
"Keluarkan aku dari sini! Kalian tidak boleh menahanku!" Sudah hampir 1 bulan, Darren menjadi tahanan di sel pihak kepolisian. Kasusnya bahkan tidak selesai selesai. Ia ingin secepatnya keluar dari sana.
"Diamlah! Pekerjaan kami masih banyak. Lagipula, siapa yang menyuruhmu membuat keributan? Dasar tidak tahu malu!" seorang staf polisi berbalik memarahi Darren.
Darren terus berteriak, namun tak ada satu orang staf polisi pun yang peduli lagi. Mereka seakan menulikan telinganya.
"Hei bodoh! Bisa diam tidak! Mau kamu berteriak sampai pita suaramu putus juga, tak akan mungkin kamu dikeluarkan," Darren menoleh ketika mendengar suara seorang wanita dari sel di seberangnya.
"K-kamu?!"
"Kenapa? Kaget?! Akhirnya kita bisa bersama di sini. Kamu memang cocok berada di sini dan sudah sepantasnya," ucapnya sambil tertawa.
"Sialann!! Kamu yang pantas berada di sini, dasar pengkhianat!!"
"Pengkhianat? Bukankah sebutan itu seharusnya disematkan padamu? Kamulah yang melakukan pengkhianatan pertama kali. Kamu yang sudah menghancurkan kesetiaanku," kini Sisca menghela nafasnya pelan, "Aku sudah tak berharap apa apa lagi, lagipula aku tak tahu berapa lama lagi aku akan hidup."
"Kamu memang pantas mati!! Pengkhianatt!! Aku tak akan iba dengan apa yang terjadi padamu," teriak Darren.
Sisca tersenyum kecil. Kalau saja ia bisa berada 1 sel dengan Darren, ia akan langsung membunuh pria itu. Ia berada di sel itu karena ia telah membunuh 2 orang preman yang telah mengambil keuntungan darinya tanpa membayar, bahkan mengambil harta terakhirnya.
Kini, ia hanya tinggal menunggu waktu, waktu saat maut menjemputnya. Hidupnya sudah hancur saat ia diceraikan oleh Darren. Uang yang selalu ia bangga banggakan, hilang tak bersisa.
*****
"Alexa, sepupuku sayang ....," sapa Giorgio. Hari ini ia secara khusus bertandang ke kediaman Keluarga Williams, untuk bertemu dengan Axton. Sudah beberapa kali ia mengajukan kerja sama dengan Axton, dan sebanyak itu pula Axton tak menerimanya. Selalu saja ada alasan ini dan itu hingga ia harus mengulang proposal kerja sama itu.
"Jangan menyentuhnya! Mengapa kamu suka sekali menyentuhnya," ucap Michael yang kesal karena Giorgio selalu saja menempel pada Alexa nya.
"Kamu itu yang keterlaluan. Aku ini sepupunya, tidak masalah kalau aku mau menyentuhnya, bakan menempel sekalipun," balas Giorgio.
"Tidak!! Dasar cicak! Kamu tempel saja kakakmu!"
"Ahhh mana bisa, adikmu itu sudah menyabotase kakakku. Sekarang kamu juga mau menyabotase Alexaku."
"Kalau begitu carilah pasanganmu sendiri dan menikah," ucap Michael pada saudara iparnya itu.
__ADS_1
"Menikah? Kalau kamu bisa membuat Axton menikah, baru aku akan menikah," ucap Giorgio sambil tertawa.
"Giorgio!!" 3 pasang mata langsung menoleh ke arah sumber suara. Axton kini tengah berdiri di lantai atas, menatap tajam ke arah pria yang baru saja membicarakannya.
"Ax! Aku ke sini membawakanmu proposalku lagi," Giorgio langsung bangkit dari antara Michael dan Alexa, untuk menghampiri Axton.
"Jangan dekat dekat dengannya," bisik Michael pada Alexa. Alexa tersenyum.
"Aku serius. Aku cemburu. Bagaimana pun juga, ia bukan 100% sepupumu."
Alexa menangkup wajah Michael, kemudian menatapnya, "Kamu tahu, kamu sangat menggemaskan kalau cemburu. Aku sangat suka melihatnya."
"Kalau begitu, kita menikah besok saja. Setelah itu aku akan mengurungmu di dalam kamar agar tidak ada lagi yang dekat dekat denganmu. Kamu hanya milikku. Hmm ... Kita akan tinggal di New York saja setelah menikah nanti. Kamu akan aman di sana," ucap Michael.
Alexa kembali tertawa melihat kecemburuan Michael. Namun, ia menyukai itu. Itu salah satu tanda seorang pria sangat menyayangi, mencintai wanitanya.
tak .. Tak ... Tak ...
Terdengar suara langkah kaki, membuat Michael dan Alexa kembali menoleh. Mereka melihat Giorgio yang turun dari lantai atas dengan wajah yang lesu dan dilipat layaknya origami.
"Al ... Temani aku yuk. Aku butuh refreshing."
"Ditolak lagi kah?" tanya Alexa dan Giorgio menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya Axton tak akan meloloskan proposalku. Al, bantu aku untuk mencarikan kekasih untuknya. Siapa tahu jika ia sudah punya, ia bisa sedikit mentolerir kesalahanku," ucap Giorgio.
"Coba kulihat proposalmu," pinta Alexa. Ia kasihan melihat wajah Giorgio yang sepertinya sudah lelah karena disuruh kakaknya itu untuk revisi terus menerus.
Alexa membuka dan membaca proposal itu. Ia membolak balikkan kertas satu persatu sambil tersenyum.
"Sebaiknya kamu mengganti proyeknya. Sampai zaman kuda menggigitmu juga, Kak Ax tak akan pernah menyetujuinya. Ia sangat teliti dalam setiap proyek yang ia lakukan. Ia tahu mana yang menghasilkan, mana yang tidak," jelas Alexa.
"Whattt??!!! Jangan bercanda, Al. Aku memikirkan proyek itu sudah lama dan sudah berkali kali aku merevisinya.
"Kalau kamu masih mau bekerja sama dengan Kak Ax, sebaiknya kami mendengarkanku. Aku sangat tahu apa yang kakakku sukai, kecuali masalah wanita," ucap Alexa tertawa.
__ADS_1
"Kalau itu juga aku tak tahu, malah ku rasa ia tak menyukai wanita. Karena itulah, selama Axton belum menikah ... Maka aku akan aman," ucap Giorgio mengelus dadanya.
"Sayang, ayo kita makan siang," ajak Michael. Ia tak ingin Alexa berlama lama berbicara dengan Giorgio.
"Aku ikut," ucap Giorgio.
"Tidak!"
*****
"Apa anda siap, Nyonya?" tanya dokter.
Millie memegang jemarinya dan meremasnya. Ada sedikit ketakutan di dalam dirinya, namun bagaimana pun juga ia harus melakukan ini. Ia tak mungkin melanjutkan kehamilannya.
Apa nanti kata orang orang? Butiknya yang sepi akan semakin hancur jika semua mengetahui kalau ia hamil di luar nikah.
"Saya siap."
Millie akhirnya dibawa ke sebuah ruangan dengan menggunakan brankar. Dengan sisa uang yang ia miliki, ia menjalankan rencana ini. Setelah ini, ia akan fokus kembali mengumpulkan uang.
Sebuah klinik kecil dipilih Millie sebagai tempat untuk menggugurkan kandungannya. Selain karena keuangannya yang terbatas, ia juga tak mungkin melakukannya di rumah sakit besar. Para dokter pasti terikat dengan sumpah dan tak mungkin melakukan aborsi.
Millie sudah pernah melakukan aborsi sebelumnya, di tempat yang sama. Jadi, ia sudah sangat yakin untuk melakukannya. Dokter mengeluarkan sebuah suntikam untuk melakukan bius. Bius yang dilakukan hanyalah bius lokal saja.
"Dok?" seorang perawat mulai bertanya ketika darah yang keluar sudah mulai banyak.
"Segera hubungi ambulan," perintah sang dokter.
Perawat itu pun segera keluar dari ruangan untuk menghubungi ambulan. Wajahnya yang panik membuat Millie yang tak dibius total menjadi ikut panik.
"Apa yang terjadi?" tanya Millie.
"Tidak ada apa apa, Nyonya. Tenanglah," ucap sang dokter mencoba menenangkan, namun tetap terdengar nada takut dalam bicaranya.
Ambulan yang dihubungi belum juga datang, namun efek obat bius mulai menghilang sedikit demi sedikit. Millie mulai merasakan sakit yang tak tertahankan.
__ADS_1
"Dok, ambulannya datang!" teriak sang perawat sambil membuka pintu.
🧡 🧡 🧡