
Esme yang penasaran dengan kemarahan Nando pun langsung menyusul suaminya. Ia bahkan tidak jadi untuk melakukan beberapa test lanjutan.
Ia tak menjumpai mobil Nando di pelataran parkir rumah sakit yang artinya suaminya itu telah pergi. Ia pun memanggil taksi dan pulang ke rumah.
Rumah besar miliknya terasa kosong. Para pelayan berada di paviliun belakang jika mereka sudah selesai bekerja. Esme bahkan tidak melihat keberadaan suaminya itu.
Pintu kamar tidur terbuka, Esme mendengar suara Nando sedang berbicara dengan seseorang, suara seorang wanita.
Sialannn!!! Apa dia masih berhubungan dengan wanita itu sampai hari ini? - Hati Esme terasa panas mendengar perbincangan keduanya. Suaminya itu sama sekali tidak mempedulikan perasaannya.
Esme berbalik menuju dapur, amarahnya seakan ingin dilepaskan segera. Ia membuka laci dan melihat banyaknya pisau di sana. Namun, ia mengurungkan niatnya. Masih ada rasa takut di dalan dirinya untuk melakukan itu. Ia kembali melihat sekeliling dan mengambil sesuatu yang terasa pas di genggaman tangannya.
Ia kembali naik ke atas menuju kamar tidur mereka, membuka pintu perlahan. Ia terus mendengarkan pembicaraan Nando.
Whatt?? Ia tak menginginkan anak? Lalu apa selama 3 tahun ini pun memang ia tak menginginkannya. Ternyata karena itulah ia berdebat dengan Dokter Lee. - Esme.
Esme mendengus kesal. Ia benar benar sudah tak tahan lagi. Cinta yang ia berikan dan kesempatan kedua pun tidak dipergunakan dengan baik oleh Nando suaminya. Esme semakin jijik mendengar perbicangan keduanya.
Bughhhh
"Arghhhh!!!" teriak Nando ketika kepalanya dipukul.
Millie yang melihat dari video call pun langsung mematikan sambungan ponsel tersebut.
"Esme! Apa yang kamu lakukan?!" Nando memegang kepalanya. Pelipisnya kini sudah mengeluarkan darah karena pukulan dari wajan teflon yang dibawa oleh istrinya itu.
"Itu belum seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit yang kamu berikan padaku. Aku pastikan kamu akan menyesal setelah ini, Fernando Luis!" Esme segera keluar dari kamar tidurnya, setelah sekali lagi ia melemparkan wajan teflon itu ke wajah Nando.
"Esme!! Tunggu, dengarkan aku dulu!" teriak Nando sambil mengusap hidungnya yang berdarah karena terkena lemparan wajan.
*****
"Dad, bagaimana bulan madu kalian?" tanya Alexa saat mereka bertemu di Bandara Brandenburg, Berlin.
"Tentu saja menyenangkan. Apa kamu menginginkan adik, Snow?" tanya Dad Azka.
"Adik?? Benarkah Dad dan Mom akan memberikanku adik? Sudah lama sekali aku menginginkannya," ucap Alexa dengan antusias.
"Sepertinya kamu salah sasaran, sayang. Alexa tidak akan menolak jika ia ditawari anak anak," ucap Mom Mia.
__ADS_1
"Sebaiknya dirimu saja Snow yang memberikan pada Dad dan Mom, cucu yang banyak," goda Dad Azka.
"Dadd!!! Apa Dad menggodaku lagi?"
"Jangan terlalu lama menyimpan rasa. Kamu tidak akan tahu, kapan rasa itu bisa berubah," bisik Dad Azka di telinga putrinya.
"Aku tahu, Dad. Tapi rasa itu tak akan pernah berubah jika orang itu dengan tulus menyayangi dan mencintai," balas Alexa. Alexa mencintai Darren selama 6 tahun, tapi apa buktinya ... dengan mudahnya pria itu menghancurkan rasa cintanya.
"Apa yang akan Dad dan Mom lakukan di sini?" tanya Alexa.
"Dad akan menemui sahabat Dad, Marcello. Kamu harus ikut dengan kami, Snow. Uncle Marcello ingin bertemu denganmu."
"Baiklah, Dad. Tidak masalah."
Mereka pun pergi ke hotel. Mereka akan bertemu dengan Marcello nanti malam. Alexa memandang Kota Berlin dari balkon kamar hotelnya, menghirup udara kota itu dalam dalam.
*****
"Cel!" Dad Azka memeluk sahabatnya sejak kecil. Mereka berpisah ketika Marcello bekerja di Kota Berlin dan menemukan tambatan hatinya.
"Hallo Gemma," sapa Dad Azka.
"Hallo Az, Mi. Senang bertemu dengan kalian lagi," ucap Gemma.
"Ini?" tanya Marcello.
"Putriku," jawab Dad Azka.
"Ya ampun, ternyata gadis kecil itu sudah dewasa sekarang. Kamu cantik sekali, Al."
"Terima kasih, Uncle."
Dad Azka dan Uncle Marcello, Mom Mia dan Aunty Gemma, mereka berbincang tentang masa muda mereka. Alexa sesekali mendengar bagaimana dulu Dad Azka saat muda, karena Uncle Marcello selalu saja menggodanya.
"Kamu sudah memiliki kekasih, Al?" tanya Uncle Marcello.
Dad Azka tersenyum, "apa kamu memiliki calon untuknya?"
"Kalau saja anakku laki laki, tentu aku akan langsung melamarnya saat ini juga. Jadi kamu masih selamat, Al," goda Uncle Marcello.
__ADS_1
"Aunty punya banyak stock pria single, apa kamu mau?" tanya Aunty Gemma tertawa.
"Aunty juga menggodaku?" Alexa mencebik.
"Di mana Jeanette dan Jesslyn?" tanya Mom Mia pada Aunty Gemma.
"Jean itu sangat suka berpetualang. Aku tidak tahu bagaimana mengubahnya, sementara Jess lebih suka pergi dan berpesta bersama teman temannya. Aku tak berani menjodohkan mereka dengan pria manapun. Biarlah mereka menemukan sendiri jodohnya," ucap Aunty Gemma.
Makan malam mereka berjalan dengan sangat lancar. Alexa berjanji akan menemui Aunty Gemma lagi karena ia sangat merindukan sosok kedua putrinya.
*****
Hari ini, Esme menandatangani surat bahwa ia membatalkan segala bentuk proses inseminasi yang ia lakukan. Ia bahkan secara khusus berterima kasih pada Michael. Oleh karena Michael lah, ia mengetahui semua kebusukan Nando.
Ia sudah mengurus perceraiannya dengan pris yang 3 tahun ini menjadi suaminya. Ia menarik semua fasilitas yang ia berikan pads Nando. Esme bahkan tak lagi memberikan pada Nando kesempatan untuk berbicara.
"Kamu yakin, Es?" tanya Aunty Gemma padanya sesaat sebelum ia menandatangani surat pembatalan itu.
"Aku yakin, Aunty. Untuk apa aku mempertahankan pria yang sama sekali tak menghargaiku sebagai istri, padahal aku sudah memberikan kesempatan kedua padanya."
"Baiklah, sekarang kamu bisa menandatanganinya."
Michael turut hadir dalam acara penandatanganan tersebut, karena ia yang bertanggung jawab dalam proses inseminasi tersebut.
"Dok, secara pribadi saya berterima kasih atas semuanya. Maafkan juga sikap saya di awal pertemuan kita yang mungkin kurang baik," ucap Esme.
Setelah selesai, Michael keluar dari ruangan Dokter Gemma. Ia akan kembali ke ruangannya dan melakukan praktek seperti biasanya. Ada beberapa pasien yang menyapa dirinya dan Michael membalas sapaan tersebut.
"Dokter Lee!" Michael kembali menghela nafasnya kasar ketika mendengar suara seorang wanita. Kalau bukan karena Dokter Gemma, ia mungkin sudah akan membuat keributan di rumah sakit itu.
"Bisakah anda tidak terus mengganggu saya, Dokter Holly?"
"Saya tidak akan berhenti sebelum anda menerima ajakan saya untuk makan malam."
"Kalau begitu, saya pun tidak akan pernah menerima ajakan anda, ucap Michael sambil memutar tubuhnya menghadap Dokter Holly dan menatapnya tajam.
Sosok seorang wanita yang berjalan ke arahnya di belakang Dokter Holly, membuatnya terhenti sesaat. Ia mengusap matanya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Ia di sini? -
__ADS_1
Michael tersenyum dan Dokter Holly baru pertama kali melihatnya. Ia sangat senang karena mengira Michael tersenyum padanya. Namun ...
🧡 🧡 🧡