
SALAH SATU rekan pria vampir yang memegang laptop juga sibuk mengetik banyak kata. Sesekali dia berpikir dan mulai mengetik lagi dengan serius.
Setidaknya, beberapa vampir yang pernah ditemui Shen Yin di hutan tersebut kini sibuk bermain gadget.
"Hei, apakah kamu yakin para manusia itu akan percaya dengan takhayul?" tanya salah satu rekannya.
"Bukankah kita nyata?"
"..." Pria vampir yang baru saja bertanya itu menggaruk kepala. Benar juga, pikirnya.
"Blog yang kita buat pasti terkenal di masa depan. Tapi jangan menulis tentang kelemahan kita di sana. Atau suatu hari nanti, kita tidak akan bisa mendapatkan mangsa," ujar salah satu dari mereka lagi memperingati.
"Tentu saja aku tahu. Aku tidak mungkin menembak kakiku sendiri. Aku jadi ingin tahu apa yang dilakukan gadis itu saat ini? Apakah kita akan pergi ke ibu kota? Sepertinya banyak makanan di sana," ujar teman lainnya.
"Tentu saja. Vampir kota itu berpura-pura menjadi vampir original. Kita pergi dan tunjukkan pada vampir kota itu, siapa kita sebenarnya!"
"Benar! Aku setuju tentang ini!"
Suara persetujuan sudah bulat dan mereka bersiap untuk pergi ke ibu kota.
Mungkin pekerjaan Shen Yin untuk membereskan para vampir ini akan lebih cepat selesai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ibu kota, Shen Yin memulihkan diri selama tiga hari dan kembali ke sekolah seperti biasa. Guru Ling membawanya ke ruang kepala sekolah untuk membicarakan sesuatu. Kurang dari seperempat jam, gadis itu keluar.
Yi Er dan Tong Yue sudah menunggu di luar ruang guru.
"Xiao Yin, apa yang guru bicarakan denganmu?" bisik Yi Er.
"Bukan masalah apa-apa. Hanya klarifikasi tentang kejadian di perkemahan." Shen Yin tidak berkata jika kepala sekolah memberinya amplop berisi yang untuk kompensasi.
Mungkin karena pihak sekolah tahu jika Shen Yin yatim piatu, jadi mencoba untuk meringankan bebannya.
Meski Shen Yin menolak pada awalnya, tapi mendengar suara ratapan kepala sekolah, dia pun menyerah. Setelah menerima amplop dan berbincang sebentar, dia keluar.
"Apakah malam ini kalian ada waktu? Mari kita makan hot pot," ajak Tong Yue.
__ADS_1
"Ah, kebetulan sekali aku ingin makanan pedas. Tapi ibu tidak akan membiarkanku pulang sendirian. Apa lagi malam hari." Yi Er menghela napas tidak berdaya.
Shen Yin menaikkan sebelah alisnya dan ingat jika topik vampir masih hangat akhir-akhir ini.
"Jangan khawatir, aku akan mengantar kalian pulang," katanya.
"Apakah tidak apa-apa?" Tong Yue khawatir.
"Tidak apa-apa." Shen Yin menyipitkan matanya saat memperhatikan Tong Yue sekilas. Lalu ekspresinya normal kembali.
Tidak buruk, pikirnya.
Setelah jam pelajaran usai, semua murid kembali ke rumah atau asrama masing-masing.
Shen Yin kembali sore harinya dan mendapati kakaknya sedang menyiapkan makan malam. Laki-laki itu mengenakan celemek merah muda bergambar kelinci dan memegang sendok sayur.
Aroma sup menguar di dapur hingga ke ruangan lainnya. Shen Yang memang tidak diragukan lagi jago memasak.
"Kenapa pulang terlambat?" tanyanya seperti seorang ibu yang curiga anaknya pulang terlambat karena kencan.
"Mampirlah sebentar ke suatu tempat." Shen Yin segera pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
"Bagaimana menurutmu tentang vampir di ibu kota?" tanyanya.
"Tentu saja harus diatasi. Tidak bisa membiarkan mereka tinggal di kawasan ramai seperti ini. Sangat berbahaya," jelas Shen Yang sambil menuangkan sup ke mangkuk besar.
Shen Yin sepertinya memikirkan sesuatu. "Bisakah vampir terlihat seperti manusia biasa?"
Shen Yang menaikkan sebelah alisnya saat meletakkan semua makanan yang dimasaknya ke meja makan.
"Kenapa kamu bertanya tentang ini?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran." Shen Yin menggelengkan kepala.
Dia ingat dengan apa yang dikatakan Kakek Liao saat berkunjung ke toko alat-alat supernaturalnya. Kakek itu menjelaskan tentang vampir, jenis serta kemampuannya. Semakin sempurna vampir itu terlihat di mata orang-orang, maka kekuatannya tidak kecil.
Vampir di hutan yang Shen Yin temui merupakan vampir asli yang mengandalkan ilmu kegelapan agar tetap hidup di dunia dengan cara ritual khusus. Karena itu, tubuh mereka berbau air mayat dan bertubuh dingin.
__ADS_1
Sementara bagi mereka yang termasuk vampir sempurna, penampilannya sama seperti manusia biasa. Untuk mempertahankan penampilannya, vampir sempurna membutuhkan banyak darah segar khusus.
"Rasanya jarang ada vampir sejenis itu. Jikalau pun, tampaknya tidak mungkin tinggal di kawasan padat penduduk. Mereka lebih suka tinggal di tempat yang tenang." Shen Yang tidak tahu apa yang dipikirkan adiknya tapi masih menjelaskan dengan tenang.
"Oh." Shen Yin tidak mengatakan apa-apa lagi dan makan lebih awal.
"Kamu mau pergi ke mana lagi? Makan terburu-buru?"
"Salah satu teman sekelas mengundangku dan Yi Er makan hot pot bersama. Mungkin malam nanti pulang sedikit terlambat," jawabnya.
"Kamu baru saja sembuh. Jangan membuat masalah yang tidak perlu di luar." Shen Yang menasihatinya.
"Aku tahu."
Setelah makan malam lebih awal, Shen Yin segera meninggalkan apartemen dan tanpa sengaja berpapasan dengan Jun Haobei. Pria itu datang untuk menemui Shen Yang jadi gadis itu tidak peduli.
Meski Jun Haobei ingin mengatakan sesuatu, tapi teringat dengan perkataan Jun Haoran tentang calon suaminya yang mungkin mengenal Shen Yin. Untuk memastikan sesuatu, dia ingin bertemu Shen Yang dan membicarakan masalah tersebut.
Sementara, Shen Yin yang telah berjalan di sepanjang trotoar pun menunggu di perempatan jalan. Ketika lampu lalu lintas berubah merah, dia menyeberang. Di seberang jalan, Tong Yue dan Yi Er telah menunggu.
Ketiganya pergi ke salah satu restoran hot pot yang tempatnya agak terpencil. Harus memasuki gang sempit untuk mencapai restoran tersebut.
Awalnya Yi Er tidak yakin jika ada restoran di tempat kecil seperti itu. Tapi siapa tahu saat ketiganya keluar gang, pemandangan di depan lebih mengejutkan lagi.
"Apakah ini sungguh restoran?" tanya Yi Er tidak percaya.
"Ya, tentu saja. Restoran ini terkenal dengan hot pot nya yang enak. Aku sudah sering datang ke sini untuk berlangganan. Ayo, malam ini aku mentraktir kalian berdua," jawab Tong Yue begitu bersemangat.
"Oke, oke! Yue Yue, kamu sangat baik!" Yi Er dalam suasana hati yang baik malam ini.
Shen Yin memperhatikan sekitar. Tempatnya sangat rapi dan bersih. Pengunjungnya juga cukup ramai. Tapi tampaknya tidak peduli sama sekali dengan keberadaan ketiganya.
Di depan restoran, tergantung lonceng dengan kertas bertulisan 'umur panjang'. Sepertinya ada banyak jimat di tempat ini yang bertujuan untuk berkah dan keselamatan semua orang.
Ketiganya masuk restoran hot pot tersebut dan memasang ruangan yang tenang. Gaya restoran cukup kuno dan pelanggan masih harus duduk di lantai beralaskan bantal khusus.
Pelayan mengantarkan daging hot pot yang telah disediakan. Yi Er dan Tong Yue mulai memasukkan daging sapi yang diiris tipis itu ke hot plate berisi kuah hot pot yang pedas dan gurih.
__ADS_1
Yi Er mengambil irisan daging sapi segar dengan sumpit dan merasa aneh pada pandangan pertama.
"Eh, kenapa aku merasa jika daging sapi ini agak aneh?" tanyanya pada mereka.