THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
DIPECAT!


__ADS_3

Alexa terus menoleh ke arah Michael seakan mempertanyakan ucapan pria itu tadi di dalam ruangan praktek.


Istri? Apa dia benar benar serius? Atau hanya agar Dokter itu tak mengganggunya lagi? - Alexa.


"Aku serius, Al. Hanya saja aku belum sukses. Aku tidak mau orang orang menganggap diriku berhubungan denganmu karena menginginkan ketenaran serta kemudahan dalam segala akses. Aku tahu siapa keluarga Williams, karena itulah aku ingin memantaskan diri untuk bersanding denganmu."


Hati Alexa menghangat. Dulu karena cinta, Alexa sangat bahagia ketika Darren menyatakan perasaannya. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya ia hanya diperalat oleh pria itu untuk menuju kesuksesan, dengan menggunakan nama Keluarga Williams.


Alexa hanya tersenyum. Ia ingin membalas ucapan Michael, namun ia tak ingin mematahkan semangat pria itu. Ia hanya perlu mendukungnya, menemaninya, dan menunggunya.


Sesampainya mereka di Panti Jompo,


"Halo Grandma," sapa Michael pada Nyonya Madeleine.


"Dok," Alexa bisa melihat senyum di wajah Nyonya Madeleine saat melihat Michael, membuatnya ikut tersenyum.


Dari kursi taman, Alexa memperhatikan interaksi keduanya. Michael terlihat bercerita dan sesekali Nyonya Madeleine tertawa. Michael menghampiri Alexa, kemudian menggenggam tangannya.


"Grandma, perkenalkan ini Alexa."


"Cantik sekali, hmm ...," ucap Nyonya Madeleine.


"Ia adalah calon istriku, Grandma. Teman hidupku."


"Ahhh ... Kamu beruntung, sayang," ucap Nyonya Madeleine sambil menggenggam kedua tangan Alexa.


"Aku yang beruntung, Grandma."


Keduanya menghabiskan waktu di panti jompo hingga sore hari. Alexa memesankan makanan sehat untuk seluruh penghuni panti, setelah sebelumnya ia meminta izin pada Michael.


"Lakukanlah apa yang menurutmu baik. Aku tak akan pernah melarang," ucap Michael saat itu.


*****


Di dalam mobil, saat perjalanan pulang,


"Apa kamu tak ingin kembali?" tanya Alexa.


"Aku belum sukses, Al. Dad dan Mom pasti akan menertawakanku," jawab Michael.


"Mereka tak akan menertawakanmu. Uncle Stanley hanya akan langsung membunuhmu," ucap Alexa yang kemudian tertawa.

__ADS_1


Michael menepikan kendaraannya karena melihat Alexa yang menertawakannya dengan begitu lepas. Michael melepas seatbelt miliknya dan menyampingkan tubuhnya. Ia pun dengan sengaja kembali menggelitiki Alexa, hingga wanita itu semakin tertawa.


"Mic, hentikan .... Geli!"


Michael mendekatkan tubuhnya pada Alexa hingga wajah mereka berdekatan.


Cuppp


Alexa terdiam dan mata mereka saling menatap seakan berbicara satu sama lain.


"Jangan menertawakanku terus. Aku tidak bisa melihatmu terlihat menggemaskan seperti itu. Aku semakin mencintaimu dan tak ingin melepaskanmu. I love you," ucap Michael.


Ia kembali mendaratkan ciumannya di bibir Alexa, menyesaapnya pelan. Alexa mencengkeram seatbeltnya. Ciuman Michael berbeda dengan ciuman Darren. Darren sangat ahli, sementara Michael meskipun masih terlihat amatir, tapi membuat rasa nyaman dan kehangatan menjalar di tubuh Alexa.


Tokk tokk tokk


Michael menghentikan ciumannya ketika mendengar ada yang mengetuk kaca mobilnya. Ia segera kembali duduk dengan posisi benar di kursinya. Michael pun membuka kaca.


"Ada apa, Sir?" tanya Michael saat melihat sosok seorang pria berseragam berada persis di samping jendelanya.


"Dilarang memarkirkan mobil di sepanjang jalan ini, Tuan. Jika anda ingin melakukan sesuatu dengan pasangan anda, sekitar 500 meter lagi akan ada hotel. Anda bisa berbuka di sana," ucap sang petugas.


"Ah iya, terima kasih," ucap Michael yang langsung menjalankan kembali mobilnya. Sementara Alexa yang berada di sebelahnya, hanya tersenyum untuk menutupi debaran jantungnya saat ini.


Michael mengantarkan Alexa hingga ke hotel tempat wanita itu menginap. Alexa melambaikan tangannya dan berterima kasih atas hari ini yang sangat berkesan untuknya.


*****


Di Indonesia,


Brakkk


Darren yang kini membuka sebuah perusahaan kecil sejak dirinya ditendang keluar dari perusahaannya sendiri. Ia dipaksa menjual semua saham miliknya dan tidak memiliki kewenangan apapun lagi di sana.


Para pegawainya kini silih berganti. Tak ada yang betah berlama lama bekerja bersamanya. Darren merasa sangat kesulitan untuk mengurus semuanya sendiri hingga menjadi berantakan dan kacau.


"Arghhhh!!!" teriaknya sambil menggeser semua yang ada di atas mejanya hingga berhamburan ke lantai.


Ia keluar dari ruangannya dan melihat hanya ada 2 pegawai yang masih ada di sana. Itu juga mereka terlihat sedang mengobrol, tidak bekerja.


"Apa kalian tidak bekerja?!" tanya Darren dengan nanda yang tinggi.

__ADS_1


"Bekerja? Bayar dulu gaji kami bulan kemarin, baru kami akan bekerja."


"Kalian itu bukannya membantu supaya perusahaan ini besar, malah hanya bermalas malasan," ucap Darren.


"Lalu apa bedanya dengan anda, Tuan? Bukankah hampir setiap malam anda berada di club untuk bersenang senang?" kedua pegawai itu pun tertawa.


"Sialannn kalian! Keluar! Kalian dipecat!"


"Dengan senang hati kami akan keluar. Tapi jangan lupa untuk membayar gaji kami atau kami akan melaporkan anda pada pihak berwajib," ucapan pegawainya semakin membuat Darren marah dan akhirnya memberikan pukulan pada pegawai itu.


"Sialannn!!!"


Bughhh bughh


Darren memukuli salah satu pegawainya itu. Seorang lagi berusaha melerai namun juga terkena pukulan Darren. Mereka memang tidak berencana untuk membalas karena mereka akan langsung melakukan visum dan membawa atasannya itu berurusan dengan pihak berwajib.


Keduanya segera membereskan barang barang milik mereka dan keluar meninggalkan Darren. Kosong, itulah yang Darren rasakan saat ini. Tak ada lagi pegawai di perusahaannya, ia bahkan tak memiliki siapapun untuk menjadi pegangan.


Ia berjalan keluar dari perusahaannya yang hanya berlokasi di sebuah ruko 2 lantai dengan sedikit yang lalu lalang di jalan depannya.


"Ahhh Sialll!!!" Darren menendang apapun yang ia temukan, tanpa sadar kalau benda itu telah mengenai seseorang.


"Heiii!!! Jangan sembarangan menendang!" gerutu seorang wanita dengan pakaian yang terlihat kotor. Wanita itu berjalan tak tentu arah, sesekali ia oleng ke kiri dan ke kanan. Dari tubuhnya tercium bau yang tak sedap, membuat orang yang berjalan di dekatnya pun segera menjauh.


"Apa lihat lihat?! Tidak pernah lihat wanita cantik, hah?!"


Darren langsung menoleh ketika mendengar suara yang ia kenali. Ia tersenyum sinis melihat keadaan wanita itu. Melihat ke arah wanita itu, Darren kembali tertawa.


Darren?


Wanita itu langsung menghampiri Darren. Ketika mencium bau, Darren lansgung memundurkan tubuhnya, "Bau sekali dirimu! Berapa tahun kamu tidak mandi?" ejek Darren.


"Sialannn kamu!!! Kamu yang telah membuatku seperti ini!" teriak Sisca.


"Aku? Berkacalah pada dirimu sendiri. Kamu sendiri yang menghancurkan hubungan kita."


"Ahhhhh!!!" Sisca yang memiliki dendam pada Darren langsung menyerang mantan suaminya itu. Perkelagian dan perdebatan mereka menjadi pusat perhatian. Tak ada yang melerai mereka karena tidak ada yang kuat untuk menahan bau yang keluar dari tubuh Sisca.


Dengan sekuat tenaga, Darren mendorong Sisca hingga akhirnya wanita itu terjerembab ke belakang dan kepalanya mengenai trotoar. Dari kepala Sisca mengalir darah dan membuatnya tak sadarkan diri.


*****

__ADS_1


__ADS_2