akan sangat senang sekali.
Michael dengan sabar menunggu di depan pintu. Ia sangat yakin Alexa sedang hamil karena sejak menikah, ia terus menggempur benteng Alexa, tanpa terhalang tamu bulanan. Hanya saja sekarang ia perlu memastikan, tidak hanya mengira ngira atapun keyakinannya semata.
__ADS_1
Ceklekkk
Pintu terbuka dan wajah Michael sudah pasti menampakkan wajah bahagia karena keyakinannya, "bagainana? Bagaimana? Positif kan!"
Alexa yang juga tak bisa menahan rasa bahagianya, langsung tersenyum dan memeluk suaminya itu, "Aku hamil."
"Kalau begitu, aku akan langsung memeriksanya," ujar Michael.
"Kita ke klinik saja sekarang," ajak Alexa.
"Tidak, aku akan memeriksanya lewat adikku. Sebelum diperiksa lewat USG, aku ingin bertemu mereka secara pribadi dulu," ujar Michael yang menampilkan senyum di wajahnya.
"Jangan bilang maksudmu ..."
Michael langsung menggendong Alexa dan membawanya masuk ke dalam ruangan khusus yang ada di dalam ruang kerja Alexa. Ia pun mengunjungi calon anaknya yang kini berada di dalam rahim Alexa.
🧡 🧡 🧡
Dasar Mas Mic modus, tapi Cherry seneng loh klo dimodusin gitu ...
Cherry (C) : Al, aku daftar jadi pelokar ya.
Alexa (A) : Emang punya bakat?
C : Aku bisa belajar kok.
A : Ya udah belajar dulu sana. Klo udah lulus, baru balik sini.
C : Nah ini masalahnya ... sekolah belum lulus2. Aku magang aja gimana di rumah?
__ADS_1
Pletakkk
C : Siapa yang pukul aku barusan???