
Kota Erskine, menjadi tujuan Michael dan Alexa berlibur kali ini. Di mana mereka tinggal? Tentu saja di rumah peternakan yang ditempati oleh James sejak dulu.
"Ini?" tanya Michael.
"Ini sebenarnya adalah kantor. Hanya saja kami membuatnya tak terlihat seperti itu," ucap Alexa.
Michael melihat bagian dalam rumah itu. Memang terkesan seperti rumah pedesaan. Namun, ada sebuah ruangan cukup besar di mana ada meja kerja dan sebuah meja besar yang ia yakini digunakan oleh Alexa untuk meeting.
"Kalian benar benar rapi," ucap Michael kagum.
"Momaaa!!!" baru sebentar Michael mengagumi bagian dalam rumah itu, ia sudah mendengar putri kecilnya berteriak memanggil Alexa.
"Ada apa, cantik?" tanya Alexa.
"Tan, Uda," jawab Nala sambil menunjuk ke bagian belakang rumah.
Michael dan Alexa berjalan ke belakang rumah dan mendapati Nathan yang sedang duduk di atas kuda bersama dengan seorang penjaga kuda. Nathan terlihat senang dan sangat menikmati itu. Bahkan, Michael dan Alexa bisa melihat senyum di wajah putranya itu.
"Sepertinya ia telah menemukan apa yang disukainya," ucap Michael sambil merangkul Alexa.
"Hmm ... Aku kadang tak mengerti apa yang diinginkan Nathan. Tapi saat melihatnya tertawa seperti ini, aku merasa sangat bahagia."
Alexa pun mengambil sebuah kuda dari tangan seorang penjaga, kemudian mengambil Nathan dari tangan penjaga kuda yang tadi menemaninya. Kini ia yang menemani putranya itu untuk menerjang padang rumput di belakang rumah.
Nathan berteriak senang. Alexa yang menggunakan pengikat antara dirinya dan Nathan, kini mendekatkan wajahnya pada putra kecilnya itu.
__ADS_1
"Kamu menyukainya, sayang?" Nathan langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Kalau begitu nanti Mommy akan membelikanmu sebuah kuda, bagaimana?" Mata Nathan langsung berbinar bahagia.
Dari kejauhan, terlihat Michael yang berlari mengejarnya, "sayang ... Hoh hoh hoh."
Michael terengah engah. Ia memegang dadanya untuk menetralkan nafasnya, "sayang ... K-kamu sedang hamil. Jangan menaiki kuda dulu."
Alexa baru ingat kalau ia sedang hamil. Akhirnya ia tak mengendarai kuda itu lagi dengan cepat. Michael berjalan di sampingnya sambil memegang salah satu talinya, seperti seorang penjaga kuda.
*****
Hari demi hari berlalu dengan cepat, hingga tak terasa sudah waktunya Alexa untuk melahirkan. Seperti kehamilan pertamanya, kali ini juga Michael menanganinya secara langsung.
Proses kelahiran kali ini, berjalan dengan cepat, tak seperti yang pertama. Dan kali ini Alexa memilih melahirkan di Kota New York.
Oekkk ... Oekkk ...
Senyum mengembang di wajah Michael saat anak mereka sudah berada dalam genggamannya.
"Selamat datang Nicholas Arkan Thomas," ucap Michael ketika putranya itu berada di tangannya. Ia memberikan pada seorang perawat untuk dibersihkan.
Michael menghampiri Alexa dan mengecup keningnya, "Terima kasih, sayang. Aku akan menyelesaikannya sebentar ya."
Michael kembali berpindah dan mulai membersihkan sisa persalinan. Ia memastikan rahim Alexa akan kembali bersih, karena tak ingin ada apapun yang terjadi karena kelalaiannya.
__ADS_1
Alexa dipindahkan ke kamar rawat. Di sana sudah menunggu keluarga mereka yang secara khusus datang dari Indonesia sejak seminggu yang lalu.
"Dad, Mom," ucap Alexa saat melihat Dad Azka dan Mom Mia.
Alexa memindai. Ia tak melihat keberadaan Axton, "Di mana Kak Axton?"
"Kakakmu sedang pergi ke Berlin bersama Mark dan Gilbert. Katanya ada proyek besar di sana," jawab Mom Mia.
"Ishhh, apa dia tidak tahu kalau aku merindukannya?" gerutu Alexa.
"Dad akan memintanya datang ke sini setelah ia menyelesaikan proyeknya," ucap Dad Azka.
"Dia hanya mengurusi pekerjaan terus, ntah sampai kapan. Ia bahkan tak pernah berpikir untuk memiliki kekasih dan menikah," ucap Mom Mia.
"Kakak kan memang tak mau menikah .... Upsss," Alexa yang keceplosan langsung menutup mulutnya.
Wajah Mom Mia seketika berubah. Wanita itu mulai berpikir apa yang menjadi penyebab putranya mengambil keputusan itu.
"Tenanglah, sayang. Aku yakin suatu saat nanti ia akan menikah. Hanya saja saat ini ia belum menemukan wanita yang tepat," Dad Azka yang melihat kegelisahan di wajah Mom Mia pun berusaha menenangkan.
"Aku berharap begitu, sayang. Hanya aku takut kalau aku melewatkan sesuatu," ucap Mom Mia.
Dad Azka menggenggam tangan Mom Mia, dan mengusap punggung tangan untuk menenangkan istrinya itu.
🧡 🧡 🧡
__ADS_1