
Setelah menemui Zero, di sinilah Keekan berada. Sebuah kota di dekat pegunungan yang berhawa sejuk. Jika Zero pergi ke sana menggunakan helikopter, Keekan pergi menggunakan pesawat komersil.
Ia pergi setelah menyelesaikan beberapa hal dan menitipkan semuanya pada Lala sementara waktu. Ia juga pulang terlebih dahulu untuk mengambil beberapa barang.
Keekan sudah banyak berpikir untuk melakukan ini. Meskipun Neo sudah keterlaluan dengan menjadikannya barang taruhan, tapi ia cukup beruntung karena teman teman Neo tak sampai menyentuhnya.
Kedatangan pihak kepolisian kala itu membuat suasana menjadi gaduh, hingga semua orang yang berada di klub berusaha melarikan diri dan menyelamatkan diri mereka masing masing.
Keekan yang berada di dalam kamar dan dikunci pun berusaha keluar dengan terus memukul pintu. Ia beruntung ada seorang polisi yang datang dan menyelamatkannya. Ia memberikan keterangan bahwa ia diculik dan disekap di sana.
Untung saja para polisi itu percaya dan menolongnya. Teman teman Neo saat itu juga tertangkap tangan sedang menggunakan narkoba. Sejak saat itu, Keekan pindah keluar kota dan melanjutkan hidupnya. Ia baru kembali ke Jakarta setelah mendapatkan panggilan kerja di Perusahaan Williams.
*****
Setelah menempuh perjalanan dari bandara ke hotel terdekat dan meletakkan barang miliknya, Keekan langsung keluar lagi dan menuju cafe di mana Neo bekerja.
Ia masuk ke dalam, suasana terlihat ramai karena itu merupakan salah satu cafe yang cukup terkenal di kota itu. Keekan pun mengambil duduk agak ke dalam, namun masih bisa memperhatikan sebuah pintu yang terhubung ke area dapur.
Keekan memesan makan malam dan segelas lemon tea. Ia tak terlalu menikmati makanannya karena arah pandangannya selalu tertuju pada pintu penghubung itu. Ia tak ingin kelewatan dan ternyata Neo sudah pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, salah seorang pegawai cafe mendekati Keekan, "Maaf Nona, cafe kami sudah tutup. Jika masih ada yang ingin anda pesan, anda bisa kembali besok."
"Bolehkah aku menunggu di sini sebentar. Aku berjanji tak akan mengganggu. Aku menunggu Neo."
"Oo Neo. Ia ada di dapur. Apa perlu saya panggilkan sekarang?"
"Tidak perlu, aku akan menunggunya saja," ucap Keekan.
"Baiklah, kalau begitu. Saya permisi dulu."
"Terima kasih."
Keekan akan menunggu hingga jam kerja Neo selesai. Kini waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam. Pintu penghubung tersebut terbuka dan Keekan bisa melihat Neo keluar dari sana. Benar apa yang dikatakan Zero kalau wajah Neo terlihat begitu lelah.
__ADS_1
Neo membawa tas ransel miliknya dan berjalan ke arah pintu keluar, karena tujuannya saat ini hanya 1, yakni pulang ke kamar kost dan beristirahat.
"Neo!" langkah Neo terhenti ketika mendengar suara seorang wanita. Ia menoleh untuk memastikan bahwa ia tak salah dengar.
"Kee ...," namun kini Neo bukannya mendekat tapi ia malah menjauh.
"Berhenti!" teriak Keekan.
Neo pun menghentikan langkahnya, namun ia sama sekali tak berbalik. Bukankah Keekan tak ingin melihatnya, mengapa justru wanita itu datang menemuinya.
"Apa kamu tidak ingin berbalik ketika bicara denganku?" tanya Keekan.
"Akan lebih baik jika kamu tak melihatku. Aku tak ingin kamu kembali membenciku," ucap Neo.
"Bukankah aku sudah katakan bahwa aku memaafkanmu?"
"Ya, dengan syarat aku tak muncul lagi di hadapanmu."
"Maukah kamu kembali?" tanya Keekan.
"Tidak, akan lebih baik jika aku di sini."
"Apakah jawabanmu akan tetap sama jika aku yang memintamu kembali?" kini Neo memutar tubuhnya.
"Apa kamu memintaku kembali?" tanya Neo.
"Ya, mereka semua membutuhkanmu di sana. Rasanya egois jika hanya karena diriku, mereka yang terbeban."
"Kalau itu hanya karena mereka, lebih baik aku di sini saja. Kembalilah, mereka membutuhkanmu. Nanti juga mereka akan menemukan pengganti diriku," ucap Neo.
"Ayo kuantarkan kamu kembali ke hotel. Ini sudah malam," lanjut Neo.
"Aku tak akan ke mana mana sebelum kamu menyetujui untuk kembali."
__ADS_1
Neo menghela nafasnya pelan. Sifat keras kepala Keekan kembali. Ia akan benar benar berdiri di sana hingga Neo menyetujui permintaannya.
"Aku akan memikirkannya, sebaiknya kuantarkan kamu ke hotel dulu. Ini sudah malam," ucap Neo.
"Baiklah, tapi besok aku akan kembali dan menagih jawabanmu."
*****
Michael sedang duduk di sofa dengan memasang wajah cemberut. Ia sedang merajuk karena Alexa tidak mengijinkannya memakan es buah.
"Sayang ....," Alexa justru terkekeh melihat tingkah Michael yang benar benar seperti anak kecil. Ia seakan memiliki bayi besar saat ini.
"Aku tidak mau makan. Aku mau es buah!"
"Bagaimana kalau kita membuatnya saja sendiri?" tanya Alexa.
"Tidak mau. Aku mau es buah yang di ujung jalan itu. Kita makan di sana ya. Kalau lagi panas panas, trus nyeruput es buah ... Ahhhh, segarrr!!"
Alexa kembali tertawa melihat tingkah Michael yang benar benar berbeda. Jika bisa, ia ingin setiap kali ia hamil, Michael saja yang mengalami mual, pusing, dan ngidam, agar ia bisa melihat tingkah Michael yang seperti ini.
"Kamu menertawakanku?" Michael mulai memasang wajah sedih, dan akhirnya buliran air mata turun ke pipinya.
Ya ampun, Alexa benar benar tidak tahan lagi. Ia bukannya sedih melihat Michael, ia malah semakin tertawa.
"Baiklah baiklah, bayi besarku. Kita akan makan es buah besok ya. Sekarang kita tidur."
"Benar ya?" tanya Michael.
"Iya benar."
"Kalau begitu, sebagai ganti hari ini tidak jadi, aku ingin mencicipi yang manis manis juga. Ayo!" Michael yang mesum kini sudah kembali. Ia langsung menggendong Alexa dan membawanya ke tempat tidur.
🧡 🧡 🧡
__ADS_1