THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
KITA AKAN BICARA


__ADS_3

Pagi ini, Michael terbangun di pagi buta. Ia merasakan perutnya diputar sehingga membuatnya mual. Ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Setelah selesai, ia kembali ke dalam kamar dan memperhatikan Alexa yang masih tertidur lelap.


"Tidak apa jika aku yang harus mengalami ini yang penting kamu tidak. Sayang, jangan rewel ya di perut Mommy. Daddy menyayangimu," Michael mengelus perut Alexa yang belum terlalu terlihat karena usia kandungannya masih di trimester pertama.


Saat akan kembali tidur, rasa mual itu kembali datang dan membuat Michael harus berlari lagi ke kamar mandi.


"Kini aku tahu apa yang dialami para wanita yang mengalami morning sickness. Jika mereka tahu aku mengalaminya, mereka pasti akan bilang ... Tuh kan Dok, saya bilang juga apa, morning sickness itu nggak enak. Jadi dokter jangan ngomong hal biasa," gumam Michael bermonolog dengan dirinya sendiri.


Ia kembali mual dan memuntahkan semua isi perutnya hingga hanya tersisa air liurnya saja. Tiba tiba, ada sebuah tangan yang memijat tengkuknya.


"Kamu mual lagi?"


"Kamu terbangun, sayang? Maaf. Apa aku terlalu berisik?" tanya Michael.


"Tidak. Anak kita yang membangunkanku dan mengatakan bahwa Daddynya membutuhkan Mommy untuk menghilangkan rasa mualnya," ucap Alexa sambil tersenyum.


Michael mendekat pada Alexa dan menghirup harum wanita itu dalam dalam, seketika rasa mualnya hilang, "Terima kasih, sayang."


"Ayo kubantu," Mereka kembali berbaring di atas tempat tidur dan Alexa memeluk tubuh Michael.


"Benar benar nyaman," ucap Michael.


"Tidurlah, kamu pasti lelah," Alexa mengelus tambut Michael dan mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala suaminya itu.


Michael membenamkan wajahnya di dada Alexa. Ia menduselnya dan mencari posisi paling pas di sana. Ia pun memejamkan matanya dan kembali tertidur. Rasanya begitu nyaman tidur jika dipeluk oleh Alexa.


*****

__ADS_1


Kini Keekan berdiri di depan sebuah Perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan, di mana Neo bekerja. Ia akan kembali meminta pria itu untuk kembali bersamanya ke Jakarta.


Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, seharusnya sebentar lagi Neo akan keluar dan mencari makan, bukan? Demikianlah pikir Keekan.


Namun, hingga jam istirahat makan siang selesai, tak ada tanda tanda bahwa Neo keluar dari perusahaan itu.


"Apa dia tidak masuk?" gumam Keekan. Jika memang Neo tidak masuk kerja, maka ia harus kembali ke cafe dan menunggu hingga malam. Ia tak menanyakan pada Zero di mana Neo tinggal, jadi hanya 2 tenpat kerjanya saja yang Keekan ketahui.


Sebelum meninggalkan tempat itu, ia mendekati salah seorang staf perusahaan yang akan masuk ke dalam. Ia pun memberanikan diri bertanya.


"Maaf, apa hari ini Neo masuk kerja?" tanya Keekan.


"Ahh Neo, ada. Ia ada di dalam."


"Apa dia tidak keluar makan siang?" tanya Keekan lagi.


"ohhh baiklah kalau begitu, terima kasih," Keekan pun berjalan menjauh dari sana.


Ia berdiri di seberang jalan sambil melihat ke arah ruko tempat Neo bekerja. Keekan menghela nafasnya pelan.


Apa kamu juga menahan lapar demi mengumpulkan uang? - Keekan semakin merasa bersalah karenanya. Bagaimanapun caranya, ia harus menarik Neo kembali ke Perusahaan Thomas.


Untuk menarik simpati Neo, ia duduk di depan ruko tempat Neo bekerja dan menunggu pria itu selesai. Keekan duduk di teras sambil memeluk kedua kakinya. Sesekali ia menenggelamkan wajahnya di lututnya, untuk menghilangkan rasa bosannya.


Saat jam sudah menunjukkan pukul 5, Neo pun yang sudah selesai keluar dari ruko tersebut. Matanya membulat saat melihat Keekan tengah memejamkan mata sambil kepalanya bersandar di dinding samping.


"Kee? Apa yang kamu lakukan di sini?" Neo langsung mendekati Keekan dan bertanya.

__ADS_1


Keekan mengerjapkan matanya, untuk meraih kesadarannya kembali, "Kamu sudah selesai bekerja?"


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Neo sekali lagi.


"Menunggumu," jawab Keekan singkat.


Neo menghela nafasnya, "ayo kuantar kamu kembali ke hotel."


"Tidak! Aku ikut denganmu ke cafe," ucap Keekan.


Akhirnya Neo mengajak Keekan masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikannya ke cafe tenpatnya bekerja. Namun, ia nelihat Keekan tertidur dengan lelapnya, membuat Neo tak tega membangunkannya.


Ia pun akhirnya membawa Keekan ke tempat kost nya. Ia menggendong Keekan dan merebahkannya di atas tenpat tidur. Setelah menuliskan pesan, ia segera berangkat bekerja.


"Istirahatlah dulu. Kita akan bicara nanti malam," gumam Neo, kemudian pergi.


*****


Wajah Michael terlihat begitu bahagia saat melihat layar di hadapannya. Sejak menjadi seorang dokter kandungan, tak pernah ia sebahagia ini saat memeriksa pasiennya.


Ia memegang sebuah alat yang dinamakan transducer usg. Berkali kali ia menggerakkan alat tersebut ke kiri dan ke kanan, maju mundur dia atas perut Alexa.


"Kamu sudah mengulanginya beberapa kali, mau berapa lama lagi?" tanya Alexa.


"Tunggi sebentar, aku masih ingin melihatnya," ucap Michael sambil tersenyum.


Alexa yang sedikit lelah, malah menguap dan akhirnya tertidur, sementara Michael sibuk melihat dan memeriksa keadaan anak mereka.

__ADS_1


🧡 🧡 🧡


__ADS_2