
JUN HAOBEI memang jarang pulang. Dia menghabiskan banyak waktu di perusahaan dan terkadang melakukan perjalanan bisnis. Dia tidak memiliki waktu untuk bersantai di rumah kecuali saat bersama Shen Yin.
Kadangkala dia akan berkultivasi untuk memperkuat dirinya agar bisa berjuang bersama Shen Yin di masa depan.
"Mulai sekarang, aku akan sering pulang," jawab pria itu lembut.
Ada istri di rumah, tentu saja Jun Haobei harus pulang dan bermanja-manja dengannya.
Shen Yin sedikit malu dan tidak mau memedulikannya lagi. Setelah menata semua barang, dia mengeluarkan beberapa benda yang akan berguna untuk kebutuhan metafisika nya.
"Aku ingin membuat web khusus untuk menerima pelanggan. Bisakah kamu meminta Li Yugang mengurusnya?"
"Tentu saja. Dia tidak akan menolak." Jun Haobei yakin.
Benar, Li Yugang tidak akan menolak permintaan Jun Haobei. Tidak akan pernah. Li Yugang selalu merasa Jun Haobei adalah atasannya sendiri.
Tapi mau bagaimana lagi, Li Yugang sangat menghargai persahabatan dan membenci pertemanan konyol tersebut. Karena bagaimanapun juga, Li Yugang selalu yang terkena sial.
"Jangan terlalu lelah," katanya.
"Aku tahu."
Shen Yin meminta Jun Haobei untuk memudahkan semua layar monitor di apartemen sebelumnya. Dia ingin memakainya di masa depan.
Jun Haobei menghubungi seseorang dengan cepat dan barang itu akhirnya tiba tak lama setelah menyuruh seseorang.
......................
__ADS_1
Pada malam harinya.
Shen Yin telah sibuk dengan semua layar monitor yang terpasang di ruang kerja baru Jun Haobei. Jadi saat bekerja di rumah, keduanya masih bisa mengontrol dan membantu.
Setelah makan malam, wanita itu menerima banyak pesanan dari orang-orang yang merasa terkena sial. Permintaan yang terlalu banyak tidak mungkin bisa selesai dalam waktu dekat. Jadi Shen Yin mengambil beberapa tugas yang menurutnya dalam kondisi darurat.
"Ini sudah malam, kembalilah ke tempat tidur." Jun Haobei berdiri di belakangnya seraya melihat tiga layar monitor yang semuanya penuh dengan permintaan.
Situs web baru saja dibuka oleh Li Yugang tapi banyak orang yang telah mempercayainya. Budaya masyarakat sekarang masih memiliki kepercayaan terhadap ahli metafisika.
Jun Haobei memintanya kembali ke kamar tidur karena malam sudah semakin larut. Wanita ini pasti akan begadang jika dia tidak menyeretnya kembali.
"Hei, tunggulah beberapa saat lagi. Aku akan membalas beberapa komentar," kata Shen Yin keras kepala.
Jun Haobei mengerutkan kening. "Sepuluh menit lagi. Setelah itu, ingatkah untuk kembali. Jika tidak, aku akan membiarkan Li Yugang untuk mengambil alih sepenuhnya."
Jun Haobei yang merasa cemburu pada monitor akhirnya kembali dengan perasaan hampa sejenak. Shen Yin hanya meliriknya sebentar dan tersenyum diam-diam.
Wanita itu tidak mengingkari janjinya. Setelah sepuluh menit, dia kembali ke kamar. Cahaya lampu tidur menerangi sekitar, sedikit redup. Saat Shen Yin melihatnya tertidur, dia diam-diam naik ke tempat tidur dan memeluknya.
Jun Haobei mengerutkan kening. Perlahan membuka matanya saat merasakan beban di samping tubuhnya sedikit mengganggu. Dia akhirnya bisa melihat Shen Yin memeluk dirinya.
"Kembali?" Jun Haobei melihat jam dinding, ini tepat sepuluh menit. Dia hanya tertidur sebentar.
"Ya. Tidurlah. Aku lelah." Shen Yin memejamkan matanya.
"Tidur? Sayang, ini malam pengantin," bisik Jun Haobei.
__ADS_1
Shen Yin membuka matanya dan menatap pria itu yang memperhatikan dirinya dengan tatapan berapi-api. Dia tertegun akhirnya buru-buru berguling untuk menjauh. Tapi Jun Haobei lebih cepat, segera melingkari pinggang wanita itu dan membawanya kembali ke sisinya.
Jun Haobei menindihnya tanpa berkata-kata.
"Haobei," kata Shen Yin. Wajahnya sedikit memerah.
Pria itu menyentuh helaian rambut Shen Yin. "Xiao Yin, mari kita punya anak lebih cepat."
"Anak? Kenapa ingin punya anak lebih cepat?" tanyanya bingung. "Jangan lupa, jiwa ku belum sepenuhnya bebas dari makhluk neraka. Apa kamu ingin anak kita menjadi tumbal?"
Jun Haobei menegang. Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin dia setega itu pada darah dagingnya sendiri. "Tidak. Kalau begitu, lupakan tentang anak. Mari kita fokus pada diri sendiri dulu," jawabnya.
Pria itu mencium bibirnya sebelum Shen Yin bisa berkata sesuatu. Tangannya merayap ke balik baju tidur satin yang dikenakan Shen Yin. Lu membuka kancing bajunya satu persatu.
Setelah waktu yang cukup lama, ciuman keduanya berakhir. Tapi pakaian Shen Yin sudah berantakan.
Jun Haobei melihat tubuh Shen Yin yang menonjol seperti ini, jakunnya berguling beberapa kali. Tenggorokannya kering.
"Xiao Yin ... Kamu benar-benar ditakdirkan untuk menyiksaku," bisiknya.
Wanita di bawahnya terlihat malu sesaat tapi tidak ragu-ragu untuk merangkul leher Jun Haobei yang kini sudah melepaskan pakaiannya.
"Haobei, apa kamu menungguku untuk ini sekarang?" godanya.
"Itu dibenarkan. Xiao Yin adalah milikku." Jun Haobei tidak ragu untuk mengakuinya.
"Aku ragu kamu melakukan ini untuk pertama kalinya. Dari mana kamu belajar?" Shen Yin curiga.
__ADS_1