
"Sudah makan?" tanya Michael dengan lembut pada seorang wanita tua yang sedang ia periksa.
"Sudah," jawab wanita itu. Gigi bagian depan yang sudah tanggal membuatnya terlihat semakin tua.
"Grandma, lain kali jangan tidur malam lagi ya. Tekanan darahmu mulai tinggi, dan ini tidak baik," Michael membuka tensimeter yang melingkar di lengan atas wanita tua itu.
"Aku tidak bisa tidur. Putraku tak pernah menjengukku. Mereka sepertinya sengaja meninggalkanku di sini."
Michael tersenyum, "Aku akan sering mengunjungimu."
Wanita tua itu tersenyum kemudian menyentuh pipi Michael, "Cucuku pasti sudah sebesar dirimu. Aku juga merindukannya."
Di panti jompo itu, terlihat para pria dan wanita di usia lanjut yang tengah bercanda dan bersenda gurau. Sebagian dari mereka sudah tak memiliki keluarga, namun sebagian lagi masih memiliki hanya saja mereka ditempatkan di sana karena anak ataupun saudara mereka tak bisa mengurus mereka.
"Terima kasih, Dok," ucap pengurus panti itu. Michael selalu meluangkan waktunya untuk memeriksa mereka semua. Itu ia lakukan untuk mengobati rasa rindunya pada kedua orang tuanya.
Ia tahu ia salah, tapi ia juga ingin menunjukkan pada keduanya bahwa ia bisa sukses meskipun bukan di jalur bisnis seperti keinginan Dad Stanley.
"Ini sedikit untuk kebutuhan di sini. Kabari aku jika ada sesuatu yang mereka butuhkan."
Pengurus panti mengangguk dan berterima kasih pada Michael. Michael pun kembali melajukan kendaraannya kembali ke Kota Berlin.
*****
"Snow, apa kamu mau ikut Dad menemui Grandpa Victor?" Victor Barata adalah adik dari Vanessa Barata, istri Axelle Williams. (Bisa dibaca di Novel Cinta dan Benci)
"Ada apa Dad menemui Grandpa Victor?" tanya Alexa.
"Tentu saja untuk meninjau rumah sakit kita di sana," Dad Azka tertawa. Alexa kadang bisa tiba tiba tulalit kalau ia sedang tidak fokus.
"Daripada kamu di rumah seorang diri, lebih baik ikut dengan Dad dan Mom. Sekaligus kamu berlibur. Dad lihat belakangan ini kamu tidak fokus, Dad merasa kamu terlalu lelah, Snow."
"Dad ...," Alexa memeluk Dad Azka. Ia merasa nyaman saat berada dekat dengan Daddynya ... Hangat.
"Apa kamu masih memikirkan pria itu?"
Alexa menengadahkan wajahnya menatap Dad Azka. Ia tahu ia tak akan pernah bisa membohongi atau menyembunyikan apapun. Dad Azka selalu tahu apa yang ia lakukan, bahkan tahu apa yang ia rasakan.
"Apa aku tidak boleh memikirkannya?"
__ADS_1
Dad Azka tersenyum, "Dia ada di ..."
"Stop Dad! Jangan katakan padaku. Aku tak ingin mengetahuinya. Aku bisa saja mencari tahu semuanya, tapi aku tak ingin. Aku akan membiarkannya mencari dan mencapai apa yang ia inginkan. Aku akan menunggunya, untuk menagih semua janjinya."
Dad Azka tak ingin terlalu dalam mencampuri urusan putra putrinya. Ia cukup mengawasi dan menjaga mereka dari kejauhan. Ia yakin putra putrinya mampu untuk mengatasi setiap masalah di depannya.
Dad Azka kembali tertawa, "Kalau begitu, ikutlah dengan Dad dan Mom. Kita bersenang senang. Biarkan Brave yang bekerja."
"Kalau rencananya seperti itu, aku setuju, Dad!"
Pletakkk
"Aduhhh!! Kakak suka sekali menyentil keningku!" ucap Alexa.
"Kamu juga suka menertawakanku, apalagi kalau membuatku tersiksa, ya kan?"
"Kakak tahu saja," Alexa langsung berlari menuju kamar tidurnya. Meskipun di luar Axton sangat dingin, tapi jika ia berada di rumah, maka ia akan bersikap hangat, bahkan bisa bercanda.
"Apa semua sudah selesai?" tanya Dad Azka pada Axton.
"Sudah, Dad. Dad hanya tinggal berangkat saja. Besok Zero akan memberikan blueprint yang Dad butuhkan," Dad Azka kembali mengangguk.
*****
Michael melihat ke arah Fernando yang terus saja sibuk dengan ponselnya. Sedari tadi hanya Esme saja yang terus berbicara.
"Apa anda sudah yakin ingin memiliki anak?" tanya Mi hael.
"Tentu saja. Saya dan suami saya saling mencintai, hanya saja kami belum diberikan keturunan."
"Berapa lama anda sudah menikah?"
"Ehmm ... Sekitar 3 tahun."
Terus terang Michael sedikit merasa kaget. Bukankah Fernando menikah dengan Millie sekitar 1 tahun yang lalu? Apa itu berarti Fernando menikah dengan Millie saat ia masih berstatus suami Esme?
"Anda berdua harus melewati beberapa tes sebelum kita bisa melihat apakah tak ada yang mengganggu prosesnya nanti," ucap Michael. Esme pun menganggukkan kepala dan akan mengikuti semua langkah langkah yang disarankan Michael.
*****
__ADS_1
"Sakit ....," Sisca memegang perutnya dan bergulung di dalam selimut. Sakit di perutnya saat ini benar benar menyakitkan.
Rajeev masuk ke dalam kamar dan menatap sisca dengan nyalang, "Bangunn!!! Apa kerjamu hanya tidur saja?? Cepat layani aku."
"T-tapi saat ini perutku sedang sakit," ucap Sisca dan masih memegang perutnya.
"Jangan banyak alasan! Apa kamu ingin lari dari tugasmu, hah?! Cepat!"
Rajeev yang bertubuh sedikit gempal langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur Sisca. Sisca pun membuka pakaiannya sendiri hingga tubuhnya polos, kemudian ia naik ke atas tubuh Rajeev. Tiba tiba saja Sisca merasa mual karena mencium keringat di tubuh Rajeev, bahkan ia tak sanggup untuk memberikan rangsangan pada pria itu.
"Cepatt!!! Aku sudah tidak tahan!" ucap Rajeev dengan ketus.
Sisca pun menahan rasa mualnya. Ia tak ingin mendapatkan pukulan lagi jika tak bisa membuat suaminya itu puas. Ia memasukkan milik Rajeev ke dalam miliknya. Sakit, itulah yang Sisca rasakan. Ia menggoyangkan pinggulnya pelan karena ia tak bisa mempercepatnya.
"Bau apa ini?" tanya Rajeev tiba tiba.
"Bau? Aku tidak mencium apa apa," ucap Sisca. Sebenarnya ia juga mencium bau sesuatu, namun ia hanya meyakini bahwa bau itu berasal dari tubuh Rajeev.
Rajeev melepaskan miliknya dari milik Sisca. Ia melihat ada cairan yang bercampur darah di sana. Baunya semakin menyengat dan membuat Rajeev langsung kegilangan gai rah nya.
"Menjijikkan! Kamu tidak membersihkannya ya?" Rajeev langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia sudah tidak berniat lagi berhubungan dengan Sisca.
Sementara Sisca di luar masih merasakan sakit di bagian perut dan panggulnya, ngilu, "Ada apa denganku?"
Sisca kembali teringat pada diagnosa dokter saat ia berada di Kota Berlin. Ia mulai merasa takut, jangan jangan semua yang dikatakan dokter adalah benar.
"Tidak! Tidak mungkin! Aku sehat, aku harus segera menemui dokter lagi."
Hoekkk hoekkk ...
Sisca kembali mencium bau tidak sedap yang keluar dari inti tubuhnya. Ia mengambil tissue dan membersihkannya, namun membuatnya semakin mual.
Brakkk
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat sosok Rajeev dengan hanya menggunakan handuk saja. Sisca menatap pria itu dengan memelas.
"Bereskan semua barangmu dan segera pergi dari rumahku! Aku akan menceraikanmu!"
🧡 🧡 🧡
__ADS_1