THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
ITU BUKAN URUSANMU!


__ADS_3

"Apa yang Mama lakukan?!"


"Jangan berteriak pada Mama, Dar!" Mama Dara yang kini sedang memakai salep pemberian dokter merasa terganggu dengan kehadiran putra semata wayangnya.


"Lihat apa yang Mama lakukan! Mama menghancurkan perusahaanku," ucap Darren dengan sangat kesal.


"Apa kamu tidak melihat wajah Mama, hah?! Wajah cantik Mama rusak karena kosmetik pemberianmu," gerutu Mama Dara.


"Kosmetik? Pemberianku?"


"Ya, bukankah kamu memberikan kosmetik pada Mama. Kamu harus bertanggung jawab atas semua ini, wajah mama rusak, lihatlah."


Darren melihat wajah Mama Dara dengan sedikit mengernyit, "Aku tak pernah memberikan Mama apapun!"


"Lihat itu, bahkan kotaknya masih Mama simpan karena sangat bagus sekali," Mama Dara menujuk rak kecil di bawah nakasnya.


Darren berjalan mendekat dan menarik kotak itu, "Ini?"


"Packagingnya bagus, Dar. Tapi mengapa bisa membuat wajah Mama rusak seperti ini?"


Tidak mungkin! Ini merk kosmetik yang akan aku keluarkan minggu ini. Bagaimana bisa ada di tangan Mama? Lalu ... Mengapa hasilnya seperti itu? - batin Darren terus bertanya tanya.


"Dar, kamu harus mengganti uang yang Mama keluarkan untuk membayar dokter kecantikan, 5 juta. Cepat berikan!"


"5 juta? Saat ini perusahaanku sedang kacau, Ma!" Darren yang tidak mau banyak bicara lagi langsung keluar dari kamar tidur Mama Dara dan membanting pintu.


Mama Dara meringis sakit karena salah satu jarinya menusuk bintik merah yang kini mulai berubah menjadi tonjolan yang semakin memerah dan terasa sedikit panas.


*****


"Lala!!!!" teriak Darren ketika ia kembali ke perusahaan. Ia datang melalui jalur pintu belakang karena para wartawan sudah banyak berkumpul di lobby perusahaan.


"Iya, Tuan," Lala masuk ke dalam ruangan Darren.


"Apa yang terjadi hari ini?"


"Hari ini? Tidak ada, Tuan. Hanya saja banyak wartawan yang ingin segera mewawancarai anda. Anda sebaiknya menemui mereka Tuan, siapa tahu perusahaan kita akan semakin terkenal."


"Lala!!" Lala terperanjat kaget ketika Darren kembali berteriak.


"Kamu aku pecat!!"


"Apa??? Jangan Tuan, nanti saya makan apa?"

__ADS_1


"Makan apa? Saya tidak peduli. Yang penting sekarang kamu saya pecat. Kamu telah menghancurkan semua rencana saya," ujar Darren.


"S-saya tidak mengerti, Tuan."


"Memgapa kamu mengirimkan kosmetik pada Mamaku?" tanya Darren.


"Kosmetik?" Lala tampak berpikir, "Ooo kosmetik kita yang akan launching minggu ini? Iya Tuan. Bukankah sebaiknya Nyonya Dara juga memilikinya? Itu kan iklan gratis Tuan, apalagi Nyonya Dara tergabung dalam grup sosialita, itu pasti akan dengan mudah menaikkan nama perusahaan kita."


"Kamu bodoh!! Bodoh!! Bodohh!!" teriak Darren.


Brakkk


Pintu ruangan Darren kini terbuka lebih lebar. Di sana sudah berdiri beberapa para pemegang saham. Mereka menatap Darren dengan senyum sinis dan tatapan yang sulit untuk diartikan.


*****


3 bulan berlalu, Michael yang diterima di salah satu Rumah Sakit di Negara Jerman, tepatnya di Kota Berlin, berkesempatan untuk belajar dari seorang ginekolog dan ahli obstetri terbaik di sana. Hal itu membuat Michael bersemangat dalam menjalankan karirnya.


"Dokter Lee, anda diminta segera menemui Dokter Gemma," ucap salah seorang suster.


"Baik, terima kasih."


Michael dipanggil dengan sebutan Dokter Lee, karena di rumah sakit tersebut juga terdapat seorang dokter senior bernama Michael. Ia yang tak ingin membuat kebingungan, akhirnya menggunakan nama tengahnya.


Michael tak pernah menebarkan senyumannya pada sembarang orang. Ia hanya melakukannya pada pasien pasiennya agar mereka merasa relaks dan tenang, terutama saat mereka harus menghadapi persalinan.


Michael membuka pintu kemudian berdiri di hadapan Dokter Gemma, "Anda memanggil saya, Dok?"


"Ya, ada seorang pasien yang akan dirujuk padamu. Ia adalah anak seorang petinggi di negara ini. Aku harap kamu bisa menjalankan tugasmu dengan baik."


"Saya mengerti," tanpa banyak bicara lagi, Michael keluar dari ruangan dan berjalan kembali ke ruangannya. Sebentar lagi ia harus memulai jam prakteknya.


"Dokter Lee!" panggil seorang dokter pada Michael dari kejauhan.


Michael yang tidak suka dengan keberadaan Dokter tersebut pun mempercepat jalannya.


"Dok!" Dokter itu meraih lengan Michael untuk menghentikannya berjalan.


Michael dengan cepat menghempaskannya, "Ada apa Dokter Holly?"


"Dok, bagaimana dengan ajakan makan malam ku tempo hari. Apa kamu mau?"


"Maaf sebelumnya Dokter Holly, sebaiknya anda mengajak Dokter Askar atau mungkin Dokter Orlando," ucap Michael.

__ADS_1


Sebelum berangkat ke Berlin, ia sudah mengukuhkan niatnya adalah untuk bekerja dan bekerja. Setelah ia berhasil, ia akan kembali untuk meraih cinta Alexa. Ia tak ingin apapun atau siapapun menghalangi tujuannya.


"Tapi aku hanya ingin mengajakmu," ujar Dokter Holly.


"Aku sudah menikah dan jangan menggangguku," ucap Michael berbohong. Ia tak ingin Dokter Holly terus mengganggu dirinya.


"Kamu berbohong, mana mungkin kamu sudah menikah. Aku tidak pernah melihatmu menggunakan cincin pernikahan," Dokter Holly terus mengikuti langkah Michael.


"Itu bukan urusanmu!" Michael pun masuk ke dalam ruangannya setelah sebelumnya ia memberitahukan pada perawat untuk memulai jam prakteknya.


*****


Keluarga Thomas sangat menyayangi Alexa, bahkan kini Uncle Stanley dan Aunty Jane telah menganggapnya bagai putri mereka sendiri. Mereka kadang meminta Alexa untuk menginap di kediaman mereka karena mereka sangat kesepian.


Lynn berada di Sydney bersama dengan Giovan, sementara putra mereka belum kembali. Alexa kini sudah mulai terbiasa dengan segala rutinitasnya antara keluarga Williams, keluarga Thomas, Peeusahaan Thomas, dan Alpenze Coorp.


Alexa pun telah bersedia untuk dikenalkan pada seluruh rekan bisnis Perusahaan Williams. Ia tak ingin Dad Azka menganggapnya hanya memikirkan Perusahaan Thomas.


"Kamu tidak ingin menikah, Snow?" tanya Dad Azka.


"Menikah? Jangan bercanda, Dad."


"Dad tidak bercanda. Kamu terlalu sibuk belakangan ini dan tidak memikirkan kebahagiaanmu."


"Iya, sayang. Daddy benar. Apa kamu tidak berniat menikah secepatnya? Atau mau Mom kenalkan dengan putra teman Mom?" tanya Mom Mia.


"Tidak, Mom!"


Aku berjanji akan menunggunya, menunggu dia kembali. - Alexa.


"Kenapa Dad dan Mom tidak menikahkan Kak Axton saja? Dia sudah cukup umur dan pantas untuk berada di pelaminan," ujar Alexa yang langsung mendapat jitakan dari Axton yang baru saja kembali dari perusahaan.


"Jangan membawa diriku dalam masalahmu, mengerti?" ucap Axton.


"Kakak sudah tua. Cepatlah menikah. Aku tidak ingin mendahuluimu."


Axton tertawa mendengar ucapan Alexa, "Tak ingin mendahuluiku ... Lalu rencana apa yang kamu lakukan dengan pria telor dadar itu dulu?"


"Itu dulu, kak. Sekarang tujuanku bukan itu," ucap Alexa.


"Karena tujuanmu belum kembali, hingga kamu ingin menunggunya?" mata Alexa membulat. Kakaknya seperti memiliki mata di setiap tempat.


"Kamu memiliki seseorang, Snow? Mengapa tidak menceritakannya pada Dad?" tanya Dad Azka.

__ADS_1


"Jangan katakan padaku kalau Dad dan Kak Axton sudah memata matai gerak gerikku?" Alexa langsung bangkit dan masuk ke dalam kamar tidurnya, sementara Dad Azka tersenyum dan Axton tertawa puas.


🧡 🧡 🧡


__ADS_2