
1 minggu berlalu,
Pagi ini, Alexa dan Michael akan menjalani proses awal pernikahan yakni pengucapan janji pernikahan. Keduanya bangun pagi untuk melakukan make up, terutama Alexa.
"Jangan terlalu tebal, yang natural saja," pinta Alexa.
Mom Mia selalu berada di samping putrinya itu, "Kamu cantik sekali, sayang. Mom tidak menyangka hari ini kamu akan menikah, rasanya baru kemarin Mom menggendongmu."
"Mom ...," Alexa memeluk Mom Mia.
"Putri Mom sudah dewasa ternyata. Mom akan selalu mendoakan agar kehidupan pernikahanmu selalu bahagia, sayang. Ingatlah juga bahwa dalam kehidupan pernikahan, keegoisan harus dinomor belakangkan. Jika kalian berdua sedang menghadapi masalah, bicarakanlah dan selesaikan, jangan dipendam."
"Aku mengerti, Mom."
Tokk ... Tok ... Tok ...
Mom Mia membukakan pintu dan terlihat Dad Azka berdiri di sana. Ia tersenyum melihat putrinya yang menggunakan gaun berwarna putih.
"Snow, kamu cantik sekali."
"Thank you, Dad."
"Dad ke sini untuk menjemputmu. Kita akan segera berangkat."
*****
Jantung Michael berdetak dengan cepat saat melihat Alexa berdiri dengan menggunakan gaun berwarna putih. Ia tak pernah menyangka bahwa kini ia akan menikah dengan seorang wanita yang dulunya tak pernah terbayang.
Pikiran dan hati Michael dulu hanya dipenuhi oleh Millie, bertahun tahun. Bahkan membuatnya hampir mengakhiri hidupnya.
Dad Azka mengantarkan putrinya ke depan altar. Ia memberikan Alexa ke tangan Michael dan berpesan.
"Jaga, sayangi, dan cintai dia seperti aku melakukannya. Jangan pernah kamu sakiti dia atau kamu akan berhadapan denganku. Aku tak akan pernah melepaskanmu jika itu sampai terjadi," Dad Azka menatap Michael dengan tegas dan tajam.
Michael menelan salivanya, ia merasa diancam di hari pernikahannya sendiri. Alexa justru tersenyum melihatnya.
"Tenanglah, jangan gugup. Karena jika sampai kamu menyakitiku, bukan Dad yang akan turun tangan, tapi aku sendiri yang akan membuatmu menyesalinya," bisik Alexa, dan lagi lagi itu membuat Michael menghela nafasnya pelan.
Apa apaan ini pikirnya, baru mau mengucapkan janji pernikahan, dia sudah diancam 2 kali. Baru saja ia menoleh, ia melihat Axton dan Zero dan mendekat.
__ADS_1
"Iya, iya, aku tahu. Aku tak akan menyakitinya. Aku akan menjaganya, menyayanginya, dan mencintainya. Aku berjanji," ucap Michael di hadapan Axton yang justru tertawa melihat kegugupan Michael.
Janji pernikahan belum diucapkan, tapi keringat dingin seakan sudah membasahi kening Michael. Sepertinya setelah ini ia perlu minuman dingin untuk menyegarkan pikiran dan hatinya.
Setelah beberapa saat, janji pernikahan pun diucapkan keduanya. Mereka saling memakaikan cincin dan diiringi dengan tepuk tangan. Sebuah ciuman disematkan Michael di kening Alexa, kemudian menatap Alexa yang tersenyum.
Jangan tersenyum sekarang, Al. Meski kita sudah sah, tapi aku belum bisa membawamu ke dalam kamar dan menguncinya. Keluargamu saja sudah menatapku dengan lapar, seakan aku adalah mangsa berdaging tebal. - batin Michael gelisah.
Keduanya diantar ke sebuah hotel milik keluarga Williams. Sebuah penthouse menjadi tempat mereka beristirahat saat ini.
"3 jam lagi Mom akan kembali bersama dengan MUA, kamu beristirahatlah dulu," ucap Mom Mia yang kemudian meninggalkan Alexa bersama dengan Michael.
Saat Mom Mia sudah keluar dan menutup pintu, Michael langsung menghampiri Alexa dan memeluk dari belakang wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Michael mencium pipi Alexa, kemudian turun ke leher.
"Ehmm ..., kamu harum sekali," sekali lagi Michael menyesap wangi Alexa dan kembali mencium leher serta bahu Alexa.
Alexa berputar hingga mereka kini berhadapan, "Jangan sekarang ... Kita akan berantakan nanti."
"Apa tidak boleh icip sedikittt saja?" tanya Michael.
"Tidak boleh. Sebaiknya kamu istirahat dulu, anti malam kita harus berdiri lagi dan itu memerlukan tenaga."
"Ya, kamu benar. Kita harus istirahat, jadi nanti malam kita bisa begadang," ucap Michael, membuat Alexa tertawa namun tersipu malu.
*****
"Lihatlah, katanya kamu tidak mau mendahuluiku," goda Axton pada Alexa.
"Sebenarnya aku tidak mengapa jika harus menunggu kakak menikah, tapi ... Sepertinya kakak tidak akan menikah. Bukankah begitu?"
"Wanita itu merepotkan, Al. Mereka punya segudang hal yang akan terus mereka pertanyakan dan akan selalu mengekang kebebasan para pria," jawab Axton.
"Untuk kali ini, aku setuju denganmu, Ax. Wanita itu merepotkan. Bagaimana kalau kita single saja terus? Oya, jangan lupa proposalku dibaca ya, aku menunggu kabar baik darimu. Kita kan sama," ucap Giorgio menepuk bahu Axton.
"Kalian berdua, akan kudoakan bertemu dengan wanita yang akan membuat kalian bucin setengah mati, bahkan mungkin kalian yang akan protektif pada mereka," ucap Alexa tertawa.
"Tak akan pernah," balas Axton.
"Hati hati dengan ucapanmu, Kak."
__ADS_1
*****
"Aku mandi dulu ya, sayang," ucap Michael sambil memegang bahu Alexa.
"Ya."
Kini, mereka berdua telah berada kembali di penthouse. Alexa duduk di depan meja rias, mencoba melepaskan beberapa hiasan yang tersemat di rambutnya.
Setelah Michael selesai, ia keluar dari kamar mandi dan melihat Alexa yang sedikit kesusahan dengan gaun pengantinnya yang menggunakan tali di bagian belakang.
"Memerlukan bantuanku?" tanya Michael dengan sedikit berbisik.
Alexa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dengan perlahan, Michael membuka tali yang terikat. Ketika tali berhasil terurai, terlihat kulit punggung Alwxa yang begitu putih dan mulus.
Michael yang sudah menahan sedari siang, menyentuhkan satu jarinya ke punggung Alexa dan mengelusnya hingga ke bawah, membuat gelenyar halus di tubuh keduanya.
"Sudah?" tanya Alexa seakan menyadarkan Michael.
"Ah iya, sudah ..."
"Aku mandi dulu," ucap Alexa dan Michael mengiyakan.
Apa aku bisa menahan gejolak ini sampai ia selesai mandi? Atau sebaiknya aku masuk lagi ke sana dan menemaninya? - Michael mulai mengusap wajahnya karena gusar.
Sudah hampir 30 menit Alexa yang berada di kamar mandi. Michael yang merasa gusar malah berjalan mondar mandir di dalam kamar. Ini akan menjadi pertama kalinya ia menyentuh seorang wanita secara intim.
Semua orang bilang itu enak ... Kamu juga harus bisa merasakan enak enak itu, Mic. - Michael terus saja berpikir dan berpikir bagaimana memulainya.
Ceklekkk
Michael langsung melihat ke arah kamar mandi. Ia melihat Alexa yang sudah menggunakan sebuah piyama satin berwarna maroon dengan bentuk seperti bathrobe.
Baru melihat seperti itu saja, ia langsung menelan salivanya dan pikirannya terbang ke mana mana.
"Ada apa? Mengapa wajahmu pucat?" tanya Alexa yang kini sudah berdiri di hadapan Michael.
"A-aku ..."
🧡 🧡 🧡
__ADS_1
Yaaa Mas Mic udah nikah ... Kamu tinggalin aku begitu aja, tanpa kejelasan hubungan kita.
Apa aku harus beralih ke Axton ... Atau ke Zero? Mereka mau ga ya?