THE COLDEST SNOW

THE COLDEST SNOW
BERSELINGKUH, MENGKHIANATI


__ADS_3

2 minggu berlalu sejak pertemuan terakhir Darren dengan Alexa. Mereka tak pernah saling berkomunikasi lagi, tepatnya Alexa lah yang selalu beralasan agar tidak banyak berkontak dengan Darren.


Darren mulai berbicara dengan para investor yang semakin berdatangan setelah mendengar perusahaan miliknya kini akan melakukan proyek kerja sama dengan Alpenze Coorp.


Kesibukan Darren, membuatnya semakin tak memperhatikan Sisca, bahkan tak peduli. Mama Dara pun selalu pergi bertemu dengan teman teman sosialitanya dan tak terlalu mengawasi Sisca.


Sisca tentu saja merasa senang dengan kebebasannya. Ia menikmati kenikmatan dan kenyamanan dengan beberapa pria, dan salah satunya adalah Dimas. Ya, Dimas datang ke Jakarta karena ia sangat menikmati hubungannya dengan Sisca. Ia juga sengaja meminta perusahaannya untuk memindahkannya beberapa waktu ke Jakarta, hingga ia merasa bosan dengan Sisca.


*****


Alexa tiba di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ia datang seorang diri karena ia menyerahkan pekerjaannya pada Keekan. Zero memerintahkan One untuk menjemput Alexa di bandara karena ia harus menemani Axton menemui klien di luar kota.


"Silakan, Nona," ucap One sambil membukakan pintu.


"Terima kasih, One."


Di dalam mobil, One duduk persis di sebelah supir. Ia bertugas menjaga dan mengantarkan Alexa ke kediaman Williams dengan selamat dan tanpa kekurangan suatu apapun.


"Apa kamu sudah mengerjakan apa yang kuperintahkan?" tanya Alexa.


"Sudah Nona. Dan semuanya telah saya letakkan di atas meja ruang kerja Nona di markas Black Alpha," jawab One.


"Hmm ... Sekarang lanjutkan dengan sedikit kekacauan di dalam intern perusahaannya."


"Siap, Nona."


Tak ada lagi rasa iba pada Darren dan Sisca. Alexa hanya kasihan pada anak yang ada di dalam kandungan Sisca yang harus menghadapi situasi di mana kedua orang tuanya sama sama hanya memikirkan pribadi mereka masing masing, sangat egois.


*****


"Bagaimana bisa?" tanya Darren ketika melihat salah satu proyek besarnya yang lain mengalami masalah.

__ADS_1


"Salah satu dari supervisor di tempat pembangunan ada yang bermain curang dengan mengambil material kita dan menjualnya ke proyek lain dengan harga yang jauh lebih murah."


"Bawa masalah ini ke jalur hukum! Aku tidak mau tahu, orang itu harus menerima hukuman atas apa yang telah ia lakukan," ujar Darren kesal.


"Lalu bagaimana dengan material yang kita perlukan, Tuan? Ada beberapa yang seharusnya kita gunakan, dan bila kita menunggu lagi, maka akan memerlukan waktu 3 bulan untuk pengadaannya."


Brakkk


"Sialannn!!! Kacau!! Proyekku bisa kacau. Para investor pasti akan banyak bertanya dan membuat perusahaanku kembali dipertanyakan," Darren mulai berpikir, bagaimana caranya agar perusahaannya bisa segera kembali stabil.


"Alexa!" gumam Darren. Ia seakan memikirkan kalau Alexa lah yang akan menyelamatkannya. Ia harus menemui wanita itu dan meminta pertolongan. Namun, saat ini Alexa masih berada di Kota New York dan tidak mungkin ia pergi menemuinya di saat seperti ini. Hal itu akan membuat kepercayaan para investor semakin menurun dan ia akan disangka melarikan diri.


"Argghhh!!!" Darren menarik rambut sampingnya. Ia mulai mendengar bunyi ponselnya lagi dan langsung mengambilnya. Ketika matanya melihat notifikasi tagihan kartu kredit lagi, ia langsung menggeser semua barang yang ada di atas meja dengan kedua tangannya hingga semuanya berhamburan di lantai.


"Ada apa, Tuan?" Lala yang mendengar suara berisik pun langsung masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa.


"Blokir semua kartu kredit yang dimiliki oleh istriku!" teriak Darren.


Sementara itu, Sisca yang baru saja selesai makan siang, mendapati bahwa kartu kreditnya tak bisa digunakan.


"Ada apa?" tanya Dimas yang baru saja dari toilet.


"Kartu kreditku tidak bisa digunakan. Apa limitnya sudah habis?" Sisca tampak berpikir keras. Ia memang belanja agak berlebihan belakangan ini, tapi bukankah kartu kredit yang ia miliki adalah kartu tanpa batas.


"Bisakah kamu membayarnya dulu, Dim?" tanya Sisca.


"Bukankah sudah kukatakan tadi kalau aku lupa membawa dompet. Jadi aku sama sekali tidak pegang uang, bahkan kartu ATM pun tidak dibawa, semua ada dalam dompetku," Dimas tak mau mengeluarkan sepeser pun uangnya. Ia harus menikmati uang milik Sisca dan juga tubuh wanita itu.


Pada akhirnya, Sisca mengeluarkan uang cash dari dalam dompetnya. Itu adalah uang pribadinya yang ia dapatkan dari mengambil diam diam uang cash di dalam dompet milik Darren, saat suaminya itu sedang tertidur.


"Lalu? Setelah ini ke mana kita akan pergi?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Aku akan pulang dulu. Ada yang harus kutanyakan pada suamiku."


"Tak bisakah kamu bersamaku, sebentar saja ... Hmmm. Aku ingin melihat wajah cantikmu di bawah kungkunganku. Aku juga ingin mendengar suara des sahanmu itu. Ayolah, kita ke hotel sebentar, ya ... ya ...," Sisca yang dipuji setinggi langit oleh Dimas pun langsung luluh. Ia menyetujui permintaan Dimas yang menginginkan dirinya, karena sebenarnya ia pun sangat menginginkan Dimas.


*****


3 hari Darren tidak kembali ke rumah. Ia lebih memilih berada di club malam untuk menghabiskan malam panasnya. Kepalanya pusing serasa ingin pecah, hingga ia membutuhkan tempat untuk menghilangkan penatnya. Ingin pulang ke rumah, tapi ntah mengapa ia malas melihat Sisca. Ada perasaan aneh di dalam dirinya setiap kali melihat istrinya itu, ia pun tak tahu mengapa.


Sementara Sisca yang menunggu kepulangan Darren, tak mendapatinya. Lala selalu beralasan kalau atasannya itu sedang pergi keluar kota. Namun, Sisca yang semakin hari bertambah bosan di dalam rumah dan ia tak bisa keluar karena kartunya diblokir, akhirnya ingin langsung menemui Darren. Dimas mengatakan bahwa ia melihat Darren kemarin di depan Perusahaan Evans.


"Aku ingin menemuinya!" teriak Sisca yang tidak diizinkan oleh Lala untuk masuk ke dalam ruangan kerja Darren.


"Maaf, Nyonya. Tapi Tuan sedang ada tamu. Sebaiknya Nyonya menunggu sebentar."


"Menunggu, menunggu, dan menunggu! Apa kamu tidak tahu berapa hari sudah aku menunggu? Apa jangan jangan kamu berbohong padaku? Darren tidak pernah keluar kota?" wajah Lala menampakkan ketakutan. Ia memang tidak terbiasa berbohong. Hal itu tentu saja membuat Sisca semakin yakin kalau ia telah dibohongi.


Sisca pun langsung membuka pintu ruang kerja Darren. Matanya membulat ketika mendapati suaminya tengah bersama Alexa, musuhnya.


"Ahhh jadi karena ini kamu tidak pulang?" tanya Sisca dengan ketus dan memandang Alexa dengan tatapan meremehkan.


"Jangan banyak bicara! Sebaiknya kamu pulang dan jangan menggangguku!" teriak Darren membalas.


Alexa yang melihat keduanya hanya bisa tersenyum miris.


"Kamu berselingkuh! Kamu mengkhianatiku! Dan kamuuuu .... Wanita ******, tidak tahu malu!" Sisca berteriak persis di hadapan Alexa.


Tangan Sisca melayang di udara ingin menampar Alexa, namun dengan mudahnya ditahan oleh Alexa.


"Jangan pernah membicarakan tentang dirimu sendiri pada suamimu, apa kamu tidak malu?" ucap Alexa.


"Apa maksudnya? Apa kamu berselingkuh? Apa kamu mengkhianatiku?" mata Darren menatap tajam ke arah Sisca.

__ADS_1


"Tidak usah bertengkar di hadapanku! Kalian berdua itu sama, sama sama pengkhianat. Sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian berdua dan kuharap kalian bisa menghadapinya," Alexa melemparkan isi map yang ia bawa. Wajah Darren dan Sisca berubah ketika melihat foto foto yang bertebaran di hadapan mereka. Alexa pun keluar dari ruangan, membiarkan keduanya menikmati hasil keringat mereka selama ini.


🧡 🧡 🧡


__ADS_2