
Tak butuh waktu lama untuk Zero mencari keberadaan Neo. Dengan kemampuannya di bidang IT, ia langsung mendapatkan posisi Neo berada. Ia pun meminjam helikopter milik Keluarga Williams untuk pergi ke Kota tempat Neo berada.
Kini ia berdiri di depan sebuah cafe yang terlihat sangat ramai. Ia masuk ke dalam cafe tersebut, namun salah seorang pegawai di sana langsung menghampirinya.
"Maaf, Tuan. Cafe ini sedang di booking untuk acara ulang tahun. Anda bisa kembali besok untuk menikmati hidangan kami besok," ucap pegawai itu.
"Ah Tidak. Aku bukan ingin makan. Aku ingin bertemu seseorang, ia bekerja di sini."
"Jam kerja kami hingga pukul 11, mungkin anda bisa menunggu hingga kami selesai bekerja."
"Baiklah. Bolehkah aku menunggu di sana?" tanya Zero menunjuk salah satu kursi.
"Tentu saja, Tuan. Silakan."
Zero menunggu Neo di sebuah meja yang posisinya sangat dekat dengan pintu masuk/keluar. Ia melihat ke sekeliling dan merasa aneh dengan Neo. Mengapa ia membuang karirnya di Perusahaan Thomas dan datang ke kota itu hanya untuk bekerja seperti itu.
Semakin malam, cafe semakin sepi karena para tamu yang menghadiri acara ulang tahun telah pulanh satu persatu. Zero masih betah berada di sana dan menunggu Neo.
Ketika waktu telah menunjukkan pukul 11 malam, matanya tertuju pada sebuah pintu yang menghubungkan antara dapur dengan area tamu. Ia melihat sosok Neo yang baru saja keluar dari dapur, kini tengah melihatnya dengan tatapan kaget.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Neo setelah berada dekat dengan Zero.
"Hal itulah yang ingin kutanyakan padamu. Apa yang kamu lakukan di sini?" Zero bertanya balik.
"Bekerja," jawab Neo singkat.
"Aku tahu kamu bekerja. Tapi mengapa? Mengapa kamu membuang karirmu yang bagus hanya untuk bekerja di kota ini?" Zero tak mengerti sama sekali apa yang dipikirkan oleh Neo.
Neo tersenyum, "Bukankah aku pernah bercerita padamu tentang wanita yang tak mau memberi maaf padaku."
"Lalu?"
__ADS_1
"Akhirnya ia memberikan maafnya padaku, tapi dengan syarat bahwa aku tidak boleh muncul lagi di hadapannya."
"Tapi itu bukan alasan untuk berpindah kerja apalagi berpindah kota," ucap Neo.
"Ya, itu adalah alasan yang cukup bagiku. Saat ini hidupku lebih tenang."
"Apa kamu tidak memikirkan Bu Ani? Kamu tidak memberikannya kabar sejak kamu berada di sini. Anak anak panti pun merindukanmu."
"Aku akan selalu mengirimkan uang pada mereka. Tapi, untuk mengunjungi mereka, aku belum bisa. Maukah kamu menggantikanku sementara waktu?" tanya Neo.
"Aku akan mengunjungi mereka, tapi tak bisa terlalu sering," jawab Zero.
"Tidak mengapa. Aku akan menghubungi mereka nanti."
Zero melihat perbedaan pada diri Neo. Saat ini pria itu terlihat lebih tenang, meskipun wajahnya terlihat sangat lelah.
"Kamu yakin tak ingin kembali? Mereka membutuhkanmu di sana."
"Tapi jika ada dirimu, akan lebih baik."
"Tidak. Di sini akan lebih baik."
Zero tak memaksa Neo lagi, setidaknya ia tahu alasan Neo berada di sana. Mungkin jika nanti keadaan sudah lebih baik, Neo akan kembali.
*****
Mentari Kota New York mulai menampakkan sinar dan cahayanya. Sudah hampir 1 bulan Alexa dan Michael kembali ke sana. Mereka juga sudah kembali pada aktivitas mereka.
"Sayang ...," Neo yang sudah berpakaian rapi dan hendak pergi ke klinik, menghampiri Alexa yang masih tertidur. Biasa istrinya itu akan bangun lebih awal dan menyiapkan keperluan miliknya, namun tidak pagi ini.
"Kamu kelelahan karena aktivitas kita semalam?" Michael membelai lembut wajah Alexa dan mencium pipinya.
__ADS_1
Alexa menggeliat, sepertinya mulai terganggu tidurnya dengan apa yang dilakukan oleh Michael. Alexa yang awalnya tidur menyamping, kini terlentang. Hal ini membuat Michael tersenyum karena ia akan lebih mudah mencium bibir Alexa.
Cuppp ...
"Jangan lagi, sayang. Aku lelah," ucap Alexa, masih sambil memejamkan matanya.
"Ya, aku tak akan mengganggumu. istirahatlah, aku akan pergi ke klinik."
"Ke klinik?" mata Alexa tiba tiba membuka sempurna, "Mengapa kamu pergi ke klinik sepagi ini?"
"Ini sudah jam 9, sayang."
"Jam 9?!" Alexa kaget. Sudah lama sekali ia tak bangun sesiang ini. Ia langsung bangkit dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu istirahat saja di rumah, sayang," ucap Michael.
"Tidak, aku ada meeting siang ini."
"Baiklah, aku akan menunggumu. Aku akan mengantarkanmu ke kantor."
"Terima kasih, sayang," Alexa melongokan kepalanya melalui celah pintu dan tersenyum.
Setelah mengantarkan Alexa ke kantor, Michael langsung melajukan kendaraannya ke klinik. Kepalanya tiba tiba saja terasa begitu sakit, hingga ia terpaksa menepikan kendaraannya. Kepalanya seakan berdenyut, kemudian rasa mual mulai muncul.
Michael kembali mengemudikan kendaraannya dengan pelan hingga sampai di sebuah cafe. Ia masuk dan membeli secangkir teh hangat, untuk menghilangkan rasa mualnya.
Setelah sampai di klinik, rasa mual kembali datang. Ia langsung masuk ke dalam dan berpesan pada salah seorang perawat di sana agar tak mengganggunya dulu.
Di dalam ruang prakteknya, Michael bersandar pada kursi kerjanya. Ia memejamkan matanya karena kepalanya terus berdenyut. Ia yang merasa tak ada salah makan ataupun kurang makan, mulai berpikir apa yang menyebabkan dirinya seperti itu.
"Apa aku terlalu banyak bermain?"
__ADS_1
🧡 🧡 🧡