THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
KEADILAN


__ADS_3

Bukan Darren yang menawarkan makan malam, melainkan Alexa. Dan ia sangat tahu betapa senangnya Darren mendapatkan tawaran seperti itu, yang tak akan mungkin ditolak oleh pria itu.


Mereka kini berada dalam sebuah restoran mewah yang ada di Kota New York. Alexa menggunakan sebuah gaun yang sangat cantik dan tentu saja seksi. Rambut yang sengaja ia gulung ke atas, menampakkan leher miliknya yang jenjang, membuat pria manapun menelan salivanya.


Darren yang sudah menunggu dengan tidak sabar, semakin terpesona saat melihat kedatangan Alexa. Penyesalan kembali timbul dalam hatinya yang telah memilih Sisca. Kalau saja ia tak mengikuti naf sunya dan hasutan Mama Dara, mungkin saat ini ia bisa bersama dengan Alexa dan menikmati kesuksesan Alpenze Coorp tanpa harus bersusah susah membesarkan perusahaannya sendiri.


"Al, kamu cantik sekali," Darren meraih tangan Alexa dan mempersilakannya duduk setelah menarik kursi untuk wanita itu.


Alexa tersenyum saat melihat ke arah Darren, "Thank you."


"Aku sudah memesan makanan kesukaanmu," ucap Darren.


"Benarkah? Kamu masih mengingatnya?"


"Tentu saja. Aku tak akan melupakan 1 hal pun tentang dirimu. Maukah kamu memaafkanku, Al? Aku memang bodoh karena termakan hasutan Mama hingga terjebak dalam obsesi Sisca."


"Aku akan memaafkanmu, tapi buktikan padaku bahwa kamu telah berubah dan tak seperti apa yang kupikirkan," ucap Alexa.


"Pasti! Aku pasti akan berubah!" Darren sangat senang dengan apa yang dikatakan Alexa. Itu tandanya ia masih memiliki kesempatan untuk memiliki Alexa, dan ia sangat yakin Alexa masih sangat mencintainya.


Dasar pria bodoh! Pengkhianat akan selalu mengulangi perbuatannya. Dulu ia mengkhianatiku, lalu mengkhianati istrinya, dan sebentar lagi ia akan mulai mengkhianati keluarganya sendiri. Kita akan lihat sejauh mana kamu bertahan. - Alexa hanya bisa tersenyum dalam hati melihat sikap Darren yang memang sesuai ekspektasinya.


Sementara itu di hotel, Sisca yang sudah bosan karena belum keluar sejak mereka sampai, kembali keluar ke balkon dan melihat suasana malam Kota New York.


"Sialann!! Aku malah terkurung di sini. Ia bahkan tidak mengajakku makan malam. Lalu parfum itu ... Tumben sekali dia pergi menemui klien dengan setelan jas yang begitu rapi dan parfum yang begitu harum," gumam Sisca yang mulai memikirkan hal hal negatif, yang memang adalah benar.


"Aku harus pergi, aku harus menemuinya. Ia tidak bisa terus menerus mendiamkanku dan hanya menganggapku sebagai wanita yang mengandung anaknya," Sisca mengambil tas tangannya kemudian berjalan kebarah pintu.

__ADS_1


Namun baru saja ia memegang handle-nya, ia tersadar, "Bodoh! Di mana aku akan menemuinya. Aku bahkan tidak tahu di mana ia bertemu dengan kliennya. Bukankah seharusnya aku ikut? Seharusnya ia memperkenalkanku dengan kliennya," Sisca terus menggerutu tak ada habisnya. Ia pun akhirnya menghempaskan tubuhnya untuk duduk di sofa.


Ceklekk


Pintu kamar hotel itu terbuka dan menampakkan Darren di sana. Sisca melihat wajah Darren yang terlihat sangat bahagia dan senyum tak lepas darinya, seperti seorang pria yang tengah jatuh cinta.


"Dari mana saja kamu?" tanya Sisca dengan nada sedikit ketus.


"Bertemu klien," jawab Darren sambil terus tersenyum. Ia masih membayangkan acara makan malamnya bersama dengan Alexa.


"Apa kamu tidak memikirkanku? Aku belum makan, dan kamu bahkan tidak memikirkan anakmu," Sisca berusaha membawa anak yang ada dalam kandungannya agar Darren merasa mengasihaninya.


"Mengapa kamu tidak makan? Bukankah kamu bisa turun sendiri ke restoran di bawah atau kamu bisa memesan lewat telepon," Tak terdengar jawaban ketus dari Darren karena ia masih merasakan kegembiraan.


"Bagaimana aku bisa turun kalau kamu tidak memberikan kartu akses masuk ke dalam kamar padaku?"


"Kamu bisa memesan via telepon," jawab Darren lagi.


"Jika aku mengajakmu, maka akan gagal semua rencanaku," ucap Darren tanpa berpikir.


"Rencana? Rencana apa yang kamu miliki?"


"Ehmmm tentu saja rencana kerja sama. Aku tidak ingin kejadian yang dulu terulang kembali," ucap Darren, membuat Sisca menautkan kedua alisnya dan berpikir.


"Apa kamu menemui wanita ****** itu? Kamu sudah memilikiku! Mengapa kamu masih saja mau memilikinya? Bukankah aku jauh lebih baik darinya ... Aku memberikan semuanya padamu," teriak Sisca, membuat mata Darren menatapnya dengan tajam.


Darren menarik pergelangan tangan Sisca dan mencengkeramnya dengan erat, "Jangan berbicara hal buruk tentangnya. Kamu tidak pantas disamakan dengannya. Ku rasa aku telah salah memilihmu!"

__ADS_1


"Apa maksudmu?! Apa kamu akan membuangku hanya demi wanita itu?"


"Ya! Aku akan segera menceraikanmu setelah anak itu lahir. Aku akan membuat Alexa kembali padaku. Aku tahu dia masih mencintaiku dan dia lebih pantas berada di sampingku!"


"Sialannn!! Aku tidak akan pernah membiarkan itu. Kamu jahat padaku! Lebih baik aku mati saja bersama anakmu ini," Sisca memindai sekeliling, mencari sesuatu. Ia menemukan sebuah vas bunga yang terbuat dari kaca.


Dengan gerakan cepat, Sisca mengambil vas bunga lalu memecahkannya. Ia mengarahkan salah satu pecahan vas tersebut ke pergelangan tangannya. Keringat dingin membasahi keningnya, ia sendiri takut dengan apa yang akan ia lakukan.


"Hentikan! Baiklah, baiklah, tenangkan dirimu. Apa kamu tidak tahu kalau yang kamu lakukan itu akan melukai anak kita?" tanya Darren.


"Justru karena aku tahu, maka akan lebih baik jika ia tidak perlu lahir ke dunia ini dan melihat bagaimana kelakuan Papanya pada Mamanya," jawab Sisca.


"Sisca, hentikan!! Aku sudah mencoba bersabar padamu, tapi kamu masih saja tak mau mengerti. Baiklah, aku tak akan menceraikanmu, tapi izinkan aku untuk menikah lagi dengan Alexa."


Mata Sisca membulat mendengar ucapan Darren. Bagaimana bisa ia akan memiliki suami yang sama dengan seseorang yang ia benci sejak dulu. Tidak! Ia tak akan pernah membiarkannya. Tapi ... Kalau ia menolak, maka Darren akan menceraikannya, dan tanpa anak dalam kandungannya, ia tak akan mendapatkan sepeserpun harta milik Darren.


"Apa kamu akan bisa adil?" tanya Sisca. Ia akan berusaha mengulur waktu dan melakukan sesuatu untuk membatalkan rencana Darren. Ia tidak mau berbagi dengan wanita manapun, terutama Alexa.


"Tentu saja. Kamu akan menjadi Mama dari anakku dan tak akan berubah."


"Baiklah, tapi aku menginginkan keadilan itu mulai saat ini. Jika kamu bisa makan malam dengannya, maka kamu juga harus makan malam denganku."


"Tapi aku sudah kenyang," ujar Darren.


"Setidaknya kamu harus menemaniku makan atau aku akan pergi jauh dan membawa anakmu ini," ancam Sisca.


"Baiklah, mari kita makan," Darren memegang Sisca dan mengajaknya keluar. Ia akan menemaninya makan malam di restoran hotel saja.

__ADS_1


Dari kejauhan, seseorang terus memata matai gerak gerik Darren dan Sisca, kemudian memberikan laporannya pada Alexa.


🧡 🧡 🧡


__ADS_2