THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
DI MANA NEO?


__ADS_3

Meskipun Michael tahu bahwa Alexa adalah wanita yang kuat, tapi ia tetap akan selalu menjaga istrinya itu. Apalagi saat ini Alexa sedang hamil, membuatnya menjadi sedikit overprotektif.


"Minumlah susumu dulu," ucap Michael dengan lembut ketika melihat Alexa yang bersandar pada kepala tempat tidur sambil memeriksa e-mail yang dikirimkan oleh Sabrina.


"Terima kasih, sayang," ucap Alexa sambil tersenyum.


"Ayo tidur sekarang, jangan bekerja lagi. Apa kamu ingin aku marah?" tanya Michael.


"Kamu akan memarahiku?"


"Ya, aku akan memarahimu jika kamu terus bekerja dan tak mempedulikan kesehatanmu."


"Kalau begitu aku bekerja saja. Aku ingin melihat kemarahanmu sekali sekali," ucap Alexa.


"Kamu ingin mencobanya?" Michael mencoba memasang wajah garang, namun hal itu justru membuat Alexa tertawa dan pada akhirnya ia menutup laptopnya.


"Akhirmya kamu berhenti. Kamu sudah lihat kan bagaimana aku marah," ujar Michael.


"Ya, dan aku tak ingin melihatnya lagi. Perutku sakit karena tertawa melihat wajahmu."


"Kamu mengejekku?" tanya Michael


"Tidak," jawab Alexa sambil tertawa kecil.


"Kamu pasti mengejekku. Aku ingin bertemu dengan anakku untuk bekerja sama menghukummu," ucap Michael. Alexa tentu saja tahu ke mana arah ucapan Michael.


Ia pun mulai menciumi istrinya itu dan memulai pergulatan panas mereka.


*****


Sabrina menahan kepala dengan sebelah tangannya. Ia merasa sangat lelah. Tuan Stanley pernah datang ke Perusahaan, namun ia tak lama berada di sana karena kesehatannya yang tak memungkinkan.


"Bri, kamu sakit?" tanya Keekan.


"Ahh tidak. Aku tidak apa apa, hanya sedikit pusing," jawab Sabrina.

__ADS_1


"Pulang dan beristirahatlah. Wajahmu terlihat pucat dan lelah."


"Tapi pekerjaanku masih banyak dan ada beberapa yang harus diselesaikan hari ini," ucap Sabrina.


"Aku akan meminta Lala membantuku nanti."


Ya, Lala yang awalnya bekerja sebagai sekretaris Darren, pindah ke Perusahaan Thomas atas permintaan Alexa dan bekerja di bagian HRD. Ia bahkan menjadi Kepala Bagian di sana karena memang Kepala HRD yang lama sudah sangat tua.


"Apakah Lala mau?" tanya Sabrina.


"Tentu saja dia pasti mau. Apapun yang berhubungan dengan Keluarga Williams, ia pasti akan membantu."


"Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu. Aku berjanji besok aku akan masuk dan menyelesaikan semuanya," ucap Sabrina.


"Kamu tak perlu memikirkan pekerjaan dulu. Yang terpenting adalah kesehatanmu."


"Terima kasih Kee," ucap Sabrina dan Keekan hanya tersenyum.


Aku yang seharusnya berterima kasih. Kalian semua banyak berkorban hanya karena keegoisan dan rasa sakit hatiku. - Keekan merasa bersalah pada semua yang terkena imbas akibat kepergian Neo.


*****


"Kamu harus makan, sayang. Bagaimana nanti kamu mau memeriksa pasien kalau dalam keadaan lapar," ucap Alexa.


"Aku tidak buka praktek hari ini. Aku ingin bersamamu saja sepanjang hari."


"Bagaimana bisa begitu? Kamu seorang dokter, sayang. Meskipun kamu sedang mengalami couvade syndrom, bukan berarti kamu mengesampingkan pekerjaanmu."


"Tapi aku ingin bersamamu. Aku juga ingin bertemu dengan anakku," Michael yang duduk di samping Alexa, mulai membelai lembut kulit tubuh Alexa, membuat tubuh istrinya itu meremang.


"Jangan diteruskan! Aku tahu ke mana arahmu selanjutnya. Sekarang habiskan sarapanmu, lalu kita pergi. Jam makan siang nanti, aku akan datang ke klinik dan membawakanmu makan siang," ucap Alexa.


"Benar?" tanya Michael dengan raut wajah bahagia.


"Iya."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku makan."


*****


Setelah Sabrina pulang, Keekan pun pergi. Untuk sementara ia meminta bantuan pada Lala. Ia harus pergi menemui seseorang.


Di depan sebuah gedung tinggi dengan nama Williams Group, ia menghentikan kendaraannya. Setelah parkit, ia pun segera masuk ke dalam.


Tokk tokk tokk ...


"Ze ..."


"Kee ... Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Zero.


"Bisakah aku bicara sebentar?" tanya Keekan.


"Masuk dan duduklah. Aku selesaikan beberapa berkas dulu karena akan digunakan untuk meeting siang ini."


"Baiklah, aku akan menunggumu," Keekan duduk di salah satu sofa di dalam ruangan Zero.


Setelah menunggu sekitar 30 menit, Zeri akhirnya bangkit dan menghampiri Keekan.


"Katakan padaku, ada apa? Apa ada masalah di Perusahaan Thomas?" tanya Zero.


"Tidak ada, semua berjalan dengan baik."


"Lalu?" Zero menangkap perbedaan pada raut wajah Keekan, membuatnya menautkan kedua alisnya.


"Aku ingin tahu di mana Neo berada sekarang. Aku ingin bicara dengannya."


"Neo?"


🧡 🧡 🧡


Maaf ya beberapa hari Cherry ga up. Ini juga diusahakan up, soalnya kangen sama kakak semua.

__ADS_1


Tanganku agak sedikit keseleo, jd ngetiknya agak susah. Ini juga aku nulis dengan 1 jari perhuruf, jd maafkan kalau typo bertebaran.


Nanti aku up lagi kalau udah selesai ngetiknya, aku pelan2 soalnya 🙏


__ADS_2