
Neo berhasil mempertahankan mobilnya, namun dompet dan ponselnya diambil oleh para preman. Tubuhnya remuk, ia telah salah melawan 3 orang preman seorang diri. Kini ia berbaring di atas trotoar sambil memandang langit malam dan tersenyum.
Ia kembali ke apartemen miliknya, tak terlalu besar tapi cukup untuk menampung dirinya. Ia selalu menyisihkan uangnya untuk keperluan panti, hingga saat ini. Ia tahu bagaimana rasanya tinggal di panti dan kekurangan.
Sabar, adalah kata yang selalu ia dapatkan dari kepala panti saat itu. Mereka selalu bertahan setiap hari, setiap minggu, dan setiap bulan, berharap pada donatur. Jika tidak ada donatur, maka mereka akan bertahan dengan apa yang ada.
Setelah membersihkan tubuhnya dan mengobati lukanya, Neo berbaring di atas tempat tidur. Ia memejamkan matanya dan berharap bisa segera tertidur. Tubuhnya lelah, begitu pula jiwanya.
*****
"Bagaimana, Kee?" tanya Alexa.
"Aku sudah mendapatkannya, Nona. Kesalahan ada di laporan 2 bulan yang lalu," jawab Keekan.
"Kamu memang selalu bisa diandalkan, Kee."
"Terima kasih, Nona. Tapi aku belajar semuanya dari anda," ucap Keekan sambil mengulas sebuah senyum.
"Kak, Keekan sudah menemukannya. Kemarilah," ucap Alexa pada Neo yang juga berada di ruangan itu.
Lebam di wajah Neo masih terlihat meskipun ia sudah mengobatinya dan sudah lewat 2 hari dari malam itu. Keekan menoleh sedikit namun dengan tatapan datar.
"Baiklah, aku akan menyelesaikannya kalau begitu," ujar Neo sambil mengambil laporan yang diberikan oleh Alexa. Ia keluar dari ruangan tanpa banyak bicara.
Kemarin, Neo kembali mencoba bicara dengan Keekan. Mulai saat baru datang, makan siang, saat pulang, atau bahkan di saat mereka beristirahat. Namun tak sekalipun Neo bisa mendapatkan maaf, karena susah sekali rasanya berbicara dengan Keekan.
"Bisakah kita bicara? Sebentar saja," pinta Neo ketika Alexa sudah pergi karena Michael menjemputnya.
Keekan menghela nafasnya. Ia sudah sering menghindari Nei dan ia rasa jika hanya terus menghindar, maka Neo akan terus mengikutinya. Pada akhirnya ia memberikan kesempatan pada Neo untuk bicara.
"5 menit, tidak lebih," ucap Keekan.
__ADS_1
"Ya, tidak masalah. 5 menit cukup untukku. Kee, maafkan aku. Aku tahu aku sangat bersalah padamu. Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku?" tanya Neo.
Keekan memejamkan matanya dan menghela nafasnya pelan, "Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat."
"Katakan saja. Aku akan melakukan apapun," ucap Neo.
"Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Setiap kali melihatmu, aku langsung teringat rasa sakit itu."
Neo menatap Keekan dengan intens. Ia melihat bahwa wanita di hadapannya itu sangat sungguh sungguh saat mengatakannya.
"Baiklah jika itu keinginanmu. Aku berjanji tak akan muncul lagi di hadapanmu. Terima kasih atas maaf yang kamu berikan."
Neo memutar tubuhnya dan meninggalkan Keekan. Ia kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Keekan hanya bisa melihat punggung Neo yang telah menjauh.
Di dalam ruang kerjanya, Neo bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya Keekan telah mau memaafkannya. Ia pun fokus pada pekerjaannya. Hingga malam menjelang, ia belum keluar dari ruangannya. Ia ingin segera menyelesaikan laporannya.
Keesokan paginya, Neo yang memang tidak pulang, masuk ke dalan ruangan Alexa. Ia meletakkan laporan yang telah ia selesaikan.
"Kamu tidak pulang?" tanya Alexa saat melihat pakaian Neo yang masih sama seperti kemarin dan wajahnya yang memang terlihat lelah.
"Ya, aku ingin secepatnya menyelesaikan laporan ini. Dan aku ingin menyerahkan ini," Neo memberikan sebuah amplop kepada Alexa.
"Apa ini?" tanya Alexa lagi.
"Surat pengunduran diriku."
"Apa maksudnya? Apa ada sesuatu?"
"Tidak. Aku harus pergi mengurus sesuatu dan ku rasa akan memakan waktu yang lama. Maaf jika ini terkesan mendadak, tapi aku tak bisa lagi menundanya," jawab Neo.
"Lalu, siapa yang akan menggantikanmu? Dad Stanley sangat percaya padamu."
__ADS_1
"Masih ada Sabrina dan kamu juga memiliki banyak orang yang bisa dipercaya. Aku tidak bisa lama lama, aku harus segera pergi," ucap Neo.
"Baiklah. Sebenarnya aku ingin kakak bisa membimbing orang baru yang akan menggantikanmu, tapi kalau memang kamu terburu buru, aku tak bisa menahanmu."
"Terima kasih, Al. Titip hormat dan pamitku pada Tuan Stanley dan Tuan Michael. Aku permisi," Neo memutar tubuhnya dan keluar dari ruangan Alexa.
Untuk tidak berada di dekat Keekan dan tidak muncul lagi di hadapannya, tentu yang perlu ia lakukan adalah berada jauh. Ia telah berjanji untuk mengabulkan apapun permintaan Keekan.
Keekan memang selalu datang agak siang karena ia harus pergi ke Perusahaan Williams terlebih dahulu, baru setelahnya ia akan ke Perusahaan Thomas untuk membantu Alexa.
Neo mengemudikan kendaraannya menuju apartemen miliknya. Hari ini ia akan menyerahkan apartemennya tersebut kepada agen properti agar bisa disewakan, karena ia berencana akan pergi dari kota itu.
*****
"Siang, Bu," sapa Neo pada Ibu kepala panti, tempatnya dibesarkan.
"Neo, tumben sekali kamu datang. Biasa kamu datang di akhir pekan," Ibu Yola memeluk Neo karena ia sudah menganggap Neo seperti putranya sendiri.
"Iya. Aku datang untuk pamit."
"Pamit?"
"Hmm ... Ada pekerjaan yang harus kulakukan di luar kota dan mungkin akan memakan waktu lama. Jadi aku tidak akan datang ke sini selama beberapa waktu. Tapi, aku akan tetap mengirimkan uang seperti biasa," ucap Neo.
"Terima kasih, Neo. Ibu doakan agar pekerjaanmu berjalan lancar. Jaga diri dan kesehatanmu," pesan Ibu Yola.
"Pasti. Aku pamit dulu, Bu. Salam untuk adik adik."
"Akan ibu sampaikan. Hati hati."
Neo pun kembali masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya ke arah luar kota.
__ADS_1
🧡 🧡 🧡